Senin, 22 Desember 2014

Fonologi [3]

FONEM SUPRASEGMENTAL


Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fonologi
Pengampu : Drs. Agus Budi Wahyudi, M.Hum





Oleh :

                   1.      Ratih Kartikasari                          ( A310130 )
                   2.      Hana Karuniawati                        ( A310130143 )
                   3.      Nurul Fatimah                              ( A310130154 )
                   4.      Fitri Yulianti                                  ( A310130155 )
                   5.      Dewi Novia Anggara                    ( A310130158 )

Kelas 3 D / Kelompok 4




PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji syukur hanya kita panjatkan kepada kehadirat Allah Swt atas semua karunia dan limpahan nikmat lainnya sehingga dapat tersusunnya makalah ini dengan judul “Fonem Suprasegmental”.
Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis ini masih banyak terdapat kekurangan, oleh karena itu penulis sangat  mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak pembaca.
Akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca atau pihak yang membutuhkan.


                                                                              Surakarta, 07 Oktober 2014


                                                                              Penulis














ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar…………………............……………….……….....................     ii
Daftar Isi…………………………………………………................................   iii

BAB I      PENDAHULUAN……............……………..…….................…....    1
A.       Latar Belakang Masalah.…….…..…………..….......................   1
B.       Rumusan Masalah…………………...……...…........................    1
C.       Tujuan Rumusan Masalah.........................................................     1

BAB II    PEMBAHASAN…….........………………………….………........     2
A.       Hakikat Fonem Suprasegmental................................................    2
B.       Jenis-jenis Fonem Suprasegmental............................................    2

BAB III  PENUTUP....……………..............................………….........….....      6
    Simpulan...........................................................................................      6

Daftar Pustaka...........................................................................................    7











iii

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan suatu sistem bunyi ujar yang telah diketahui oleh para linguis. Oleh sebab itu, objek utama kajian linguistik ialah bahasa lisan, yaitu bahasa dalam bentuk bunyi ujar. Konsekuensi logis dari keyakinan ini ialah dasar analisis cabang-cabang linguistik apa pun (fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan lainnya) yang berkiblat pada data yang bersumber dari bahasa lisan, walaupun yang dikaji sesuai dengan konsentrasinya masing-masing. Kajian mendalam mengenai bunyi-bunyi ujar diselidiki oleh cabang linguistik yang disebut fonologi.
Bahasa ujar atau bahasa lisan yang telah dipaparkan di atas tersebut merupakan suatu alat komunikasi yang digunakan sehari-hari oleh manusia. Tentunya, agar komunikasi berjalan sesuai dengan apa yang diorientasikan, bahasa tersebut harus dapat dipahami bersama. Wujud utama dari bahasa ialah bunyi. Bunyi-bunyi yang ada tersebut kemudian disebut bunyi bahasa. Berdasarkan pengucapannya, bunyi-bunyi bahasa dapat disegmentasikan atau dipisah-pisahkan atau yang biasa disebut bunyi segmental. Dalam bunyi yang dapat disegmentasikan itu terdapat unsur-unsur yang menyertainya sehingga disebut bunyi suprasegmental.

B.       Rumusan Masalah
1.      Apakah hakikat fonem suprasegmental?
2.      Apa sajakah jenis-jenis fonem suprasegmental?

C.      Tujuan
1.      Untuk mendeskripsikan hakikat fonem suprasegmental
2.      Untuk mengulas mengenai jenis-jenis fonem suprasegmental

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Hakikat Fonem Suprasegmental
            Bunyi-bunyi bahasa ketika diucapkan ada yang bisa disegmen-segmenkan, diruas-ruaskan atau dipisah-pisahkan,. Bunyi-bunyi yang bisa disegmentasikan disebut bunyi segmental. Sedangkan, menurut pendapat yang dikemukakan Muslich (2010:61) bunyi yang tidak bisa disegmen-segmenkan karena kehadiran bunyi ini selalu mengiringi atau menyertai bunyi segmental disebut bunyi suprasegmental.
            Jadi, dapat disimpulkan bahwa bunyi-bunyi yang dapat diklasifikasikan disebut bunyi segmental. Adapun bunyi suprasegmental ialah bunyi yang tidak dapat diklasifikasikan atau dipisah-pisahkan sebab bunyi ini selalu mengiringi bunyi segmental.

B.       Jenis-jenis Fonem Suprasegmental
            Menurut para fonetisi, bunyi-bunyi atau fonem suprasegmental dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu yang menyangkut aspek (a) tinggi-rendah bunyi (nada), (b) keras-lemah bunyi (tekanan), (c) panjang-pendek bunyi (tempo), dan (d) kesenyapan (jeda).
1.      Tinggi – rendah (nada, tona, pitch)
           Nada menyangkut tinggi rendahnya suatu bunyi ujaran. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor ketegangan pita suara, arus udara, dan posisi pita suara ketika bunyi itu diucapkan. Makin tegang pita suara yang disebabkan oleh kenaikan arus udara dari paru-paru, makin tinggi pula nada bunyi tersebut. Begitu juga posisi pita suara. Pita suara yang bergetar lebih cepat akan menentukan tinggi nada suara ketika berfonasi. Berikut ini merupakan nada-nada yang lazim dipakai dalam bahasa:
a.         Nada naik, yaitu nada yang meninggi, ditandai dengan [ ˊ ].
b.         Nada datar ditandai dengan [ ˉ ].
c.         Nada turun, yaitu nada yang merendah, ditandai dengan [ ˋ ].
d.        Nada turun naik, nada yang merendah kemudian meninggi, ditandai dengan     [ ˇ ].
e.         Nada naik turun, yaitu nada yang meninggi kemudian merendah, ditandai dengan [ ˆ ].
Variasi nada yang menyertai bunyi segmental dalam kalimat disebut intonasi. Intonasi variasi nada dibedakan menjadi empat:
a.       Nada rendah ditandai dengan angka 1
b.      Nada sedang ditandai dengan angka 2
c.       Nada tinggi ditandai dengan angka 3
d.      Nada sangat tinggi ditandai dengan angka 4

2.      Keras – lemah (tekanan, aksen, stress)
Tekanan menyangkut keras lunak lemahnya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan ketegangan, kekuatan arus udara sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, dengan disertai bunyi segmental dengan tekanan keras. Sedangkan, suatu bunyi segmental yang diucapkan tanpa ketegangan, kekuatan arus udara sehingga amplitudonya melebar atau sempit, pasti disertai dengan bunyi suprasegmental dengan tekanan lunak atau lemah.
Contoh dalam bahasa inggris:
1. R′efuse → tekanan pada suku kata pertama
                      Menyatakan kata benda ‘sampah’
2. Refu′se → tekanan pada suku kata terakhir
                      Menyatakan kata kerja ‘menolak’

3.      Panjang – pendek (durasi, duration)
Bunyi-bunyi segmental juga dapat dibedakan dari panjang pendeknya ketika bunyi itu diucapkan. Bunyi segmental waktu diucapkan alat-alat ucap dipertahankan cukup lama, dan disertai bunyi suprasegmental dengan ciri yang panjang. Tetapi, jika alat ucap hanya dipertahankan cukup sebentar, maka bunyi suprasegmental penyertaannya ialah dengan ciri pendek. Bunyi  panjang untuk vokoid diberi tanda satu mora, yaitu satuan waktu pengucapan, dengan tanda titik.
Tanda ini disebut mora [.] atau [..‾..]
Tanda titik satu    [.]   →  satu mora
Tanda titik dua     [:]  →  dua mora
Tanda titik tiga     [:.] →  tiga mora
Dalam bahasa-bahasa tertentu variasi panjang – pendek bunyi ini ternyata bisa membedakan makna (sebagai fonem), bahkan bermakna (sebagai morfem). Misalnya:
Arab   :           [habibi]            ‘kekasih’          Kontoid panjang
[habibi:]           ‘kekasihku’      Kontoid panjang
mempunyai makna
atau morfemis
Dalam bahasa Indonesia, aspek durasi ini tidak membedakan makna atau tidak fonemis, juga tidak mempunyai makna atau tidak morfemis.

4.      Kesenyapan (jeda, juncture)
           Jeda menyangkut perhentian bunyi dalam bahasa. Suatu bunyi segmental dalam suku kata, kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana, pastilah disertai suprasegmental perhentian disana-sini. Bunyi suprasegmental yang mengalami perhentian disana-sini disebut jeda atau persendian. Bahasa yang satu dengan yang lain, jedanya berbeda-beda, ada yang jedanya jelas, ada yang mungkin tidak jelas. Sebagai akibat dari perhentian bunyi tersebut, akan terjadi kesenyapan di antara bunyi-bunyi yang terputus itu. Kesenyapan ini bisa berada di posisi awal, tengah, dan akhir ujaran.
           Kesenyapan awal terjadi ketika bunyi akan diujarkan, misalnya ketika akan mengujarkan kalimat Ini buku terjadi kesenyapan yang tidak terbatas sebelumnya. Kesenyapan tengah terjadi antara ucapan kata-kata dalam kalimat, misalnya antara ucapan kata ini dan buku pada Ini buku; atau ucapan antarsuku kata, misalnya antara suku kata i dan ni pada kata ini, walaupun kesenyapan itu sangat singkat. Kesenyapan akhir terjadi pada akhir ujaran, misalnya ujaran akhir kalimat Ini buku terjadi kesenyapan yang tak terbatas sesudahnya.
           Kesenyapan awal dan akhir ujaran ditandai dengan palang rangkap memanjaang [#], kesenyapan di antara kata ditandai dengan palang rangkap pendek [#], sedangkan kesenyapan di antara suku kata ditandai dengan palang tunggal [+]. Dengan demikian, kalimat Ini buku kalau ditranskripsikan dengan memperhatikan kesenyapan terlihat sebagai berikut.
                       [ # i + ni # bu + ku # ]
           Kesenyapan juga bisa disebut sendi (juncture) karena kesenyapan itu sekaligus merupakan tanda batas antara bentuk-bentuk linguistik baik dalam tataran kalimat, klausa, frase, kata, morfem, maupun fonem.
Transkripsi fonetis yang lengkap mestinya juga memperhatikan aspek bunyi suprasegmental ini. Hanya saja, karena pada bahasa-bahasa tertentu bunyi-bunyi suprasegmental ini tidak fungsional dalam membedakan makna, fonetisi cenderung mengabaikannya. Hanya aspek suprasegmental yang dianggap fungisional saja yang diperhatikan.
           Dalam penuturan, keempat jenis suprasegmental tersebut selalu menyertai bunyi-bunyi segmental. Kerja sama keempat jenis suprasegmental sejak awal hingga akhir penuturan disebut intonasi. Jadi, intonasi pada dasarnya bercirikan gabungan nada, tekanan, durasi dan kesenyapan. Tidak hanya nada saja, walaupun nada memang sangat menonjol dalam intonasi ujaran.

                                     

BAB III
PENUTUP

Simpulan
              Bunyi-bunyi yang bisa disegmentasikan disebut bunyi segmental. Sedangkan, bunyi yang tidak bisa disegmen-segmenkan karena kehadiran bunyi ini selalu mengiringi atau menyertai bunyi segmental disebut bunyi suprasegmental.
              Adapun bunyi-bunyi suprasegmental dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu yang menyangkut aspek (a) tinggi-rendah bunyi (nada), (b) keras-lemah bunyi (tekanan), (c) panjang-pendek bunyi (tempo), dan (d) kesenyapan (jeda).


















DAFTAR PUSTAKA

Hernanda, Uliyati. 2009. “Bunyi Suprasegmental”. http://uliyati-ingenue.blogspot.com/2009/12/bunyi-suprasegmental.html. Diakses pada 07 Oktober 2014 pukul 13:44 WIB.
Marsono. 1999. Fonetik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Muslich, masnur. 2010. Fonologi Bahasa Indonesia; Tinjauan Deskriptif Sistem Bunyi Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Samsuri. 1987. Analisis Bahasa; Memahami Bahasa Secara Ilmiah. Jakarta: Erlangga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar