TUGAS AKHIR
REPRODUKSI MEMBACA PEMAHAMAN
Pementasan Drama “Nenek Tercinta”
Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Semester I Teori Membaca
Pengampu : M.Fakhrur Saifudin
Oleh :
Nama :
Fitri Yulianti
NIM :
A310130155
Kelas :
1 D
PENDIDIKAN
BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
A. Judul
Judul dari pementasan drama yang telah
diselenggarakan oleh kelas 5 D Program Studi PBSID Universitas Muhammadiyah
Surakarta adalah “Nenek Tercinta” yang merupakan Sebuah Sandiwara Pendek Karya
Arifin C. Noer.
B. Sinopsis
‘NENEK TERCINTA’
Karya Arifin C. Noer
Sandiwara karya Arifin C. Noer yang berjudul “Nenek
Tercinta” mengisahkan kehidupan suatu keluarga dimana terdapat seorang nenek
yang tinggal bersama anaknya bernama Lastri serta buyutnya yang bernama Dudung.
Lastri adalah anak nenek yang setiap hari mengurus dan merawat ibunya. Ia
berwatak keras, terlebih pada perlakuan terhadap ibunya sendiri sehari-hari,
acuh tak acuh, dan selalu ingin menang sendiri, serta ingin mendapat apapun
semua yang menjadi keinginannya. Dudung ialah anak kecil berumur delapan tahun,
merupakan cucu Lastri yang nakal, suka berbuat onar terhadap temannya dan tidak
patuh dengan neneknya, juga selalu mengganggu nenek dengan mengambil kunci
lemari, pintu-pintu dan peti-peti nenek. Tetapi, Lastri selalu membela Dudung
ketika ia dibentak-bentak nenek dan menganggap Dudung selalu membuat tindakan
yang benar.
Pada suatu hari berkunjunglah Musta ke rumah Lastri.
Musta adalah adik ipar Lastri atau menantu nenek yang bersifat pemalas.
Keduanya bersekongkol untuk mengguna-guna nenek. Mereka sepakat untuk memakai
jasa dukun yang kabarnya sudah terkenal sampai ke penjuru pulau jawa. Saat tiba
waktu dukun itu melancarkan aksinya, Laila datang dengan ketidaksetujuannya
terhadap perbuatan Budenya yaitu Lastri, atas apa yang telah direncanakannya
bersama Musta. Laila mengutarakan semua pendapatnya kepada Bude Lastri yang
telah tega-teganya melakukan perbuatan keji dan tidak sepantasnya dilakukan oleh
seorang anak kepada orang yang telah melahirkan dan membesarkannya itu, tetapi
tidak sedikitpun Lastri peduli dengan apa yang dicelotehkan keponakannya.
Sehingga Lastri dan Musta tetap memuluskan rencananya untuk mengguna-guna
nenek.
Tetapi tidak disangka-sangka pada waktu nenek
divonis sang dukun akan meninggal, hal tersebut tidak terjadi tetapi malah
dukun itu sendiri yang tewas di rumah Lastri dengan mengenaskan. Lastri dan
Musta geram karena rencana yang dilakukannya telah gagal total tanpa hasil
sedikitpun. Alhasil, Lastri, Musta, Laila, Dudung, dan semua keluarga yang
dicintai nenek masih dapat hidup berdampingan bersama-sama nenek mereka yang
tercinta.
C. Pemahaman
Literal
Sesuai dengan pengertian pemahaman literal yang
merupakan kemampuan memahami seluruh informasi yang dinyatakan secara eksplisit
atau secara menyeluruh, merupakan kegiatan sebatas mengenal dan menangkap arti
yang tertera secara tersurat maka dapat disebutkan bahwa pemahaman literal yang
didapat dari pementasan drama tersebut adalah sebuah cerita dengan Nenek,
Lastri, Dudung, Musta, Laila, dan Mbah Dukun sebagai tokoh atau pemerannya.
Lastri ialah anak nenek yang berwatak keras, ingin selalu menang sendiri, dan
ingin mendapat apapun semua yang menjadi keinginannya. Buyut Nenek yang sering
dipanggil ‘si kunyuk kecil’ oleh neneknya adalah Dudung. Ia adalah anak yang
nakal, dan suka berbuat onar. Musta ialah mantu nenek yang pemalas, sedangkan
Laila adalah cucu nenek yang berprofesi sebagai guru.
Dalam sinopsis di atas telah dipaparkan bahwa Lastri
dan Musta berniat untuk mengguna-guna nenek dan menjalankan rencana dengan
perantara dukun, tetapi pada akhirnya tidak berhasil dilaksanakan.
Jika dicermati dengan seksama, secara ketatabahasaan
dapat ditemukan beberapa frasa idiomatis dan kata-kata bermakna konotatif yang
terdapat dalam runtutan drama tersebut. Frasa-frasa tersebut juga merupakan
sebuah pemahaman literal yang mungkin akan dianggap kurang berarti bagi
sebagian orang. Berikut ini merupakan beberapa contohnya.
1. Membedaki
diri
2. Membanting
tulang
3. Anak
hijau
4. Pikiran
jernih
5. Termakan
ingatan
6. Pikiran
pendek
7. Pikiran
gelap
8. Kepala
yang baik
Secara gamblang, contoh-contoh tersebut akan
diuraikan pada pemahaman selanjutnya, yaitu pemahaman inferensial.
D.
Pemahaman Inferensial
Pada pemahaman literal diatas telah dipaparkan
sejumlah contoh kata-kata yang belum dilengkapi dengan maknanya. Berikut akan diuraikan
makna kata yang sebenarnya.
1. Membedaki
diri : Memprioritaskan penampilan semata.
2. Membanting
tulang : Bekerja keras.
3. Anak
hijau : Anak yang belum berpengalaman.
4. Pikiran
jernih : Pikiran yang runtut.
5. Termakan
ingatan : Dipengaruhi ingatan.
6. Pikiran
pendek : Pikiran yang kurang luas.
7. Pikiran
gelap : Tidak dapat berpikir lagi, misalnya
jika sedang marah.
8. Kepala
yang baik : Mempunyai budi pekerti.
Pemahaman
inferensial sendiri merupakan kemampuan memahami informasi yang dinyatakan secara tidak langsung atau tersirat. Kegiatan ini meliputi
membuat generalisasi, yaitu membentuk gagasan atau simpulan umum dari suatu
peristiwa atau hal.
Sepadan dengan drama yang telah tersaji diatas dapat
disimpulkan pemahaman inferensialnya yaitu, pada prinsipnya telah disampaikan pesan melalui sang nenek bahwa dulu saat
ia masih perawan, ia adalah perawan yang suka membanting tulang, membanting
tenaga, menuai dan menumbuk padi serta berjualan di pasar. Mengkiaskan bahwa
wanita zaman dahulu adalah wanita yang rajin dan pekerja keras. Lain halnya
dengan wanita sekarang yang kerjanya hanya bisa membedaki dirinya, minta uang
kepada kedua orang tuanya dan meninggalkan ilmu agama.
Pada akhir cerita, pemahaman
inferensialnya adalah sebagaimanapun keadaan orang tua, anak tidak boleh
berbuat keji
dan tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang anak kepada orang yang telah
melahirkan dan membesarkannya. Sebagai anak yang baik dan berbakti haruslah
dapat melayani orang tua dalam keadaan apapun.
E. Pemahaman
Kritis
Kemampuan mengevaluasi materi dari drama ‘Nenek Tercinta’ merupakan yang dimaksud
dalam pemahaman kritis. Dapat dikatakan bahwa materi dalam drama tersebut
mengenai masalah internal kehidupan sebuah keluarga. Tema yang dikaji merupakan
tema yang menarik untuk diapresiasi, terutama oleh audiens. Pada bab pemahaman literal telah diuraikan mengenai tokoh
dan perwatakannya, sedangkan nilai atau amanat dari drama tersebut telah
dipaparkan pada pemahaman inferensial. Mengenai alur yang digunakan adalah alur
maju karena urutan rangkaian peristiwanya sesuai dengan urutan waktu kejadian
atau cerita yang bergerak ke depan terus. Sedangkan konflik yang disajikan dari
drama tersebut sedikit kurang mengejutkan dengan akhir cerita yang belum
klimaks dan masih samar-samar pemahamannya.
F. Pemahaman
Kreatif
Pemahaman kreatif yaitu kemampuan untuk mengungkapkan
respon emosional dan estetis. Pada
tanggapan atau respon emosional dapat dikatakan bahwa drama yang disajikan
tersebut telah menyenangkan dan menyukakan hati karena bagusnya sehingga
membangkitkan hasrat untuk memperhatikan serta mengindahkannya. Misalnya pada
waktu drama itu berada pada satu bagian yang bersifat humoristis, jalan pikiran
audiens terpengaruh dan
mengekspresikannya dengan terpaut ikut tertawa.
Pada segi estetis, dapat
diterangkan bahasa yang pengarang gunakan sangat menggugah dan menyentuh hati,
walaupun kadang terdapat ucapan-ucapan kasar yang dilisankan tapi tidak menjadi
permasalahan yang berarti karena hal tersebut dapat memberikan warna tersendiri
jika ditinjau dari lingkup sudut pandang karya sastra.
G. Simpulan
Berdasarkan hasil dari uraian pemahaman-pemahaman sebelumnya dapat
disimpulkan bahwa.
1.
Dari segi
pemahaman literal, terdapat beberapa frasa idiomatis dan
kata-kata bermakna konotatif yang terdapat dalam runtutan drama tersebut.
Frasa-frasa tersebut juga merupakan sebuah pemahaman literal yang mungkin akan
dianggap kurang berarti bagi sebagian orang.
2.
Dari segi pemahaman inferensial,
beberapa frasa idiomatis dan kata-kata bermakna konotatif yang terdapat pada
pemahaman literal dapat dipaparkan secara lengkap dengan menunjukkan
unsur-unsur pesan yang terdapat dari drama tersebut.
3.
Dari segi pemahaman kritis, telah
dijelaskan tema yang dikaji merupakan
tema yang menarik untuk diapresiasi. Sedangkan alur yang digunakan adalah alur
maju karena urutan rangkaian peristiwanya sesuai dengan urutan waktu kejadian
atau cerita yang bergerak ke depan terus.
4.
Dari segi
pemahaman kreatif, respon emosional
drama yang disajikan tersebut telah menyukakan hati sehingga membangkitkan
hasrat untuk memperhatikan serta mengindahkannya. Pada segi estetis, dapat
diterangkan bahasa yang pengarang gunakan sangat menggugah dan menyentuh hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar