FONEM SUPRASEGMENTAL
Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi
Tugas Mata Kuliah Fonologi
Pengampu : Drs. Agus Budi Wahyudi, M.Hum
Oleh
:
1.
Ratih
Kartikasari (
A310130 )
2.
Hana
Karuniawati (
A310130143 )
3.
Nurul
Fatimah ( A310130154
)
4.
Fitri
Yulianti (
A310130155 )
5.
Dewi
Novia Anggara (
A310130158 )
Kelas
3 D / Kelompok 4
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji syukur
hanya kita panjatkan kepada kehadirat Allah Swt atas semua karunia dan limpahan
nikmat lainnya sehingga dapat tersusunnya makalah ini dengan judul “Fonem
Suprasegmental”.
Dalam penyusunan makalah ini penulis
menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis ini masih banyak terdapat
kekurangan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari berbagai pihak pembaca.
Akhirnya penulis berharap, semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi para pembaca atau pihak yang membutuhkan.
Surakarta,
07 Oktober 2014
Penulis
ii
DAFTAR ISI
Halaman
Judul
Kata Pengantar…………………............……………….………..................... ii
Daftar
Isi…………………………………………………................................ iii
BAB I PENDAHULUAN……............……………..…….................….... 1
A.
Latar Belakang Masalah.…….…..…………..…....................... 1
B.
Rumusan Masalah…………………...……...…........................ 1
C.
Tujuan Rumusan Masalah......................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN…….........………………………….………........ 2
A.
Hakikat Fonem Suprasegmental................................................ 2
B.
Jenis-jenis Fonem
Suprasegmental............................................ 2
BAB III PENUTUP....……………..............................………….........…..... 6
Simpulan........................................................................................... 6
Daftar Pustaka........................................................................................... 7
iii
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Bahasa merupakan
suatu sistem bunyi ujar yang telah diketahui oleh para linguis. Oleh sebab itu,
objek utama kajian linguistik ialah bahasa lisan, yaitu bahasa dalam bentuk
bunyi ujar. Konsekuensi logis dari keyakinan ini ialah dasar analisis
cabang-cabang linguistik apa pun (fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan
lainnya) yang berkiblat pada data yang bersumber dari bahasa lisan, walaupun
yang dikaji sesuai dengan konsentrasinya masing-masing. Kajian mendalam
mengenai bunyi-bunyi ujar diselidiki oleh cabang linguistik yang disebut
fonologi.
Bahasa ujar atau
bahasa lisan yang telah dipaparkan di atas tersebut merupakan suatu alat
komunikasi yang digunakan sehari-hari oleh manusia. Tentunya, agar komunikasi
berjalan sesuai dengan apa yang diorientasikan, bahasa tersebut harus dapat
dipahami bersama. Wujud utama dari bahasa ialah bunyi. Bunyi-bunyi yang ada tersebut
kemudian disebut bunyi bahasa. Berdasarkan pengucapannya, bunyi-bunyi bahasa
dapat disegmentasikan atau dipisah-pisahkan atau yang biasa disebut bunyi
segmental. Dalam bunyi yang dapat disegmentasikan itu terdapat unsur-unsur yang
menyertainya sehingga disebut bunyi suprasegmental.
B. Rumusan Masalah
1.
Apakah hakikat fonem suprasegmental?
2.
Apa sajakah jenis-jenis fonem
suprasegmental?
C. Tujuan
1.
Untuk mendeskripsikan hakikat fonem
suprasegmental
2.
Untuk mengulas mengenai jenis-jenis
fonem suprasegmental
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Fonem Suprasegmental
Bunyi-bunyi bahasa ketika diucapkan
ada yang bisa disegmen-segmenkan, diruas-ruaskan atau dipisah-pisahkan,.
Bunyi-bunyi yang bisa disegmentasikan disebut bunyi segmental. Sedangkan,
menurut pendapat yang dikemukakan Muslich (2010:61) bunyi yang tidak bisa
disegmen-segmenkan karena kehadiran bunyi ini selalu mengiringi atau menyertai
bunyi segmental disebut bunyi suprasegmental.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa
bunyi-bunyi yang dapat diklasifikasikan disebut bunyi segmental. Adapun bunyi
suprasegmental ialah bunyi yang tidak dapat diklasifikasikan atau
dipisah-pisahkan sebab bunyi ini selalu mengiringi bunyi segmental.
B. Jenis-jenis Fonem Suprasegmental
Menurut para fonetisi, bunyi-bunyi atau
fonem suprasegmental dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu yang menyangkut
aspek (a) tinggi-rendah bunyi (nada), (b) keras-lemah bunyi (tekanan), (c)
panjang-pendek bunyi (tempo), dan (d) kesenyapan (jeda).
1.
Tinggi – rendah (nada, tona, pitch)
Nada menyangkut tinggi rendahnya
suatu bunyi ujaran. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor ketegangan pita
suara, arus udara, dan posisi pita suara ketika bunyi itu diucapkan. Makin
tegang pita suara yang disebabkan oleh kenaikan arus udara dari paru-paru, makin
tinggi pula nada bunyi tersebut. Begitu juga posisi pita suara. Pita suara yang
bergetar lebih cepat akan menentukan tinggi nada suara ketika berfonasi.
Berikut ini merupakan nada-nada yang lazim dipakai dalam bahasa:
a.
Nada naik, yaitu nada yang meninggi,
ditandai dengan [ ˊ ].
b.
Nada datar ditandai dengan [ ˉ ].
c.
Nada turun, yaitu nada yang merendah,
ditandai dengan [ ˋ ].
d.
Nada turun naik, nada yang merendah
kemudian meninggi, ditandai dengan [
ˇ ].
e.
Nada naik turun, yaitu nada yang
meninggi kemudian merendah, ditandai dengan [ ˆ ].
Variasi nada yang menyertai bunyi
segmental dalam kalimat disebut intonasi. Intonasi variasi nada dibedakan
menjadi empat:
a. Nada
rendah ditandai dengan angka 1
b. Nada
sedang ditandai dengan angka 2
c. Nada
tinggi ditandai dengan angka 3
d. Nada
sangat tinggi ditandai dengan angka 4
2.
Keras – lemah (tekanan, aksen, stress)
Tekanan
menyangkut keras lunak lemahnya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan
dengan ketegangan, kekuatan arus udara sehingga menyebabkan amplitudonya
melebar, dengan disertai bunyi segmental dengan tekanan keras. Sedangkan, suatu
bunyi segmental yang diucapkan tanpa ketegangan, kekuatan arus udara sehingga
amplitudonya melebar atau sempit, pasti disertai dengan bunyi suprasegmental
dengan tekanan lunak atau lemah.
Contoh dalam bahasa inggris:
1. R′efuse → tekanan pada suku kata pertama
Menyatakan kata benda ‘sampah’
2. Refu′se → tekanan pada suku kata terakhir
Menyatakan kata kerja ‘menolak’
1. R′efuse → tekanan pada suku kata pertama
Menyatakan kata benda ‘sampah’
2. Refu′se → tekanan pada suku kata terakhir
Menyatakan kata kerja ‘menolak’
3. Panjang
– pendek (durasi, duration)
Bunyi-bunyi segmental juga dapat dibedakan dari
panjang pendeknya ketika bunyi itu diucapkan. Bunyi segmental waktu diucapkan
alat-alat ucap dipertahankan cukup lama, dan disertai bunyi suprasegmental
dengan ciri yang panjang. Tetapi, jika alat ucap hanya dipertahankan cukup
sebentar, maka bunyi suprasegmental penyertaannya ialah dengan ciri pendek. Bunyi panjang untuk vokoid diberi tanda satu mora, yaitu satuan waktu pengucapan,
dengan tanda titik.
Tanda
ini disebut mora [.] atau [..‾..]
Tanda titik satu [.] → satu mora
Tanda titik dua [:] → dua mora
Tanda titik tiga [:.] → tiga mora
Tanda titik satu [.] → satu mora
Tanda titik dua [:] → dua mora
Tanda titik tiga [:.] → tiga mora
Dalam
bahasa-bahasa tertentu variasi panjang – pendek bunyi ini ternyata bisa
membedakan makna (sebagai fonem), bahkan bermakna (sebagai morfem). Misalnya:
Arab : [habibi] ‘kekasih’ Kontoid panjang
[habibi:] ‘kekasihku’ Kontoid panjang
mempunyai
makna
atau morfemis
Dalam bahasa Indonesia, aspek durasi ini tidak
membedakan makna atau tidak fonemis, juga tidak mempunyai makna atau tidak morfemis.
4.
Kesenyapan (jeda, juncture)
Jeda menyangkut perhentian bunyi
dalam bahasa. Suatu bunyi segmental dalam suku kata, kata, frasa, klausa,
kalimat, dan wacana, pastilah disertai suprasegmental perhentian disana-sini.
Bunyi suprasegmental yang mengalami perhentian disana-sini disebut jeda atau
persendian. Bahasa yang satu dengan yang lain, jedanya berbeda-beda, ada yang
jedanya jelas, ada yang mungkin tidak jelas. Sebagai akibat dari perhentian
bunyi tersebut, akan terjadi kesenyapan di antara bunyi-bunyi yang terputus
itu. Kesenyapan ini bisa berada di posisi awal, tengah, dan akhir ujaran.
Kesenyapan awal terjadi ketika bunyi
akan diujarkan, misalnya ketika akan mengujarkan kalimat Ini buku terjadi kesenyapan yang tidak terbatas sebelumnya.
Kesenyapan tengah terjadi antara ucapan kata-kata dalam kalimat, misalnya
antara ucapan kata ini dan buku pada Ini buku; atau ucapan antarsuku kata, misalnya antara suku kata i dan ni pada kata ini,
walaupun kesenyapan itu sangat singkat. Kesenyapan akhir terjadi pada akhir
ujaran, misalnya ujaran akhir kalimat Ini
buku terjadi kesenyapan yang tak terbatas sesudahnya.
Kesenyapan awal dan akhir ujaran
ditandai dengan palang rangkap memanjaang [#],
kesenyapan di antara kata ditandai dengan palang rangkap pendek [#], sedangkan
kesenyapan di antara suku kata ditandai dengan palang tunggal [+]. Dengan
demikian, kalimat Ini buku kalau
ditranskripsikan dengan memperhatikan kesenyapan terlihat sebagai berikut.
[ #
i + ni # bu + ku # ]
Kesenyapan juga bisa disebut sendi (juncture) karena kesenyapan itu
sekaligus merupakan tanda batas antara bentuk-bentuk linguistik baik dalam
tataran kalimat, klausa, frase, kata, morfem, maupun fonem.
Transkripsi
fonetis yang lengkap mestinya juga memperhatikan aspek bunyi suprasegmental
ini. Hanya saja, karena pada bahasa-bahasa tertentu bunyi-bunyi suprasegmental
ini tidak fungsional dalam membedakan makna, fonetisi cenderung mengabaikannya.
Hanya aspek suprasegmental yang dianggap fungisional saja yang diperhatikan.
Dalam penuturan, keempat jenis
suprasegmental tersebut selalu menyertai bunyi-bunyi segmental. Kerja sama
keempat jenis suprasegmental sejak awal hingga akhir penuturan disebut intonasi. Jadi, intonasi pada dasarnya
bercirikan gabungan nada, tekanan, durasi dan kesenyapan. Tidak hanya nada
saja, walaupun nada memang sangat menonjol dalam intonasi ujaran.
BAB
III
PENUTUP
Simpulan
Bunyi-bunyi yang bisa
disegmentasikan disebut bunyi segmental. Sedangkan, bunyi yang tidak bisa
disegmen-segmenkan karena kehadiran bunyi ini selalu mengiringi atau menyertai
bunyi segmental disebut bunyi suprasegmental.
Adapun bunyi-bunyi suprasegmental dikelompokkan menjadi
empat jenis, yaitu yang menyangkut aspek (a) tinggi-rendah bunyi (nada), (b)
keras-lemah bunyi (tekanan), (c) panjang-pendek bunyi (tempo), dan (d)
kesenyapan (jeda).
DAFTAR PUSTAKA
Hernanda,
Uliyati. 2009. “Bunyi Suprasegmental”. http://uliyati-ingenue.blogspot.com/2009/12/bunyi-suprasegmental.html.
Diakses pada 07 Oktober 2014 pukul 13:44 WIB.
Marsono.
1999. Fonetik. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Muslich, masnur. 2010. Fonologi Bahasa Indonesia; Tinjauan
Deskriptif Sistem Bunyi Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Samsuri. 1987. Analisis Bahasa; Memahami Bahasa Secara Ilmiah. Jakarta: Erlangga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar