Minggu, 21 Desember 2014

Teori Sastra [1]

KARYA SASTRA SEBAGAI STRUKTUR:
STRUKTURALISME



Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Sastra
Pengampu : Adyana Sunanda





   Oleh :
         1.        Fitri Yulianti                   A310130155
         2.        Renti Noviyanti               A310130129
         3.        Latifah Nur M                 A310130125
         4.        Devi Ratnasari                 A310130148
         5.        Erlina Widya S                A310130128
      
                    Kelas     : 1 D



Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Tahun 2013

KATA PENGANTAR

    Alhamdulillah segala puji syukur hanya kita panjatkan kehadirat Allah Swt atas kekuatan, kesempatan, kesehatan dan limpahan nikmat lainnya yang telah diberikan kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan  Makalah ini dengan judul “Karya Sastra Sebagai Struktur: Strukturalisme”. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Teori Sastra di tahun pembelajaran 2013-2014 Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan harapan dapat bermanfaat dan dapat menambah ilmu pengetahuan bagi kita semua.
    Kami menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis ini masih banyak terdapat kekurangan, seperti pepatah mengatakan “Tiada Gading Yang Tak Retak”, oleh karena itu kami sangat  mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak pembaca.
    Akhirnya kami berharap, semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca atau pihak yang membutuhkan.


                                                                              Surakarta, 22 Oktober 2013


                                                                              Penulis









i
DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar …………………............………………..……………………     i
Daftar Isi…………………………………………………...………….............     ii

BAB I  PENDAHULUAN……............…………………………..…..……….    1
            A.   Latar Belakang……………….…..…………………………..….....    1
            B.   Rumusan Masalah…………………...……...………….…….........     1
            C.   Tujuan..............................................................................................     1

BAB II     PEMBAHASAN……........…………………………….………......     2
A.       Struktur Karya Sastra dan Lingkaran Hermeneutik..........................    2
B.       Struktur Karya Sastra Pada Abad Kesembilanbelas.........................    2
C.       Struktur Karya Sastra Pasca Strukturalisme.....................................    5

BAB III   KESIMPULAN…………………………….………….........….......    8

Daftar Pustaka......................................................................................................   9











ii

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Teori sastra merupakan salah satu pelajaran yang dipelajari dalam studi bahasa dan sastra Indonesia. Dalam kajian disini, penulis mencoba menulis sedikit ulasan mengenai “Karya sastra sebagai struktur stukturalisme“ yang isinya meliputi struktur karya sastra dan lingkaran hermeneutik, karya sastra pada abad kesembilan belas, dan struktur karya sastra pasca strukturalisme. Diharapkan dengan membaca makalah ini pembaca sekalian dapat memahami materi pelajaran teori sastra serta menimbulkan minat yang tinggi bagi pembaca semua.
B.       Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah struktur karya sastra dan lingkaran hermeneutik?
2.      Bagaimanakah struktur karya sastra pada abad kesembilan belas?
3.      Bagaimanakah struktur karya sastra pasca strukturalisme?

C.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui struktur karya sastra lingkaran hermeneutik.
2.      Untuk mengetahui struktur karya sastra pada abad kesembilan belas.
3.      Untuk mengetahui struktur karya sastra pasca strukturalisme.









BAB II
PEMBAHASAN

A.      Struktur Karya Sastra dan Lingkaran Hermeneutik
1.         Teori Struktur Karya Sastra
Dalam sebuah sistem bahasa dan sistem sastra dibahas empat pendekatan terhadap karya sastra menurut model Abrams yaitu: 1) pendekatan obyektif, 2) pendekatan ekspresif, 3) pendekatan pragmatik, dan, 4) pendekatan mimetik. Pendekatan obyektif merupakan cabang ilmu pengetahuan yang setara tingkatannya dengan puitik. Menurut Aristoteles dalam bukunya yang berjudul Poetika yang ditulis sekitar tahun 340 sebelum masehi di Athena, mengemukakan dasar yang kuat terhadap pandangan yang menganggap karya sastra sebagai struktur yang otonom.

2.         Struktur Karya Sastra dan Lingkaran Hermeneutik
Hermeneutik merupakan ilmu keahlian menginterprestasi karya sastra dan ungkapan bahasa dalam arti yang lebih luas. Dalam praktik interprestasi sastra lingkaran itu dipecahkan secara dialektik bertangga, dan lingkarannya bersifat spiral. Proses interpretasi yang bertangga berdasarkan asumsi atau konvensi ataupun aksioma bahwa teks yang di baca mempunyai kesatuan, keseluruhan, kebulatan makna dan koherensi instrinsik.

B.       Struktur Karya Sastra Pada Abad Kesembilanbelas
1.      Kekurangan Minat Untuk Struktur Karya Sastra Pada Abad Kesembilanbelas
Pada abad ke 19, dalam teori dan kritik sastra minat untuk karya demi karya tidak dominan. Pendekatan ekspresif sangat di tonjolkan. Pendekatan lain yang di utamakan dalam ilmu sastra pada abad ke 19 ialah sejarah sastra yang mengabaikan karya sebagai keseluruhan makna. Terdapat dua orientasi sejarah, yaitu meliputi:
a.       Bidang ilmu kemanusiaan
dalam bidang ilmu kemanusiaan diteliti sebuah kasus misalnya bentuk bahasa purba, dalam waktu itu misalnya bahasa Indo-eropa, bahasa Austronesia purba dan lain-lain, yang dengan sendirinya ilmu bahasa menjadi cukup atomis, lebih memperhatikan sejarah unsur-unsur bahasa (bunyi, awalan atau akhiran, etimologi kata tertentu)
b.      Bidang ilmu sastra
Para ahli menelusuri sejarah unsur-unsur sastra meliputi: motif atau tema tertentu dilacak perkembangannya sepanjang sejarah, sampai ke bentuk yang asli dan lain-lain.
Pendekatan yang melihat sastra pertama-tama sebagai sarana untuk memahami aspek-aspek kebudayaan yang lebih luas, terutama agama, sejarah atau aspek kemasyarakatan merupakan kajian yang paling populer dalam abad ke-19.
2.      Munculnya minat untuk struktur karya sastra
Awal mula aliran ilmu bahasa yang disebut strukturalis merupakan dikemukakannya kajian di bidang ilmu bahasa oleh Ferdinand de Saussure, yang membawa perputaran perspektif yang cukup radikal dari pendekatan diakronik ke pendekatan sinkronik.
Dalam ilmu bahasa indonesia pendekatan struktural yang gamblang baru mulai ada dengan karya Uhlenbeck pada tahun 1982 mengenai struktur bahasa jawa.
Di bidang antropologi budaya pendekatan struktural muncul dengan peneliti Prancis seperti Durkheim dan Mauss sebagai pelopornya.
3.      Aliran Formalis di Rusia
Pada tahun 1915-1930 berlangsung penelian struktural di bidang ilmu sastra yang dirintis oleh kelompok peneliti Rusia. Tokoh-tokohnya antara lain Jakobson, Shklovsky, Einchenbaum, Tynjanov dan lai-lain yang disebut kaum Formalis. Formalis disini diketahui sebagai ahli dan pengritik sastra.
Konsep yang sangat penting dalam pandangan para Formalis adalah konsep dominant, yakni ciri menonjol atau utama. Menurut pendapat mereka, aspek bahasa tertentu secara dominan menentukan ciri-ciri khas hasil sastra tertentu.
4.      Pendekatan Struktural dan Gerakan Otonomi
Para Formalis merintis jalan untuk pendekatan sejarah yang bersifat struktural dengan kesadaran mereka akan dinamik intrinsik yang menjadi ciri khas sejarah sastra. Setiap karya harus diteliti dari latar belakang karya-karya sebelumnya, sebab keistimewaannya baru dapat dipahami sepenuhnya sebagai penyimpangan dari karya ataupun norma sebelumnya.
Konsep struktur karya sastra menguraikan dengan sengaja teori-teori para Formalis, sebab teori ini pada prinsipnya dianut dalam garis utamanya, oleh berbagai aliran ilmu sastra yang dapat disimpulkan dengan sebutan strukturalis, formalis ataupun gerakan otonomi, jadi yang meneliti karya sastra dalam otonomi, yang lepas dari latar belakang sosial, sejarah, biografik dan lain-lain.
5.      Tentang Analisis Struktur Karya Sastra
Pada prinsipnya analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semenditel dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh. Setiap karya sastra jelas memerlukan metode analisis yang sesuai dengan sifat dan strukturnya.
Salah satu negara yang memainkan peranan yang luar biasa mengenai bentuk strukturalis adalah Amerika Serikat, khususnya New Criticism Menurut pendekatan terhadap ilmu sastra hampir tidak dibeda-bedakan antara kritik sastra dan teori sastra. Di bidang pengajaran sastra, khususnya di dunia pendidikan tinggi dan menengah New Criticism menjadi sangat dominan. Tidak dapat disangkal bahwa penonjolan pendekatan ini mengahasilkan kemajuan yang besar sekali baik dalam memajukan minat untuk studi sastra, maupun untuk memperbaiki pemahaman karya sastra individual sebagai ciptaan artistik.
6.      Kelemahan Strukturalisme khususnya New Criticism
Dalam perkembangan ilmu sastra, pendekatan otonom atau strukturalis dari New Criticism tidak kebal terhadap perubahan dari dalam ataupun serangan dari luar. Kelemahan pendekatan struktural berpangkal pada empat hal:
a.       New Criticism secara khusus dan analisis struktur karya sastra secara umum belum merupakan teori sastra, tidak berdasarkan teori sastra yang tepat dan lengkap, bahkan merupakan bahaya untuk mengembangkan teori sastra yang sangat perlu.
b.      Karya sastra tidak dapat diteliti secara terasing, tetapi harus dipahami dalam rangka sistem sastra dengan latar belakang sejarah.
c.       Adanya struktur yang obyektif pada karya sastra makin disangsikan ; peranan pembaca selaku pemberi makna dalam interpretasi karya sastra makin ditonjolkan dengan segala konsekuensi untuk analisis struktural.
d.      Analisis yang menekankan otonomi karya sastra juga menghilangkan konteks dan fungsinya, sehingga karya itu kehilangan relevansi sosialnya.
C.   Struktur Karya Sastra Pasca Strukturalisme
1.      Pasca Strukturalisme
Dasar pendekatan kelompok pasca strukturalis adalah ketakpercayaan terhadap bahasa: bahasa dianggap tidak mungkin menggambarkan sebuah kenyataan, atau mungkin diteliti berdasarkan kenyataan. Pemakaian bahasa dalam teks menciptakan sebuah kenyataan yang hanya terdiri dari dan dalam bentuk bahasa, sebagai dunia tanda. Tidak ada “arti” dalam arti biasa, yaitu sesuatu yang dapat diverifikasi atau diukur dengan norma kenyataan. Setiap teks merupakan semacam tenunan (textum secara harafiah berarti tenunan) yang tidak mungkin ditentukan atau ditelusuri aritinya yang definitif.
2.      Prinsip Intertekstualitas atau Hubungan Antar Teks
Prinsip intertekstualitas pertama kali dikembangkan oleh peneliti Prancis Julia Kristeva. Prinsip ini pada dasarnya telah diketahui oleh para Formalis. Maksud dari prinsip intertekstualitas adalah setiap teks sastra dibaca dan harus dibaca dengan latar belakang teks-teks lain; tidak ada sebuah teks pun yang sungguh-sungguh mandiri, dalam arti bahwa penciptaan dan pembacaannya tidak dapat dilakukan tanpa adanya teks-teks lain sebagai contoh, teladan, kerangka; tidak dalam arti bahwa teks baru hanya meneladan teks lain atau mematuhi kerangka yang telah diberikan lebih dahulu; tetapi dalam penyimpangan dan transformasipun model teks yang sudah ada memainkan peranan yang penting; pemberontakan atau penyimpangan mengandaikan adanya sesuatu yang dapat diberontaki ataupun disimpangi.
Jadi konsep intertekstualitas memainkan peranan yang sangat penting dalam semiotik sastra, tidak hanya dalam usaha untuk sekedar memberi interpretasi tertentu terhadap karya sastra yang konkrit saja.
3.      Kenisbian Konsep Struktur, dan Peranan Pembaca Selaku Pemberi Makna
Bagaimanapun, struktur karya sastra bukanlah sesuatu yang otonom dan obyektif, yang dapat diteliti dan dianalisis lepas dari faktor-faktor dan anasir-anasir lain. Khususnya hubungan antara struktur karya sastra dengan peranan pembaca ternyata merupakan masalah yang sangat kompleks.
Dalam praktek penelitian terbukti bahwa selalu ada interaksi antara analisis struktural dan interpretasi makna sebuah karya. Tidak mungkinlah kita secara obyektif melakukan analisis struktur yang kemudian disusul oleh interpretasi subyektif. Antara analisis dengan interpretasi ada hubungan dialektik seperti antara bagian-bagian dan keseluruhan sebuah teks dan pembaca dalam situasi yang khas memainkan peran yang sangat penting.
4.      Analisis Struktur dan Fungsi Kemasyarakatan Karya Sastra
Dalam visi sosiologi sastra analisis struktural yang berpangkal pada otonomi karya sastra memungkiri hakikat sastra sebagai pembayangan atau pencerminan kenyataan, yang bagaimanapun juga harus dibaca dengan latar belakang kenyataan. Analisis struktur demi struktur itu sendiri sebagai tujuan akhir ilmu sastra yang mengesampingkan karya sastra sebagai balasan terhadap kenyataan, yang bagi individu ataupun bagi golongan atau lapisan masyarakat tidak hanya mencerminkan kenyataan tetapi pula memberikan jawaban alteranatif.
5.      Strukturalisme Genetik
Strukturalisme genetik dapat disebut genetic structuralism yang dikemukakan oleh sosiolog Prancis Lucien Goldmann, atas dasar ilmu sastra seorang Marxis lain yang terkenal, Georg Lukacs. Goldmann mengemukakan bahwa setiap karya sastra yang penting mempunyai structure significative yang bersifat otonom dan imanen, yang harus digali oleh peneliti berdasarkan analisis yang cermat. Kemaknaan itu mewakili pandangan dunia penulis, tidak sebagai individu, tetapi sebagai wakil golongan masyarakat.
Dalam arti ini, karya sastra dapat dipahami asalnya dan terjadinya (genetic!) dari latar belakang struktur sosial tertentu. Maka dari itu varian strukturalis Goldmann disebut strukturalis genetik yang menerangkan karya sastra dari homologi, persesuaiannya dengan struktur sosial.







BAB III
KESIMPULAN

Pendekatan strukturalis terhadap sastra dan karya sastra tidak perlu dan tidak dapat dimutlakkan. Pendekatan strukturalis terhadap karya sastra harus ditempatkan dalam keseluruhan model semiotik: penulis, pembaca, kenyataan, tetapi pula sistem sastra dan sejarah sastra semuanya harus memainkan peranannya dalam interpretasi karya sastra yang menyeluruh. Tetapi sekaligus harus dikatakan bahwa dalam rangka semiotik analisis struktur tetap penting dan perlu. Analisis struktur merupakan sarana atau alat dalam proses pemberian makna dan dalam usaha ilmiah untuk memahami proses itu dengan sesempurna mungkin.







DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. A. Teeuw. 1984. “Sastra dan Ilmu Sastra” Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya
Tim Pendongeng SPA (Silaturahim Pecinta Anak-anak) Yogyakarta. 2010. Teknik Bercerita. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta

































9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar