Rabu, 17 Desember 2014

Teori Membaca [1]

TUGAS AKHIR
REPRODUKSI MEMBACA PEMAHAMAN
Pementasan Drama “Nenek Tercinta”


Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Semester I Teori Membaca
Pengampu : M.Fakhrur Saifudin








  

  Oleh :



Nama           :  Fitri Yulianti
NIM             :  A310130155
Kelas            :  1 D


PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014



A.    Judul
Judul dari pementasan drama yang telah diselenggarakan oleh kelas 5 D Program Studi PBSID Universitas Muhammadiyah Surakarta adalah “Nenek Tercinta” yang merupakan Sebuah Sandiwara Pendek Karya Arifin C. Noer.

B.     Sinopsis
‘NENEK TERCINTA’
Karya Arifin C. Noer

Sandiwara karya Arifin C. Noer yang berjudul “Nenek Tercinta” mengisahkan kehidupan suatu keluarga dimana terdapat seorang nenek yang tinggal bersama anaknya bernama Lastri serta buyutnya yang bernama Dudung. Lastri adalah anak nenek yang setiap hari mengurus dan merawat ibunya. Ia berwatak keras, terlebih pada perlakuan terhadap ibunya sendiri sehari-hari, acuh tak acuh, dan selalu ingin menang sendiri, serta ingin mendapat apapun semua yang menjadi keinginannya. Dudung ialah anak kecil berumur delapan tahun, merupakan cucu Lastri yang nakal, suka berbuat onar terhadap temannya dan tidak patuh dengan neneknya, juga selalu mengganggu nenek dengan mengambil kunci lemari, pintu-pintu dan peti-peti nenek. Tetapi, Lastri selalu membela Dudung ketika ia dibentak-bentak nenek dan menganggap Dudung selalu membuat tindakan yang benar.
Pada suatu hari berkunjunglah Musta ke rumah Lastri. Musta adalah adik ipar Lastri atau menantu nenek yang bersifat pemalas. Keduanya bersekongkol untuk mengguna-guna nenek. Mereka sepakat untuk memakai jasa dukun yang kabarnya sudah terkenal sampai ke penjuru pulau jawa. Saat tiba waktu dukun itu melancarkan aksinya, Laila datang dengan ketidaksetujuannya terhadap perbuatan Budenya yaitu Lastri, atas apa yang telah direncanakannya bersama Musta. Laila mengutarakan semua pendapatnya kepada Bude Lastri yang telah tega-teganya melakukan perbuatan keji dan tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang anak kepada orang yang telah melahirkan dan membesarkannya itu, tetapi tidak sedikitpun Lastri peduli dengan apa yang dicelotehkan keponakannya. Sehingga Lastri dan Musta tetap memuluskan rencananya untuk mengguna-guna nenek.
Tetapi tidak disangka-sangka pada waktu nenek divonis sang dukun akan meninggal, hal tersebut tidak terjadi tetapi malah dukun itu sendiri yang tewas di rumah Lastri dengan mengenaskan. Lastri dan Musta geram karena rencana yang dilakukannya telah gagal total tanpa hasil sedikitpun. Alhasil, Lastri, Musta, Laila, Dudung, dan semua keluarga yang dicintai nenek masih dapat hidup berdampingan bersama-sama nenek mereka yang tercinta.

C.  Pemahaman Literal
Sesuai dengan pengertian pemahaman literal yang merupakan kemampuan memahami seluruh informasi yang dinyatakan secara eksplisit atau secara menyeluruh, merupakan kegiatan sebatas mengenal dan menangkap arti yang tertera secara tersurat maka dapat disebutkan bahwa pemahaman literal yang didapat dari pementasan drama tersebut adalah sebuah cerita dengan Nenek, Lastri, Dudung, Musta, Laila, dan Mbah Dukun sebagai tokoh atau pemerannya. Lastri ialah anak nenek yang berwatak keras, ingin selalu menang sendiri, dan ingin mendapat apapun semua yang menjadi keinginannya. Buyut Nenek yang sering dipanggil ‘si kunyuk kecil’ oleh neneknya adalah Dudung. Ia adalah anak yang nakal, dan suka berbuat onar. Musta ialah mantu nenek yang pemalas, sedangkan Laila adalah cucu nenek yang berprofesi sebagai guru.
Dalam sinopsis di atas telah dipaparkan bahwa Lastri dan Musta berniat untuk mengguna-guna nenek dan menjalankan rencana dengan perantara dukun, tetapi pada akhirnya tidak berhasil dilaksanakan.
Jika dicermati dengan seksama, secara ketatabahasaan dapat ditemukan beberapa frasa idiomatis dan kata-kata bermakna konotatif yang terdapat dalam runtutan drama tersebut. Frasa-frasa tersebut juga merupakan sebuah pemahaman literal yang mungkin akan dianggap kurang berarti bagi sebagian orang. Berikut ini merupakan beberapa contohnya.

1.      Membedaki diri
2.      Membanting tulang
3.      Anak hijau
4.      Pikiran jernih
5.      Termakan ingatan
6.      Pikiran pendek
7.      Pikiran gelap
8.      Kepala yang baik
Secara gamblang, contoh-contoh tersebut akan diuraikan pada pemahaman selanjutnya, yaitu pemahaman inferensial.

D.  Pemahaman Inferensial
Pada pemahaman literal diatas telah dipaparkan sejumlah contoh kata-kata yang belum dilengkapi dengan maknanya. Berikut akan diuraikan makna kata yang sebenarnya.

1.      Membedaki diri                           :  Memprioritaskan penampilan semata.
2.      Membanting tulang                     :  Bekerja keras.
3.      Anak hijau                                   :  Anak yang belum berpengalaman.
4.      Pikiran jernih                               :  Pikiran yang runtut.
5.      Termakan ingatan                        :  Dipengaruhi ingatan.
6.      Pikiran pendek                            :  Pikiran yang kurang luas.
7.      Pikiran gelap                               :  Tidak dapat berpikir lagi, misalnya
                                                       jika sedang marah.
8.      Kepala yang baik                        :  Mempunyai budi pekerti.

 Pemahaman inferensial sendiri merupakan kemampuan memahami informasi yang dinyatakan secara tidak langsung atau tersirat. Kegiatan ini meliputi membuat generalisasi, yaitu membentuk gagasan atau simpulan umum dari suatu peristiwa atau hal.
Sepadan dengan drama yang telah tersaji diatas dapat disimpulkan pemahaman inferensialnya yaitu, pada prinsipnya telah disampaikan pesan melalui sang nenek bahwa dulu saat ia masih perawan, ia adalah perawan yang suka membanting tulang, membanting tenaga, menuai dan menumbuk padi serta berjualan di pasar. Mengkiaskan bahwa wanita zaman dahulu adalah wanita yang rajin dan pekerja keras. Lain halnya dengan wanita sekarang yang kerjanya hanya bisa membedaki dirinya, minta uang kepada kedua orang tuanya dan meninggalkan ilmu agama.
Pada akhir cerita, pemahaman inferensialnya adalah sebagaimanapun keadaan orang tua, anak tidak boleh berbuat keji dan tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang anak kepada orang yang telah melahirkan dan membesarkannya. Sebagai anak yang baik dan berbakti haruslah dapat melayani orang tua dalam keadaan apapun.

E.  Pemahaman Kritis
Kemampuan mengevaluasi materi dari drama ‘Nenek Tercinta’ merupakan yang dimaksud dalam pemahaman kritis. Dapat dikatakan bahwa materi dalam drama tersebut mengenai masalah internal kehidupan sebuah keluarga. Tema yang dikaji merupakan tema yang menarik untuk diapresiasi, terutama oleh audiens. Pada bab pemahaman literal telah diuraikan mengenai tokoh dan perwatakannya, sedangkan nilai atau amanat dari drama tersebut telah dipaparkan pada pemahaman inferensial. Mengenai alur yang digunakan adalah alur maju karena urutan rangkaian peristiwanya sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak ke depan terus. Sedangkan konflik yang disajikan dari drama tersebut sedikit kurang mengejutkan dengan akhir cerita yang belum klimaks dan masih samar-samar pemahamannya.

F.   Pemahaman Kreatif
Pemahaman kreatif yaitu kemampuan untuk mengungkapkan respon emosional dan estetis. Pada tanggapan atau respon emosional dapat dikatakan bahwa drama yang disajikan tersebut telah menyenangkan dan menyukakan hati karena bagusnya sehingga membangkitkan hasrat untuk memperhatikan serta mengindahkannya. Misalnya pada waktu drama itu berada pada satu bagian yang bersifat humoristis, jalan pikiran audiens terpengaruh dan mengekspresikannya dengan terpaut ikut tertawa.
Pada segi estetis, dapat diterangkan bahasa yang pengarang gunakan sangat menggugah dan menyentuh hati, walaupun kadang terdapat ucapan-ucapan kasar yang dilisankan tapi tidak menjadi permasalahan yang berarti karena hal tersebut dapat memberikan warna tersendiri jika ditinjau dari lingkup sudut pandang karya sastra.

G. Simpulan
Berdasarkan hasil dari uraian pemahaman-pemahaman sebelumnya dapat disimpulkan bahwa.
1.      Dari segi pemahaman literal, terdapat beberapa frasa idiomatis dan kata-kata bermakna konotatif yang terdapat dalam runtutan drama tersebut. Frasa-frasa tersebut juga merupakan sebuah pemahaman literal yang mungkin akan dianggap kurang berarti bagi sebagian orang.
2.      Dari segi pemahaman inferensial, beberapa frasa idiomatis dan kata-kata bermakna konotatif yang terdapat pada pemahaman literal dapat dipaparkan secara lengkap dengan menunjukkan unsur-unsur pesan yang terdapat dari drama tersebut.
3.       Dari segi pemahaman kritis, telah dijelaskan tema yang dikaji merupakan tema yang menarik untuk diapresiasi. Sedangkan alur yang digunakan adalah alur maju karena urutan rangkaian peristiwanya sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak ke depan terus.
4.      Dari segi pemahaman kreatif, respon emosional drama yang disajikan tersebut telah menyukakan hati sehingga membangkitkan hasrat untuk memperhatikan serta mengindahkannya. Pada segi estetis, dapat diterangkan bahasa yang pengarang gunakan sangat menggugah dan menyentuh hati.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar