PERIODE SASTRA “ANGKATAN BALAI PUSTAKA”
Sebuah Pembicaraan Mengenai;
Karakteristik, Sastrawan Serta
Karya-karyanya
Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Sejarah Sastra
Pengampu : Adyana Sunanda
Oleh :
Nama
: Fitri Yulianti
NIM : A310130155
Kelas : 2 D
PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah
segala puji syukur hanya kita panjatkan kepada kehadirat Allah Swt atas semua
karunia dan limpahan nikmat lainnya sehingga dapat tersusunnya Makalah ini
dengan judul Periode Sastra “Angkatan Balai Pustaka”; Sebuah Pembicaraan
Mengenai Karakteristik, Sastrawan Serta Karya-karyanya.
Dalam penyusunan
makalah ini penulis menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis ini masih
banyak terdapat kekurangan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan
kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak pembaca.
Akhirnya penulis
berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca atau pihak yang
membutuhkan.
Surakarta,
02 April 2014
Penulis
i
DAFTAR ISI
Halaman
Judul
Kata Pengantar…………………............……………….………..................... i
Daftar
Isi…………………………………………………................................ ii
BAB I PENDAHULUAN……............………………..…….................…....
1
A. Latar
Belakang……………….…..…………......…....................... 1
B. Rumusan Masalah…………………...……...…............................. 1
C. Tujuan Rumusan
Masalah............................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN……........…………………………….………........
2
A. Karakteristik Karya Sastra Angkatan Balai
Pustaka....................... 2
B. Karya-karya
Penting Angkatan Balai Pustaka....……….………... 6
C. Sastrawan
yang Berpengaruh pada Angkatan Balai Pustaka.……................................................……..….…......……...
8
BAB III KESIMPULAN…………………………….………….........…...... 11
Daftar
Pustaka..................................................................................................... 12
ii
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Periode angkatan Balai Pustaka merupakan suatu
momentum yang penting dalam perkembangan kesusastraan di Indonesia. Mengapa
demikian, sebab angkatan Balai Pustaka merupakan suatu angkatan yang didirikan
sendiri oleh penerbit Balai Pustaka dimana pada angkatan Balai Pustaka terbit
karya-karya seperti roman, novel, cerita pendek, dan drama serta puisi yang
mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam
perbendaharaan karya sastra di Indonesia pada masa ini. Adapun terciptanya
karya-karya tersebut tidak lepas dari sastrawan dan pengarang-pengarang yang
turut ikut serta mewarnai dunia sastra di Indonesia dengan karya-karya yang
dilahirkannya.
Melihat dari pengamatan tersebut, maka penulis
ingin menganalisis suatu kajian tentang periode kesusastraan angkatan Balai
Pustaka dengan tujuan dapat mengetahui lebih terperinci mengenai karakteristik karya
sastra angkatan Balai Pustaka, karya-karya penting angkatan Balai Pustaka dan
sastrawan-sastrawan yang berpengaruh pada angkatan Balai Pustaka.
B. Rumusan Masalah
1. Apa
sajakah karakteristik karya sastra angkatan Balai Pustaka?
2. Seperti
apakah contoh-contoh karya sastra penting angkatan Balai Pustaka?
3. Siapa
sajakah sastrawan-sastrawan yang berpengaruh pada angkatan Balai Pustaka?
C. Tujuan Rumusan Masalah
1. Untuk
memahami karakteristik karya sastra angkatan Balai Pustaka.
2. Untuk
memahami contoh-contoh karya sastra penting angkatan Balai Pustaka.
3. Untuk
memahami sastrawan-sastrawan yang berpengaruh pada angkatan Balai Pustaka.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Karakteristik
Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka
Menurut Sarwadi (1999:31) yang tampak menonjol pada
masa lahirnya sastra angkatan Balai Pustaka ialah cita-cita masyarakat dan
sikap hidup serta adat istiadat. Dikatakan seperti demikan karena terlihat dari
kesadaran masyarakat khususnya para penulis akan pentingnya persatuan demi
terciptanya kesatuan bangsa yang diperlihatkan melalui karya sastra yang telah
mempergunakan bahasa persatuan Indonesia akan tetapi dengan hal tersebut tidak
memperlihatkan bahwa setiap masyarakat Indonesia telah meninggalkan adat
istiadatnya namun dengan keaneka ragaman adat istiadatnya menjadikan suatu alat
untuk mempersatukan bangsa Indonesia. Berdasarkan hal tersebut maka
karakteristik yang khas dari angkatan Balai Pustaka adalah:
1. Ditinjau
dari karya sastra yang terbit pada masa itu, sebagian besar sastra angkatan
Balai Pustaka mengambil tema masalah kawin paksa. Hal itu dikarenakan menurut
masyarakat perkawinan itu urusan orang tua, pihak orang tualah yang berkuasa
sepenuhnya untuk menjodohkan anak-anaknya.
2. Latar
belakang sosial dari sastra angkatan Balai Pustaka berupa pertentangan paham
antara kaum muda dengan kaum tua. Mengambil contoh dari novel Salah Asuhan
karya Abdoel Moeis, Si Cebol Rindukan Bulan karya Aman Datuk Madjoindo, yang cenderung
memiliki rasa simpati kepada yang lama, bahwa yang baru tidak semuanya membawa
kebaikan.
3. Unsur
kebangsaan atau rasa nasionalitas pada karya sastra angkatan Balai Pustaka
belum jelas. Hal ini dikarenakan pelaku-pelaku novel angkatan Balai Pustaka
masih mencerminkan kehidupan tokoh-tokoh yang berasal dari daerah-daerah.
Sehingga cerita yang terlahirpun masih bersifat kedaerahan. Seperti pada contoh
novel Siti Nurbaya Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli yang menggambarkan
masalah yang terjadi masih bersifat kedaerahan.
. . . .
”Uang belasting? Uang apa pula itu?”
tanya Datuk Malelo dengan senyum merengut. ”Ada-ada saja kompeni itu, untuk
mencari uang. Dan siapakah yang akan susah karena aturan itu?”
. . . .
4. Peristiwa
yang diceritakan sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat. Karena dilihat
dari karya-karya pengarang pada waktu itu tergambar jelas bahwa realitas
kehidupan masyarakatlah yang diutamakan.
5. Analisis
psikologis pelakunya belum dilukiskan secara mendalam. Maksudnya, adalah gambaran
tentang kejiwaan pelaku-pelaku dari karya sastra yang terbit belum sepenuhnya
dikuakkan secara gamblang.
6. Sastra
Balai Pustaka merupakan sastra bertendes dan bersifat didaktis yaitu lebih
cenderung pada sesuatu khususnya mengenai permasalahan diatas sehingga terlihat
seolah-olah karyanya hanya itu-itu saja/monoton.
7. Bahasa
sastra Balai Pustaka adalah bahasa Indonesia pada masa permulaan perkembangan
yang pada masa itu disebut bahasa melayu umum.
8. Genre
sastra Balai Pustaka berbentuk novel, seperti Azab dan Sengsara, Salah Asuhan,
Siti Nurbaya, Salah Pilih, Sengsara Membawa Nikmat dan lain-lain. Sedangkan dari
jenis puisinya masih berupa pantun dan syair.
9. Gaya bahasanya mempergunakan
perumpamaan klise atau menirukan, pepatah, dan peribahasa. Seperti pada kutipan
dari novel Siti Nurbaya Kasih Tak Sampai
karya Marah Rusli sebagai berikut.
“Bukankah telah kukatakan dalam
pepatah: Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih? Bukankah setahun
telah engkau
ketahui untungku, karena engkau
telah mendapat mimpi tentang
nasibku itu”
10. Alur yang digunakan sebagian besar
adalah alur maju yaitu rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan
urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak ke depan terus. Namun, ada juga yang mempergunakan
alur mundur yaitu
rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian
atau cerita yang bergerak mundur (flashback). Misalnya pada novel Azab dan
Sengsara dan Di Bawah Lindungan Ka’bah.
11. Teknik penokohan dan perwatakannya
menggunakan analisis langsung. Seperti pada contoh kutipan penganalisaan
perwatakan bentuk fisik tokoh Samsulbahri dalam novel Siti Nurbaya Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli yang digambarkan
secara langsung berikut ini.
. . . .
Jika dipandang dari jauh, tentulah
akan disangka; anak muda ini seorang anak Belanda, yang hendak pulang dari
sekolah. Tetapi jika dilihat dari dekat, nyatalah ia bukan bangsa Eropa; karena
kulitnya kuning sebagai kulit langsat, rambut dan matanya hitam sebagai dawat.
Di bawah dahinya yang lebar dan tinggi, nyata kelihatan alis matanya yang tebal
dan hitam pula. Hidungnya mancung dan mulutnya halus. Badannya sedang, tak
gemuk dan tak kurus, tetapi tegap. Pada wajah mukanya yang jernih dan tenang, berbayang,
bahwa ia seorang yang lurus, tetapi keras hati; tak mudah dibantah, barang
sesuatu maksudnya. Menilik pakaian dan rumah sekolahnya, nyata ia anak seorang
yang mampu dan tertib sopannya menyatakan ia anak seorang yang berbangsa
tinggi.
. . . .
12. Amanatnya bersifat didaktis. Sifat
ini berpengaruh sekali pada gaya penceritaan dan struktur penceritaannya.
Semuanya ditujukan kepada pembaca untuk memberi nasihat. Contohnya pada kutipan
novel Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai
karya Marah Rusli berikut ini.
. . . .
Ketahuilah olehmu, Samsul, walaupun
di dalam dunia ini dapat
kita memperoleh kesenangan,
kekayaan, dan kemuliaan, akan tetapi dunia ini adalah mengandung pula segala
kesusahan, kesengsaraan, kemiskinan, dan kehinaan yang bermacam-macam rupa
bangunnya tersembunyi pada segala tempat, mengintip kurbannya setiap waktu,
siap menerkam, barang yang dekat kepadanya.
. . . .
Isi kutipan di atas memberi nasihat
kepada Samsulbahri dan pembaca untuk berhati-hati dalam hidup.
13. Pertentangan paham antara kaum tua
dengan kaum muda. Kaum tua mempertahankan adat lama, sedangkan kaum muda
menghendaki kemajuan menurut paham kehidupan modern. Seperti pada contoh novel Salah Asuhan
karya Abdoel Moeis berikut ini.
. . . .
”Ibu orang kampung dan perasaan ibu
kampung semua,” demikian ia berkata, kalau ibunya mengembangkan permadani di
beranda belakang, buat menanti tamu yang sesama tuanya. ”Di rumah gadang, di
Koto Anau, tentu boleh duduk menabur lantai sepenuh rumah, tapi di sini kita
dalam kota, tamuku orang Belanda saja.” ”Penat pinggangku duduk di kursi dan
berasa pirai kakiku duduk berjuntai, Hanafi,” sahut ibunya. ”Kesenangan ibu
hanyalah duduk di bawah, sebab semenjak ingatku duduk di bawah saja.” ”Itu
salahnya, ibu, bangsa kita dari kampung; tidak suka menurutkan putaran jaman. Lebih
suka duduk rungkuh dan duduk mengukul saja sepanjang hari. Tidak ubah dengan
kerbau bangsa kita, Bu! Dan segala sirih menyirih itu . . . brrrr!”
. . . .
Dari kutipan di atas dapat diketahui
bahwa antara tokoh Hanafi dan ibunya terjadi pertentangan paham mengenai letak
perabotan yang ada di rumahnya.
B.
Karya-karya
Penting Angkatan Balai Pustaka
Balai Pustaka merupakan badan penerbit yang diusahakan pemerintah
kolonial, tentu saja kegiatannya tidak pernah lepas dari kepentingan politik
penjajahan. Hal ini berpengaruh terhadap hasil karya bangsa Indonesia, sebab
tidak semua hasil karya bangsa Indonesia bisa diterima di Balai Pustaka,
walaupun bila ditinjau dari segi kesusastraan itu bernilai.
Adapun macam karangan penting
yang muncul pada zaman Angkatan Balai Pustaka, adalah
sebagai berikut.
1.
Azab dan
Sengsara (1920) karya Merari Siregar
Karya sastra yang dilahirkan oleh
Merari Siregar ini dimasukkan kedalam Angkatan Balai Pustaka karena:
a.
Masih berisikan tentang kawin paksa dan terdapat
pertentangan antara kaum muda dan kaum tua.
b.
Bersifat kedaerahan dan berisikan tentang
kesengsaraan.
c.
Novel ini menceritakan tentang kehidupan dua sejoli
yang tidak bisa hidup bersama. Dimana dalam novel ini dijelaskan tentang
Mariamin dan Aminudin yang tidak bisa hidup bersama karena Mariamin dijodohkan
dengan orang lain yang tidak dia cintai.
d.
Bersifat romantik, tetapi pada akhir cerita tokoh
utama dalam novel ini di matikan.
2.
Salah Asuhan karya Abdul Muis.
Salah Asuhan adalah karya sastrawan
Balai Pustaka. Roman ini diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1928. Pengarang
roman ini adalah Abdul Muis. Tema cerita ini yaitu tentang masalah ras, masalah
anak yang karena dididik ala Barat lantas sudah hendak/merasa jadi orang Barat
(khususnya menjadi bangsa Belanda). Juga mempermasalahkan tentang kesetiaan
seorang istri terhadap suaminya, walaupun sang suami sudah hampir tidak pantas
lagi untuk dipertahankan sebagai seorang suami. Serta masalah kasih sayang
seorang mertua terhadap menantunya.
3.
Siti Nurbaya karya Marah Rusli.
Siti Nurbaya adalah salah satu karya
besar sastrawan Indonesia angkatan 20-an atau angkatan Balai Pustaka. Roman ini
terbit tahun 1922. Pengarangnya adalah Marah Rusli. Tema dari Cerita ini adalah
masalah adat istiadat, masalah kawin paksa, masalah keserakahan tuan tanah dan
saudagar kaya, hak mutlak orang tua terhadap anaknya, serta masalah kasih tak
sampai.
4.
Salah Pilih karya Nur Sutan Iskandar.
Novel ini
menceritakan tentang pengalaman untuk menghadapi beberapa pilihan dalam hidup.
Kehidupan merupakan kondisi yang menerapkan hukum kausalik atau hukum sebab
akibat. Apa yang dilakukan pasti akan memberikan akibat. Oleh karena itu
haruslah kritik dan bijak dalam mengambil segala keputusan dalam hidup. Jika
tidak, maka akan terjebak dalam kesulitan hidup, bahkan kesulitan itu tidak
hanya sementara melainkan sepanjang hidup. Seseorang haruslah dapat menggunakan
akal sehat dan pikiran yang jernih pada saat menentukan keputusan hidupnya.
5.
Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati.
Novel Sengsara Membawa Nikmat yang
ditulis oleh Tulis Sutan Sati ini diterbitkan oleh Balai Pustaka (cetakan
pertama tahun 1929). Dari judulnya, Sengsara Membawa Nikmat,
tersirat akhir cerita novel ini. Menurut Teeuw (Sastra Baru Indonesia, 1980:1),
’’Buku ini menarik terutama karena hidup dan lincahnya si pengarang membawa
kita ke dalam suasana desa Minangkabau dengan kejadian sehari-hari dan segala
reaksi manusiawinya.’’ (hlm 90). Temanya sendiri lebih banyak terpusat pada
pengembaraan tokoh utamanya, Midun. Gambaran pengembaraanya sendiri terasa
lebih realistis jika dibandingkan dengan Muda Teruna karya Muhammad Kasim
yang masih terasa pengaruh bentuk hikayatnya. Begitu juga latar tempatnya
tidak lagi di seputar wilayah sumatra saja, melainkan juga di jawa (Bogor dan
Jakarta).
C.
Sastrawan
yang Berpengaruh Pada Angkatan Balai Pustaka
Bagi
perkembangan kesusastraan Indonesia, berdirinya Balai Pustaka memberikan
kesempatan dan kemungkinan kepada rakyat Indonesia untuk berkarya sekaligus
memperoleh bacaan sehat. Balai Pustaka telah memberikan dorongan maju dalam
bidang karang mengarang atau tulis-menulis. Dari sinilah kemudian muncul
pengarang-pengarang yang kemudian dikenal sebagai pelopor Angkatan Balai
Pustaka, seperti Nur Sutan Iskandar, Marah Rusli, Abdul Muis dan sebagainya. Adapun perintis puisi baru pada
masa angkatan 20 adalah Muhammad Yamin.
Beliau dipandang sebagai penyair Indonesia baru yang pertama karena ia
mengadakan pembaharuan puisi Indonesia, pembaharuannya dapat dilihat dari
kumpulan puisi Tanah Air pada tahun 1922. Nur Sutan Iskandar
dapat disebut sebagai Raja Pengarang Balai Pustaka oleh sebab banyaknya karya
tulis yang dilahirkannya pada masa tersebut.
Di bawah ini disajikan riwayat hidup para pengarang
angkatan Balai Pustaka secara singkat dan berikut nama-nama pada masa angkatan
Balai Pustaka.
1.
Muhammad Yamin
Dilahirkan 23 Agustus 1903 di Sawahlunto, Sumatra Barat,
meninggal 17 Oktober 1926 di Jakarta, pendidikannya HIS (1918), AMS (1927), dan
tamat sekolah Hakim Tinggi Jakarta (1932). Beliau pernah menjadi Menteri
Kehakiman (1951), Menteri Pengajaran, pendidikan dan kebudayaan RI (1953-1955),
Ketua Badan Pengawasan LKBN antara (1961-1962) dan Ketua Dewan Perancang
Nasional (1962). Karya-karya yang dilahirkannya yaitu Tanah Air (Kumpulan Sajak,
1922), Indonesia Tumpah Darahku (Kumpulan sajak, 1928), Kalau Dewi Tara Sudah
Berkata (Drama, 1932), dan Ken Arok dan Ken Dedes (Drama, 1934)
2.
Nur
Sutan Iskandar
Dilahirkan di Maninjau tahun 1893.
Meninggal 28 November 1975 di Jakarta. Pendidikannya adalah sekolah Melayu 11
(1908), dan sekolah Bantu (1911).
Menurut Rosidi (1968:54), Nur Sutan
Iskandar adalah pengarang Balai Pustaka dalam arti yang sesungguhnya. Karena
minat dan bakatnya pada dunia karang mengarang, ia meninggalkan kedudukannya
sebagai guru dan melamar ke Balai Pustaka menjadi anggota redaksi dan kepala
redaksi Balai Pustaka hingga pensiun. Selama bekerja di sana, Nur Sutan
Iskandar telah mengarang, menterjemahkan, menyusun, menyadur dan memperbaiki
berpuluh-puluh naskah sampai menjadi buku.
Nur Sutan Iskandar menghasilkan
sejumlah novel diantaranya yaitu Apa Dajaku Karena Aku Perempuan (1922), Tjinta
Jang Membawa Maut (1926), Salah Pilih (1928), Karena Mentua (1932), Tuba
dibalas dengan susu (1933), Hulubalang Raja (1934) dan lain-lain.
3.
Merari
Siregar
Dilahirkan 13 Juni 1896 di Siporok,
Tapanuli Selatan (Sumatra Utara). Meninggal 23 April 1940 di Kelenget, Madura.
Berpendidikan Handels-correspondent Bond A di Jakarta (1923). Pernah bekerja
sebagai guru di Medan, rumah sakit umum di Jakarta, dan Opium & Zouttreige
Kalianget. Merari Siregar dikatakan sebagai sastrawan yang penting pada
angkatan Balai Pustaka karena novelnya yakni Azab dan Sengsara (1920), lazim
dianggap sebagai awal kesusastraan Indonesia.
4.
Marah
Rusli
Dilahirkan 7 Agustus 1889 di Padang.
Meninggal 17 Januari 1968 di Bandung. Berpendidikan Sekolah Dokter hewan di
Bogor (1915), dan Dosen Sekolah Tinggi Dokter Hewan di Klaten (1948). Namanya
terkenal karena novel atau roman Siti Nurbaya pada tahun 1922 yang menjadi
acuan bagi para pengarang untuk terus menciptakan karya sastra unggul.
5.
Tulis
Sutan Sati
Dilahirkan
tahun 1928 di Bukittinggi. Meninggal tahun 1942 di Jakarta. Pernah menjadi guru
dan kemudian menjadi Redaktur Balai Pustaka (1920-1940). Beberapa karangannya yaitu Sengsara Membawa
Nikmat (1928), Tak Disangka (1929), Syair Siti Marhumah Yang Saleh (1930),
Memutuskan Pertalian (1932), dan Tak Membalas Guna (1932).
6.
Abdul
Muis
Dilahirkan pada tahun 1889 di Solok,
Sumatra Barat. Meninggal 17 Juli 1959 di Bandung. Pendidikan terakhir tamat
sekolah kedokteran (STOVIA), di Jakarta. Menjadi klerek di departemen buderwijs en eredienst dan jadi wartawan di
Bandung. Selain itu beliau juga aktif dalam syarikat islam dan pernah menjadi
anggota dewan rakyat. Namanya terkenal karena novel Salah Asuhan (1928),
Pertemuan Jodoh (1933), Surapati (1950), dan Robert Anak Surapati (1953).
7.
Muhammad
Kasim
Dilahirkan tahun 1886 di Muara
Sipongi, Tanapuli Selatan (Sumatra Utara). Pendidikannya sekolah guru sampai
tahun 1935. Ia sempat bekerja sebagai guru sekolah dasar. Kumpulan cerpennya
Teman Duduk (1936) yang lazim disebut sebagai awal tradisi kumpulan cerpen
sastra Indonesia. Bukunya yang berjudul Si Samin mendapat hadiah Sayembara Buku
Anak-anak Balai Pustaka tahun 1924, lalu terbit lagi tahun 1928 dengan judul Pemandangan
Dalam Dunia Kanak-kanak.
BAB
III
KESIMPULAN
Ditinjau dari
pengamatan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik yang khas dari angkatan
Balai Pustaka adalah karya sastra yang terbit pada masa itu, sebagian besar
sastra angkatan Balai Pustaka mengambil tema masalah kawin paksa, latar
belakang sosial dari sastra angkatan Balai Pustaka berupa pertentangan paham
antara kaum muda dengan kaum tua, unsur kebangsaan atau rasa nasionalitas pada
karya sastra angkatan Balai Pustaka belum jelas, peristiwa yang diceritakan
sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat, analisis psikologis pelakunya
belum dilukiskan secara mendalam, sastra Balai Pustaka merupakan sastra bertendes
dan bersifat didaktis, gaya
bahasanya mempergunakan perumpamaan klise atau menirukan, pepatah, dan
peribahasa dan lain sebagainya.
Adapun macam karangan
penting yang muncul pada zaman Angkatan Balai Pustaka adalah Azab dan Sengasara
karya Merari Siregar, Salah Asuhan karya Abdul Muis, Siti Nurbaya karya Marah
Rusli, Salah Pilih karya Nur Sutan Iskandar dan Sengsara Membawa Nikmat karya
Tulis Sutan Sati.
Beberapa pengarang yang
kemudian dikenal sebagai pelopor Angkatan Balai Pustaka adalah, Muhammad Yamin,
Nur Sutan Iskandar, Tulis Sutan Sati, Merari Siregar Abdul Muis, Marah Rusli
dan lain-lain.
DAFTAR
ISI
Afrimawili.
2013. “Karakteristik Sastra Angkatan Balai Pustaka”. http://afrimawili.blogspot.com/2013/01/karakteristik-sastra-angkatan-balai.html. Diakses pada 2 April 2014 pukul 14:05 WIB.
BahasaIndonesiayh.
2012. “Periodisasi Sastra Indonesia”. http://bahasaindonesiayh.blogspot.com/2012/04/periodisasi-sastra-indonesia.html. Diakses pada 2
April 2014 pukul 14:07 WIB.
Hastasa, Teater. 2013. “Sastrawan Angkatan Balai Pustaka”. http://teater-hastasa.blogspot.com/2013/04/sastrawan-angkatan-balai-pustaka.html. Diakses pada 2 April 2014 pukul 14:10 WIB.
Jafarudinbastra. 2012. “Angkatan Balai Pustaka”. http://jafarudinbastra.blogspot.com/2012/06/angkatan-balai-pustaka.html.
Diakses pada 2
April 2014 pukul 14:12 WIB.
Muzzam.
2009. “Angkatan Balai Pustaka”. http://muzzam.wordpress.com/2009/06/20/angkatan-balai-pustaka/. Diakses pada 2
April 2014 pukul 14:15 WIB.
Rampan,
Korrie Layun. 1982. Cerita Pendek
Indonesia Mutakhir; Sebuah Pembicaraan. Yogyakarta: CV Nur Cahaya.
Rani,
Supratman Abdul. 1997. Ikhtisar Roman
Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.
Rosidi,
Ajib. 1968. Ikhtisar Sejarah Sastra
Indonesia. Bandung: Binacipta.
Silfiani, Dina Anggi. 2013. “ Sinopsis Novel Salah Pilih Karya Nur”.
http://dinaanggisilfiani.blogspot.com/2013/10/sinopsis-novel-salah-pilih-karya-nur.html. Diakses pada 2 April 2014
pukul 14:17 WIB.
Untari, Mega. 2013. “Angkatan Balai Pustaka”. http://megautari291.blogspot.com/2013/03/angkatan-balai-pustaka.html.
Diakses pada 2
April 2014 pukul 14:19 WIB.
Wikipedia.
2011. “Sastra Indonesia”. http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Indonesia.
Diakses pada 27 Maret 2014 pukul 14:24 WIB.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar