Senin, 22 Desember 2014

Sejarah Sastra [2]

PERIODE SASTRA “ANGKATAN BALAI PUSTAKA”
Sebuah Pembicaraan Mengenai;
Karakteristik, Sastrawan Serta Karya-karyanya


Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Sastra

Pengampu : Adyana Sunanda




Oleh :
             Nama                :  Fitri Yulianti
             NIM                  :  A310130155
             Kelas                 :  2 D



PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014



KATA PENGANTAR

    Alhamdulillah segala puji syukur hanya kita panjatkan kepada kehadirat Allah Swt atas semua karunia dan limpahan nikmat lainnya sehingga dapat tersusunnya Makalah ini dengan judul Periode Sastra “Angkatan Balai Pustaka”; Sebuah Pembicaraan Mengenai Karakteristik, Sastrawan Serta Karya-karyanya.
    Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis ini masih banyak terdapat kekurangan, oleh karena itu penulis sangat  mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak pembaca.
    Akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca atau pihak yang membutuhkan.


                                                                              Surakarta, 02 April 2014


                                                                              Penulis












i
DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar…………………............……………….……….....................     i
Daftar Isi…………………………………………………................................    ii

BAB I  PENDAHULUAN……............………………..…….................…....    1
            A.   Latar Belakang……………….…..…………......….......................    1
            B.   Rumusan Masalah…………………...……...….............................    1
            C.   Tujuan Rumusan Masalah...............................................................    1

BAB II PEMBAHASAN……........…………………………….………........     2
A.   Karakteristik Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka.......................    2
B.   Karya-karya Penting Angkatan Balai Pustaka....……….………...     6
C.   Sastrawan yang Berpengaruh pada Angkatan Balai Pustaka.……................................................……..….…......……...    8

BAB III   KESIMPULAN…………………………….………….........…......    11

Daftar Pustaka.....................................................................................................  12











ii



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Periode angkatan Balai Pustaka merupakan suatu momentum yang penting dalam perkembangan kesusastraan di Indonesia. Mengapa demikian, sebab angkatan Balai Pustaka merupakan suatu angkatan yang didirikan sendiri oleh penerbit Balai Pustaka dimana pada angkatan Balai Pustaka terbit karya-karya seperti roman, novel, cerita pendek, dan drama serta puisi yang mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam perbendaharaan karya sastra di Indonesia pada masa ini. Adapun terciptanya karya-karya tersebut tidak lepas dari sastrawan dan pengarang-pengarang yang turut ikut serta mewarnai dunia sastra di Indonesia dengan karya-karya yang dilahirkannya.
Melihat dari pengamatan tersebut, maka penulis ingin menganalisis suatu kajian tentang periode kesusastraan angkatan Balai Pustaka dengan tujuan dapat mengetahui lebih terperinci mengenai karakteristik karya sastra angkatan Balai Pustaka, karya-karya penting angkatan Balai Pustaka dan sastrawan-sastrawan yang berpengaruh pada angkatan Balai Pustaka.


B.  Rumusan Masalah
1.      Apa sajakah karakteristik karya sastra angkatan Balai Pustaka?
2.      Seperti apakah contoh-contoh karya sastra penting angkatan Balai Pustaka?
3.      Siapa sajakah sastrawan-sastrawan yang berpengaruh pada angkatan Balai Pustaka?

C.  Tujuan Rumusan Masalah
1.      Untuk memahami karakteristik karya sastra angkatan Balai Pustaka.
2.      Untuk memahami contoh-contoh karya sastra penting angkatan Balai Pustaka.
3.      Untuk memahami sastrawan-sastrawan yang berpengaruh pada angkatan Balai Pustaka.
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Karakteristik Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka
Menurut Sarwadi (1999:31) yang tampak menonjol pada masa lahirnya sastra angkatan Balai Pustaka ialah cita-cita masyarakat dan sikap hidup serta adat istiadat. Dikatakan seperti demikan karena terlihat dari kesadaran masyarakat khususnya para penulis akan pentingnya persatuan demi terciptanya kesatuan bangsa yang diperlihatkan melalui karya sastra yang telah mempergunakan bahasa persatuan Indonesia akan tetapi dengan hal tersebut tidak memperlihatkan bahwa setiap masyarakat Indonesia telah meninggalkan adat istiadatnya namun dengan keaneka ragaman adat istiadatnya menjadikan suatu alat untuk mempersatukan bangsa Indonesia. Berdasarkan hal tersebut maka karakteristik yang khas dari angkatan Balai Pustaka adalah:
1.      Ditinjau dari karya sastra yang terbit pada masa itu, sebagian besar sastra angkatan Balai Pustaka mengambil tema masalah kawin paksa. Hal itu dikarenakan menurut masyarakat perkawinan itu urusan orang tua, pihak orang tualah yang berkuasa sepenuhnya untuk menjodohkan anak-anaknya.
2.      Latar belakang sosial dari sastra angkatan Balai Pustaka berupa pertentangan paham antara kaum muda dengan kaum tua. Mengambil contoh dari novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis, Si Cebol Rindukan Bulan karya Aman Datuk Madjoindo, yang cenderung memiliki rasa simpati kepada yang lama, bahwa yang baru tidak semuanya membawa kebaikan.
3.      Unsur kebangsaan atau rasa nasionalitas pada karya sastra angkatan Balai Pustaka belum jelas. Hal ini dikarenakan pelaku-pelaku novel angkatan Balai Pustaka masih mencerminkan kehidupan tokoh-tokoh yang berasal dari daerah-daerah. Sehingga cerita yang terlahirpun masih bersifat kedaerahan. Seperti pada contoh novel Siti Nurbaya Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli yang menggambarkan masalah yang terjadi masih bersifat kedaerahan.
. . . .
”Uang belasting? Uang apa pula itu?” tanya Datuk Malelo dengan senyum merengut. ”Ada-ada saja kompeni itu, untuk mencari uang. Dan siapakah yang akan susah karena aturan itu?”
. . . .
4.      Peristiwa yang diceritakan sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat. Karena dilihat dari karya-karya pengarang pada waktu itu tergambar jelas bahwa realitas kehidupan masyarakatlah yang diutamakan.
5.      Analisis psikologis pelakunya belum dilukiskan secara mendalam. Maksudnya, adalah gambaran tentang kejiwaan pelaku-pelaku dari karya sastra yang terbit belum sepenuhnya dikuakkan secara gamblang.
6.      Sastra Balai Pustaka merupakan sastra bertendes dan bersifat didaktis yaitu lebih cenderung pada sesuatu khususnya mengenai permasalahan diatas sehingga terlihat seolah-olah karyanya hanya itu-itu saja/monoton.
7.      Bahasa sastra Balai Pustaka adalah bahasa Indonesia pada masa permulaan perkembangan yang pada masa itu disebut bahasa melayu umum.
8.      Genre sastra Balai Pustaka berbentuk novel, seperti Azab dan Sengsara, Salah Asuhan, Siti Nurbaya, Salah Pilih, Sengsara Membawa Nikmat dan lain-lain. Sedangkan dari jenis puisinya masih berupa pantun dan syair.
9.      Gaya bahasanya mempergunakan perumpamaan klise atau menirukan, pepatah, dan peribahasa. Seperti pada kutipan dari novel Siti Nurbaya Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli sebagai berikut.
“Bukankah telah kukatakan dalam pepatah: Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih? Bukankah setahun telah engkau
ketahui untungku, karena engkau telah mendapat mimpi tentang
nasibku itu”
10.  Alur yang digunakan sebagian besar adalah alur maju yaitu rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak ke depan terus. Namun, ada juga yang mempergunakan alur mundur yaitu rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak mundur (flashback). Misalnya pada novel Azab dan Sengsara dan Di Bawah Lindungan Ka’bah.
11.  Teknik penokohan dan perwatakannya menggunakan analisis langsung. Seperti pada contoh kutipan penganalisaan perwatakan bentuk fisik tokoh Samsulbahri dalam novel Siti Nurbaya Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli yang digambarkan secara langsung berikut ini.
. . . .
Jika dipandang dari jauh, tentulah akan disangka; anak muda ini seorang anak Belanda, yang hendak pulang dari sekolah. Tetapi jika dilihat dari dekat, nyatalah ia bukan bangsa Eropa; karena kulitnya kuning sebagai kulit langsat, rambut dan matanya hitam sebagai dawat. Di bawah dahinya yang lebar dan tinggi, nyata kelihatan alis matanya yang tebal dan hitam pula. Hidungnya mancung dan mulutnya halus. Badannya sedang, tak gemuk dan tak kurus, tetapi tegap. Pada wajah mukanya yang jernih dan tenang, berbayang, bahwa ia seorang yang lurus, tetapi keras hati; tak mudah dibantah, barang sesuatu maksudnya. Menilik pakaian dan rumah sekolahnya, nyata ia anak seorang yang mampu dan tertib sopannya menyatakan ia anak seorang yang berbangsa tinggi.
. . . .
12.  Amanatnya bersifat didaktis. Sifat ini berpengaruh sekali pada gaya penceritaan dan struktur penceritaannya. Semuanya ditujukan kepada pembaca untuk memberi nasihat. Contohnya pada kutipan novel Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli berikut ini.
. . . .
Ketahuilah olehmu, Samsul, walaupun di dalam dunia ini dapat
kita memperoleh kesenangan, kekayaan, dan kemuliaan, akan tetapi dunia ini adalah mengandung pula segala kesusahan, kesengsaraan, kemiskinan, dan kehinaan yang bermacam-macam rupa bangunnya tersembunyi pada segala tempat, mengintip kurbannya setiap waktu, siap menerkam, barang yang dekat kepadanya.
. . . .
Isi kutipan di atas memberi nasihat kepada Samsulbahri dan pembaca untuk berhati-hati dalam hidup.
13.  Pertentangan paham antara kaum tua dengan kaum muda. Kaum tua mempertahankan adat lama, sedangkan kaum muda menghendaki kemajuan menurut paham kehidupan modern. Seperti pada contoh novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis berikut ini.
. . . .
”Ibu orang kampung dan perasaan ibu kampung semua,” demikian ia berkata, kalau ibunya mengembangkan permadani di beranda belakang, buat menanti tamu yang sesama tuanya. ”Di rumah gadang, di Koto Anau, tentu boleh duduk menabur lantai sepenuh rumah, tapi di sini kita dalam kota, tamuku orang Belanda saja.” ”Penat pinggangku duduk di kursi dan berasa pirai kakiku duduk berjuntai, Hanafi,” sahut ibunya. ”Kesenangan ibu hanyalah duduk di bawah, sebab semenjak ingatku duduk di bawah saja.” ”Itu salahnya, ibu, bangsa kita dari kampung; tidak suka menurutkan putaran jaman. Lebih suka duduk rungkuh dan duduk mengukul saja sepanjang hari. Tidak ubah dengan kerbau bangsa kita, Bu! Dan segala sirih menyirih itu . . . brrrr!”
. . . .
Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa antara tokoh Hanafi dan ibunya terjadi pertentangan paham mengenai letak perabotan yang ada di rumahnya.
B.  Karya-karya Penting Angkatan Balai Pustaka
Balai Pustaka merupakan badan penerbit yang diusahakan pemerintah kolonial, tentu saja kegiatannya tidak pernah lepas dari kepentingan politik penjajahan. Hal ini berpengaruh terhadap hasil karya bangsa Indonesia, sebab tidak semua hasil karya bangsa Indonesia bisa diterima di Balai Pustaka, walaupun bila ditinjau dari segi kesusastraan itu bernilai.
Adapun macam karangan penting yang muncul pada zaman Angkatan Balai Pustaka, adalah sebagai berikut.
1.      Azab dan Sengsara (1920) karya Merari Siregar
Karya sastra yang dilahirkan oleh Merari Siregar ini dimasukkan kedalam Angkatan Balai Pustaka karena:
a.       Masih berisikan tentang kawin paksa dan terdapat pertentangan antara kaum muda dan kaum tua.
b.      Bersifat kedaerahan dan berisikan tentang kesengsaraan.
c.       Novel ini menceritakan tentang kehidupan dua sejoli yang tidak bisa hidup bersama. Dimana dalam novel ini dijelaskan tentang Mariamin dan Aminudin yang tidak bisa hidup bersama karena Mariamin dijodohkan dengan orang lain yang tidak dia cintai.
d.      Bersifat romantik, tetapi pada akhir cerita tokoh utama dalam novel ini di matikan.
2.      Salah Asuhan karya Abdul Muis.
Salah Asuhan adalah karya sastrawan Balai Pustaka. Roman ini diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1928. Pengarang roman ini adalah Abdul Muis. Tema cerita ini yaitu tentang masalah ras, masalah anak yang karena dididik ala Barat lantas sudah hendak/merasa jadi orang Barat (khususnya menjadi bangsa Belanda). Juga mempermasalahkan tentang kesetiaan seorang istri terhadap suaminya, walaupun sang suami sudah hampir tidak pantas lagi untuk dipertahankan sebagai seorang suami. Serta masalah kasih sayang seorang mertua terhadap menantunya.

3.      Siti Nurbaya karya Marah Rusli.
Siti Nurbaya adalah salah satu karya besar sastrawan Indonesia angkatan 20-an atau angkatan Balai Pustaka. Roman ini terbit tahun 1922. Pengarangnya adalah Marah Rusli. Tema dari Cerita ini adalah masalah adat istiadat, masalah kawin paksa, masalah keserakahan tuan tanah dan saudagar kaya, hak mutlak orang tua terhadap anaknya, serta masalah kasih tak sampai.
4.      Salah Pilih karya Nur Sutan Iskandar.
Novel ini menceritakan tentang pengalaman untuk menghadapi beberapa pilihan dalam hidup. Kehidupan merupakan kondisi yang menerapkan hukum kausalik atau hukum sebab akibat. Apa yang dilakukan pasti akan memberikan akibat. Oleh karena itu haruslah kritik dan bijak dalam mengambil segala keputusan dalam hidup. Jika tidak, maka akan terjebak dalam kesulitan hidup, bahkan kesulitan itu tidak hanya sementara melainkan sepanjang hidup. Seseorang haruslah dapat menggunakan akal sehat dan pikiran yang jernih pada saat menentukan keputusan hidupnya.
5.      Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati.
Novel Sengsara Membawa Nikmat yang ditulis oleh Tulis Sutan Sati ini diterbitkan oleh Balai Pustaka (cetakan pertama tahun 1929). Dari judulnya, Sengsara Membawa Nikmat, tersirat akhir cerita novel ini. Menurut Teeuw (Sastra Baru Indonesia, 1980:1), ’’Buku ini menarik terutama karena hidup dan lincahnya si pengarang membawa kita ke dalam suasana desa Minangkabau dengan kejadian sehari-hari dan segala reaksi manusiawinya.’’ (hlm 90). Temanya sendiri lebih banyak terpusat pada pengembaraan tokoh utamanya, Midun. Gambaran pengembaraanya sendiri terasa lebih realistis jika dibandingkan  dengan Muda Teruna karya Muhammad Kasim yang masih terasa  pengaruh bentuk hikayatnya. Begitu juga latar tempatnya tidak lagi di seputar wilayah sumatra saja, melainkan juga di jawa (Bogor dan Jakarta).

C.  Sastrawan yang Berpengaruh Pada Angkatan Balai Pustaka
Bagi perkembangan kesusastraan Indonesia, berdirinya Balai Pustaka memberikan kesempatan dan kemungkinan kepada rakyat Indonesia untuk berkarya sekaligus memperoleh bacaan sehat. Balai Pustaka telah memberikan dorongan maju dalam bidang karang mengarang atau tulis-menulis. Dari sinilah kemudian muncul pengarang-pengarang yang kemudian dikenal sebagai pelopor Angkatan Balai Pustaka, seperti Nur Sutan Iskandar, Marah Rusli, Abdul Muis dan sebagainya. Adapun perintis puisi baru pada masa angkatan 20 adalah Muhammad Yamin. Beliau dipandang sebagai penyair Indonesia baru yang pertama karena ia mengadakan pembaharuan puisi Indonesia, pembaharuannya dapat dilihat dari kumpulan puisi Tanah Air pada tahun 1922. Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai Raja Pengarang Balai Pustaka oleh sebab banyaknya karya tulis yang dilahirkannya pada masa tersebut.
Di bawah ini disajikan riwayat hidup para pengarang angkatan Balai Pustaka secara singkat dan berikut nama-nama pada masa angkatan Balai Pustaka.
1.      Muhammad Yamin
Dilahirkan 23 Agustus 1903 di Sawahlunto, Sumatra Barat, meninggal 17 Oktober 1926 di Jakarta, pendidikannya HIS (1918), AMS (1927), dan tamat sekolah Hakim Tinggi Jakarta (1932). Beliau pernah menjadi Menteri Kehakiman (1951), Menteri Pengajaran, pendidikan dan kebudayaan RI (1953-1955), Ketua Badan Pengawasan LKBN antara (1961-1962) dan Ketua Dewan Perancang Nasional (1962). Karya-karya yang dilahirkannya yaitu Tanah Air (Kumpulan Sajak, 1922), Indonesia Tumpah Darahku (Kumpulan sajak, 1928), Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (Drama, 1932), dan Ken Arok dan Ken Dedes (Drama, 1934)
2.      Nur Sutan Iskandar
Dilahirkan di Maninjau tahun 1893. Meninggal 28 November 1975 di Jakarta. Pendidikannya adalah sekolah Melayu 11 (1908), dan sekolah Bantu (1911).
Menurut Rosidi (1968:54), Nur Sutan Iskandar adalah pengarang Balai Pustaka dalam arti yang sesungguhnya. Karena minat dan bakatnya pada dunia karang mengarang, ia meninggalkan kedudukannya sebagai guru dan melamar ke Balai Pustaka menjadi anggota redaksi dan kepala redaksi Balai Pustaka hingga pensiun. Selama bekerja di sana, Nur Sutan Iskandar telah mengarang, menterjemahkan, menyusun, menyadur dan memperbaiki berpuluh-puluh naskah sampai menjadi buku.
Nur Sutan Iskandar menghasilkan sejumlah novel diantaranya yaitu Apa Dajaku Karena Aku Perempuan (1922), Tjinta Jang Membawa Maut (1926), Salah Pilih (1928), Karena Mentua (1932), Tuba dibalas dengan susu (1933), Hulubalang Raja (1934) dan lain-lain.
3.      Merari Siregar
Dilahirkan 13 Juni 1896 di Siporok, Tapanuli Selatan (Sumatra Utara). Meninggal 23 April 1940 di Kelenget, Madura. Berpendidikan Handels-correspondent Bond A di Jakarta (1923). Pernah bekerja sebagai guru di Medan, rumah sakit umum di Jakarta, dan Opium & Zouttreige Kalianget. Merari Siregar dikatakan sebagai sastrawan yang penting pada angkatan Balai Pustaka karena novelnya yakni Azab dan Sengsara (1920), lazim dianggap sebagai awal kesusastraan Indonesia.
4.      Marah Rusli
Dilahirkan 7 Agustus 1889 di Padang. Meninggal 17 Januari 1968 di Bandung. Berpendidikan Sekolah Dokter hewan di Bogor (1915), dan Dosen Sekolah Tinggi Dokter Hewan di Klaten (1948). Namanya terkenal karena novel atau roman Siti Nurbaya pada tahun 1922 yang menjadi acuan bagi para pengarang untuk terus menciptakan karya sastra unggul.
5.      Tulis Sutan Sati
Dilahirkan tahun 1928 di Bukittinggi. Meninggal tahun 1942 di Jakarta. Pernah menjadi guru dan kemudian menjadi Redaktur Balai Pustaka (1920-1940).  Beberapa karangannya yaitu Sengsara Membawa Nikmat (1928), Tak Disangka (1929), Syair Siti Marhumah Yang Saleh (1930), Memutuskan Pertalian (1932), dan Tak Membalas Guna (1932).
6.      Abdul Muis
Dilahirkan pada tahun 1889 di Solok, Sumatra Barat. Meninggal 17 Juli 1959 di Bandung. Pendidikan terakhir tamat sekolah kedokteran (STOVIA), di Jakarta. Menjadi klerek di departemen buderwijs en eredienst dan jadi wartawan di Bandung. Selain itu beliau juga aktif dalam syarikat islam dan pernah menjadi anggota dewan rakyat. Namanya terkenal karena novel Salah Asuhan (1928), Pertemuan Jodoh (1933), Surapati (1950), dan Robert Anak Surapati (1953).

7.      Muhammad Kasim
Dilahirkan tahun 1886 di Muara Sipongi, Tanapuli Selatan (Sumatra Utara). Pendidikannya sekolah guru sampai tahun 1935. Ia sempat bekerja sebagai guru sekolah dasar. Kumpulan cerpennya Teman Duduk (1936) yang lazim disebut sebagai awal tradisi kumpulan cerpen sastra Indonesia. Bukunya yang berjudul Si Samin mendapat hadiah Sayembara Buku Anak-anak Balai Pustaka tahun 1924, lalu terbit lagi tahun 1928 dengan judul Pemandangan Dalam Dunia Kanak-kanak.




BAB III
KESIMPULAN

Ditinjau dari pengamatan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik yang khas dari angkatan Balai Pustaka adalah karya sastra yang terbit pada masa itu, sebagian besar sastra angkatan Balai Pustaka mengambil tema masalah kawin paksa, latar belakang sosial dari sastra angkatan Balai Pustaka berupa pertentangan paham antara kaum muda dengan kaum tua, unsur kebangsaan atau rasa nasionalitas pada karya sastra angkatan Balai Pustaka belum jelas, peristiwa yang diceritakan sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat, analisis psikologis pelakunya belum dilukiskan secara mendalam, sastra Balai Pustaka merupakan sastra bertendes dan bersifat didaktis, gaya bahasanya mempergunakan perumpamaan klise atau menirukan, pepatah, dan peribahasa dan lain sebagainya.
Adapun macam karangan penting yang muncul pada zaman Angkatan Balai Pustaka adalah Azab dan Sengasara karya Merari Siregar, Salah Asuhan karya Abdul Muis, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Salah Pilih karya Nur Sutan Iskandar dan Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati.
Beberapa pengarang yang kemudian dikenal sebagai pelopor Angkatan Balai Pustaka adalah, Muhammad Yamin, Nur Sutan Iskandar, Tulis Sutan Sati, Merari Siregar Abdul Muis, Marah Rusli dan lain-lain.











DAFTAR ISI
Afrimawili. 2013. “Karakteristik Sastra Angkatan Balai Pustaka”. http://afrimawili.blogspot.com/2013/01/karakteristik-sastra-angkatan-balai.html. Diakses pada 2 April 2014 pukul 14:05 WIB.
BahasaIndonesiayh. 2012. “Periodisasi Sastra Indonesia”. http://bahasaindonesiayh.blogspot.com/2012/04/periodisasi-sastra-indonesia.html. Diakses pada 2 April 2014 pukul 14:07 WIB.
Hastasa, Teater. 2013. “Sastrawan Angkatan Balai Pustaka”. http://teater-hastasa.blogspot.com/2013/04/sastrawan-angkatan-balai-pustaka.html. Diakses pada 2 April 2014 pukul 14:10 WIB.
Jafarudinbastra. 2012. “Angkatan Balai Pustaka”. http://jafarudinbastra.blogspot.com/2012/06/angkatan-balai-pustaka.html. Diakses pada 2 April 2014 pukul 14:12 WIB.
Muzzam. 2009. “Angkatan Balai Pustaka”. http://muzzam.wordpress.com/2009/06/20/angkatan-balai-pustaka/. Diakses pada 2 April 2014 pukul 14:15 WIB.
Rampan, Korrie Layun. 1982. Cerita Pendek Indonesia Mutakhir; Sebuah Pembicaraan. Yogyakarta: CV Nur Cahaya.
Rani, Supratman Abdul. 1997. Ikhtisar Roman Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.
Rosidi, Ajib. 1968. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Binacipta.
Silfiani, Dina Anggi. 2013. “ Sinopsis Novel Salah Pilih Karya Nur”. http://dinaanggisilfiani.blogspot.com/2013/10/sinopsis-novel-salah-pilih-karya-nur.html. Diakses pada 2 April 2014 pukul 14:17 WIB.
Untari, Mega. 2013. “Angkatan Balai Pustaka”. http://megautari291.blogspot.com/2013/03/angkatan-balai-pustaka.html. Diakses pada 2 April 2014 pukul 14:19 WIB.
Wikipedia. 2011. “Sastra Indonesia”. http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Indonesia. Diakses pada 27 Maret 2014 pukul 14:24 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar