KARYA SASTRA SEBAGAI STRUKTUR:
STRUKTURALISME
Disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Sastra
Pengampu : Adyana Sunanda
Oleh :
1.
Fitri Yulianti A310130155
2.
Renti
Noviyanti A310130129
3.
Latifah Nur M A310130125
4.
Devi Ratnasari A310130148
5.
Erlina Widya S A310130128
Kelas : 1 D
Pendidikan
Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas
Muhammadiyah Surakarta
Tahun
2013
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah
segala puji syukur hanya kita panjatkan kehadirat Allah Swt atas kekuatan,
kesempatan, kesehatan dan limpahan nikmat lainnya yang telah diberikan kepada
kami, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Makalah ini dengan
judul “Karya Sastra Sebagai Struktur: Strukturalisme”. Makalah ini disusun
untuk memenuhi tugas Teori Sastra di tahun pembelajaran 2013-2014 Universitas
Muhammadiyah Surakarta dengan harapan dapat bermanfaat dan dapat menambah ilmu
pengetahuan bagi kita semua.
Kami menyadari
bahwa dalam penulisan karya tulis ini masih banyak terdapat kekurangan, seperti
pepatah mengatakan “Tiada Gading Yang Tak Retak”, oleh karena itu kami
sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak
pembaca.
Akhirnya kami
berharap, semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca atau pihak yang
membutuhkan.
Surakarta,
22 Oktober 2013
Penulis
i
DAFTAR ISI
Halaman
Judul
Kata Pengantar …………………............………………..…………………… i
Daftar
Isi…………………………………………………...………….............
ii
BAB I PENDAHULUAN……............…………………………..…..………. 1
A. Latar
Belakang……………….…..…………………………..…..... 1
B. Rumusan Masalah…………………...……...………….……......... 1
C.
Tujuan.............................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN……........…………………………….………...... 2
A. Struktur
Karya Sastra dan Lingkaran Hermeneutik.......................... 2
B. Struktur
Karya Sastra Pada Abad Kesembilanbelas......................... 2
C.
Struktur Karya Sastra Pasca Strukturalisme..................................... 5
BAB III KESIMPULAN…………………………….………….........…....... 8
Daftar
Pustaka...................................................................................................... 9
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Teori sastra merupakan salah satu
pelajaran yang dipelajari dalam studi bahasa dan sastra Indonesia. Dalam kajian
disini, penulis mencoba menulis sedikit ulasan mengenai “Karya sastra sebagai
struktur stukturalisme“ yang isinya meliputi struktur karya sastra dan
lingkaran hermeneutik, karya sastra pada abad kesembilan belas, dan struktur
karya sastra pasca strukturalisme. Diharapkan dengan membaca makalah ini
pembaca sekalian dapat memahami materi pelajaran teori sastra serta menimbulkan
minat yang tinggi bagi pembaca semua.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimanakah
struktur karya sastra dan lingkaran hermeneutik?
2. Bagaimanakah
struktur karya sastra pada abad kesembilan belas?
3. Bagaimanakah
struktur karya sastra pasca strukturalisme?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui struktur karya sastra lingkaran hermeneutik.
2. Untuk
mengetahui struktur karya sastra pada abad kesembilan belas.
3. Untuk
mengetahui struktur karya sastra pasca strukturalisme.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Struktur
Karya Sastra dan Lingkaran Hermeneutik
1.
Teori
Struktur Karya Sastra
Dalam
sebuah sistem bahasa dan sistem sastra dibahas empat pendekatan terhadap karya
sastra menurut model Abrams yaitu: 1) pendekatan obyektif, 2) pendekatan
ekspresif, 3) pendekatan pragmatik, dan, 4) pendekatan mimetik. Pendekatan
obyektif merupakan cabang ilmu pengetahuan yang setara tingkatannya dengan
puitik. Menurut Aristoteles dalam bukunya yang berjudul Poetika yang ditulis sekitar tahun 340 sebelum masehi di Athena,
mengemukakan dasar yang kuat terhadap pandangan yang menganggap karya sastra
sebagai struktur yang otonom.
2.
Struktur
Karya Sastra dan Lingkaran Hermeneutik
Hermeneutik
merupakan ilmu keahlian menginterprestasi karya sastra dan ungkapan bahasa
dalam arti yang lebih luas. Dalam praktik interprestasi sastra lingkaran itu dipecahkan
secara dialektik bertangga, dan lingkarannya bersifat spiral. Proses
interpretasi yang bertangga berdasarkan asumsi atau konvensi ataupun aksioma
bahwa teks yang di baca mempunyai kesatuan, keseluruhan, kebulatan makna dan
koherensi instrinsik.
B.
Struktur
Karya Sastra Pada Abad Kesembilanbelas
1.
Kekurangan
Minat Untuk Struktur Karya Sastra Pada Abad Kesembilanbelas
Pada
abad ke 19, dalam teori dan kritik sastra minat untuk karya demi karya tidak
dominan. Pendekatan ekspresif sangat di tonjolkan. Pendekatan lain yang di
utamakan dalam ilmu sastra pada abad ke 19 ialah sejarah sastra yang
mengabaikan karya sebagai keseluruhan makna. Terdapat dua orientasi sejarah,
yaitu meliputi:
a. Bidang
ilmu kemanusiaan
dalam bidang ilmu
kemanusiaan diteliti sebuah kasus misalnya bentuk bahasa purba, dalam waktu itu
misalnya bahasa Indo-eropa, bahasa Austronesia purba dan lain-lain, yang dengan
sendirinya ilmu bahasa menjadi cukup atomis, lebih memperhatikan sejarah
unsur-unsur bahasa (bunyi, awalan atau akhiran, etimologi kata tertentu)
b. Bidang
ilmu sastra
Para ahli menelusuri sejarah
unsur-unsur sastra meliputi: motif atau tema tertentu dilacak perkembangannya
sepanjang sejarah, sampai ke bentuk yang asli dan lain-lain.
Pendekatan yang melihat sastra
pertama-tama sebagai sarana untuk memahami aspek-aspek kebudayaan yang lebih
luas, terutama agama, sejarah atau aspek kemasyarakatan merupakan kajian yang
paling populer dalam abad ke-19.
2.
Munculnya
minat untuk struktur karya sastra
Awal
mula aliran ilmu bahasa yang disebut strukturalis merupakan dikemukakannya
kajian di bidang ilmu bahasa oleh Ferdinand de Saussure, yang membawa
perputaran perspektif yang cukup radikal dari pendekatan diakronik ke
pendekatan sinkronik.
Dalam
ilmu bahasa indonesia pendekatan struktural yang gamblang baru mulai ada dengan
karya Uhlenbeck pada tahun 1982 mengenai struktur bahasa jawa.
Di
bidang antropologi budaya pendekatan struktural muncul dengan peneliti Prancis
seperti Durkheim dan Mauss sebagai pelopornya.
3.
Aliran
Formalis di Rusia
Pada tahun 1915-1930 berlangsung penelian struktural
di bidang ilmu sastra yang dirintis oleh kelompok peneliti Rusia. Tokoh-tokohnya
antara lain Jakobson, Shklovsky, Einchenbaum, Tynjanov dan lai-lain yang
disebut kaum Formalis. Formalis disini diketahui sebagai ahli dan pengritik
sastra.
Konsep yang sangat penting dalam pandangan para
Formalis adalah konsep dominant, yakni
ciri menonjol atau utama. Menurut pendapat mereka, aspek bahasa tertentu secara
dominan menentukan ciri-ciri khas hasil sastra tertentu.
4.
Pendekatan
Struktural dan Gerakan Otonomi
Para Formalis merintis jalan untuk pendekatan
sejarah yang bersifat struktural dengan kesadaran mereka akan dinamik intrinsik
yang menjadi ciri khas sejarah sastra. Setiap karya harus diteliti dari latar
belakang karya-karya sebelumnya, sebab keistimewaannya baru dapat dipahami
sepenuhnya sebagai penyimpangan dari karya ataupun norma sebelumnya.
Konsep struktur karya sastra menguraikan dengan
sengaja teori-teori para Formalis, sebab teori ini pada prinsipnya dianut dalam
garis utamanya, oleh berbagai aliran ilmu sastra yang dapat disimpulkan dengan
sebutan strukturalis, formalis ataupun gerakan otonomi, jadi yang meneliti
karya sastra dalam otonomi, yang lepas dari latar belakang sosial, sejarah,
biografik dan lain-lain.
5.
Tentang
Analisis Struktur Karya Sastra
Pada prinsipnya analisis struktural bertujuan untuk
membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semenditel dan semendalam mungkin
keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang
bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh. Setiap karya sastra jelas
memerlukan metode analisis yang sesuai dengan sifat dan strukturnya.
Salah satu negara yang memainkan peranan yang luar
biasa mengenai bentuk strukturalis adalah Amerika Serikat, khususnya New Criticism Menurut pendekatan
terhadap ilmu sastra hampir tidak dibeda-bedakan antara kritik sastra dan teori
sastra. Di bidang pengajaran sastra, khususnya di dunia pendidikan tinggi dan
menengah New Criticism menjadi sangat
dominan. Tidak dapat disangkal bahwa penonjolan pendekatan ini mengahasilkan
kemajuan yang besar sekali baik dalam memajukan minat untuk studi sastra,
maupun untuk memperbaiki pemahaman karya sastra individual sebagai ciptaan
artistik.
6.
Kelemahan
Strukturalisme khususnya New Criticism
Dalam
perkembangan ilmu sastra, pendekatan otonom atau strukturalis dari New
Criticism tidak kebal terhadap perubahan dari dalam ataupun serangan dari luar.
Kelemahan pendekatan struktural berpangkal pada empat hal:
a. New Criticism
secara khusus dan analisis struktur karya sastra secara umum belum merupakan
teori sastra, tidak berdasarkan teori sastra yang tepat dan lengkap, bahkan
merupakan bahaya untuk mengembangkan teori sastra yang sangat perlu.
b. Karya
sastra tidak dapat diteliti secara terasing, tetapi harus dipahami dalam rangka
sistem sastra dengan latar belakang sejarah.
c. Adanya
struktur yang obyektif pada karya sastra makin disangsikan ; peranan pembaca
selaku pemberi makna dalam interpretasi karya sastra makin ditonjolkan dengan
segala konsekuensi untuk analisis struktural.
d. Analisis
yang menekankan otonomi karya sastra juga menghilangkan konteks dan fungsinya,
sehingga karya itu kehilangan relevansi sosialnya.
C.
Struktur Karya Sastra Pasca Strukturalisme
1.
Pasca
Strukturalisme
Dasar pendekatan kelompok pasca strukturalis adalah
ketakpercayaan terhadap bahasa: bahasa dianggap tidak mungkin menggambarkan
sebuah kenyataan, atau mungkin diteliti berdasarkan kenyataan. Pemakaian bahasa
dalam teks menciptakan sebuah kenyataan yang hanya terdiri dari dan dalam
bentuk bahasa, sebagai dunia tanda. Tidak ada “arti” dalam arti biasa, yaitu
sesuatu yang dapat diverifikasi atau diukur dengan norma kenyataan. Setiap teks
merupakan semacam tenunan (textum
secara harafiah berarti tenunan) yang tidak mungkin ditentukan atau ditelusuri
aritinya yang definitif.
2.
Prinsip
Intertekstualitas atau Hubungan Antar Teks
Prinsip intertekstualitas pertama kali dikembangkan
oleh peneliti Prancis Julia Kristeva. Prinsip ini pada dasarnya telah diketahui
oleh para Formalis. Maksud dari prinsip intertekstualitas adalah setiap teks
sastra dibaca dan harus dibaca dengan latar belakang teks-teks lain; tidak ada
sebuah teks pun yang sungguh-sungguh mandiri, dalam arti bahwa penciptaan dan
pembacaannya tidak dapat dilakukan tanpa adanya teks-teks lain sebagai contoh,
teladan, kerangka; tidak dalam arti bahwa teks baru hanya meneladan teks lain
atau mematuhi kerangka yang telah diberikan lebih dahulu; tetapi dalam
penyimpangan dan transformasipun model teks yang sudah ada memainkan peranan
yang penting; pemberontakan atau penyimpangan mengandaikan adanya sesuatu yang
dapat diberontaki ataupun disimpangi.
Jadi konsep intertekstualitas memainkan peranan yang
sangat penting dalam semiotik sastra, tidak hanya dalam usaha untuk sekedar
memberi interpretasi tertentu terhadap karya sastra yang konkrit saja.
3.
Kenisbian
Konsep Struktur, dan Peranan Pembaca Selaku Pemberi Makna
Bagaimanapun, struktur karya sastra bukanlah sesuatu
yang otonom dan obyektif, yang dapat diteliti dan dianalisis lepas dari
faktor-faktor dan anasir-anasir lain. Khususnya hubungan antara struktur karya
sastra dengan peranan pembaca ternyata merupakan masalah yang sangat kompleks.
Dalam praktek penelitian terbukti bahwa selalu ada
interaksi antara analisis struktural dan interpretasi makna sebuah karya. Tidak
mungkinlah kita secara obyektif melakukan analisis struktur yang kemudian
disusul oleh interpretasi subyektif. Antara analisis dengan interpretasi ada
hubungan dialektik seperti antara bagian-bagian dan keseluruhan sebuah teks dan
pembaca dalam situasi yang khas memainkan peran yang sangat penting.
4.
Analisis
Struktur dan Fungsi Kemasyarakatan Karya Sastra
Dalam visi sosiologi sastra analisis struktural yang
berpangkal pada otonomi karya sastra memungkiri hakikat sastra sebagai
pembayangan atau pencerminan kenyataan, yang bagaimanapun juga harus dibaca
dengan latar belakang kenyataan. Analisis struktur demi struktur itu sendiri
sebagai tujuan akhir ilmu sastra yang mengesampingkan karya sastra sebagai balasan
terhadap kenyataan, yang bagi individu ataupun bagi golongan atau lapisan
masyarakat tidak hanya mencerminkan kenyataan tetapi pula memberikan jawaban
alteranatif.
5.
Strukturalisme
Genetik
Strukturalisme genetik dapat disebut genetic structuralism yang dikemukakan
oleh sosiolog Prancis Lucien Goldmann, atas dasar ilmu sastra seorang Marxis
lain yang terkenal, Georg Lukacs. Goldmann mengemukakan bahwa setiap karya
sastra yang penting mempunyai structure
significative yang bersifat otonom dan imanen, yang harus digali oleh
peneliti berdasarkan analisis yang cermat. Kemaknaan itu mewakili pandangan
dunia penulis, tidak sebagai individu, tetapi sebagai wakil golongan
masyarakat.
Dalam arti ini, karya sastra dapat dipahami asalnya
dan terjadinya (genetic!) dari latar belakang struktur sosial tertentu. Maka
dari itu varian strukturalis Goldmann disebut strukturalis genetik yang
menerangkan karya sastra dari homologi, persesuaiannya dengan struktur sosial.
BAB
III
KESIMPULAN
Pendekatan
strukturalis terhadap sastra dan karya sastra tidak perlu dan tidak dapat
dimutlakkan. Pendekatan strukturalis terhadap karya sastra harus ditempatkan
dalam keseluruhan model semiotik: penulis, pembaca, kenyataan, tetapi pula
sistem sastra dan sejarah sastra semuanya harus memainkan peranannya dalam
interpretasi karya sastra yang menyeluruh. Tetapi sekaligus harus dikatakan
bahwa dalam rangka semiotik analisis struktur tetap penting dan perlu. Analisis
struktur merupakan sarana atau alat dalam proses pemberian makna dan dalam
usaha ilmiah untuk memahami proses itu dengan sesempurna mungkin.
DAFTAR
PUSTAKA
Prof. Dr. A.
Teeuw. 1984. “Sastra dan Ilmu Sastra”
Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya
Tim Pendongeng
SPA (Silaturahim Pecinta Anak-anak) Yogyakarta. 2010. Teknik Bercerita. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta
9

Tidak ada komentar:
Posting Komentar