Senin, 22 Desember 2014

Dasar-dasar Kurikulum [3]

LATAR BELAKANG PERUBAHAN KURIKULUM


Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Dasar-dasar Kurikulum

Pengampu : Subekti, M.Pd




Oleh :

                  1.      Defi Saputri                                   ( A310130137 )
                  2.      Azizah Nurul Ummah                  ( A310130138 )
                  3.      Nurul Istikomah                            ( A310130146 )
                  4.      Nurul Fatimah                              ( A310130154 )
                  5.      Fitri Yulianti                                  ( A310130155 )
                  6.      Renshy Ika Yulliawati                  ( A310130156 )
                  7.      Dewi Novia Anggara                    ( A310130158 )



PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji syukur hanya kita panjatkan kepada kehadirat Allah Swt atas semua karunia dan limpahan nikmat lainnya sehingga dapat tersusunnya makalah ini dengan judul “Latar Belakang Perubahan Kurikulum”.
Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis ini masih banyak terdapat kekurangan, oleh karena itu penulis sangat  mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak pembaca.
Akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca atau pihak yang membutuhkan.


                                                                              Surakarta, 26 November 2014


                                                                              Penulis














ii

DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar…………………............……………….……….....................     ii
Daftar Isi…………………………………………………................................   iii

BAB I      PENDAHULUAN……............……………..…….................…....    1
A.       Latar Belakang Masalah.…….…..…………..….......................   1
B.       Rumusan Masalah…………………...……...…........................    1
C.       Tujuan Rumusan Masalah.........................................................     1

BAB II    PEMBAHASAN…….........………………………….………........     3
A.       Latar Belakang Perubahan Kurikulum.......................................    3
B.       Perubahan Kurikulum................................................................    4
C.       Jenis-jenis Perubahan Kurikulum..............................................    5
D.       Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perubahan
Kurikulum.................................................................................     6
E.        Sebab-sebab Kurikulum Diubah................................................    6
F.        Kesulitan-kesulitan dalam Perubahan Kurikulum.....................    7
G.       Strategi Kepemimpinan dalam Perubahan Kurikulum..............     8

BAB III  PENUTUP....……………..............................………….........….....    12
Simpulan............................................................................................    12

Daftar Pustaka...................................................................................................     13





iii

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Merencanakan kurikulum merupakan usaha yang sangat kompleks yang melibatkan banyak instansi, dari badan tertinggi seperti MPR sampai yang terendah seperti guru, bahkan murid dan orang tua.
Kurikulum sangat penting bagi pembangunan serta pelestarian suatu negara, dan dipandang sebagai alat yang paling ampuh untuk membina generasi muda, masa depan bangsa dan negara.
Kurikulum selalu dinamis mengikuti perkembangan masyarakat serta ilmu pengetahuan dan karena itu cenderung mengalami perubahan, perbaikan, bahkan pembaharuan.
Perubahan kurikulum didasari pada kesadaran bahwa perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni dan budaya. Perubahan secara terus menerus ini menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional, termasuk penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan.
B.       Rumusan Masalah
1.      Bagaimana latar belakang perubahan kurikulum?
2.      Bagaimana perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia?
3.      Apa saja jenis-jenis perubahan kurikulum?
4.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kurikulum?
5.      Bagaimana sebab-sebab kurikulum perlu diubah?
6.      Apa sajakah kesulitan-kesulitan dalam perubahan kurikulum?

C.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui latar belakang perubahan kurikulum.
2.      Untuk mengetahui perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia.
3.      Untuk mengetahui jenis-jenis perubahan kurikulum.
4.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kurikulum.
5.      Untuk mengetahui sebab-sebab kurikulum perlu diubah.
6.      Untuk mengetahui kesulitan-kesulitan dalam perubahan kurikulum.


























BAB II
PEMBAHASAN

A.      Latar Belakang Perubahan Kurikulum
Kurikulum merupakan alat yang sangat penting bagi keberhasilan suatu pendidikan. Tanpa kurikulum yang sesuai dan tepat akan sulit untuk mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang diinginkan. Dalam sejarah pendidikan di Indonesia sudah beberapa kali diadakan perubahan dan perbaikan kurikulum yang tujuannya sudah tentu untuk menyesuaikannya dengan perkembangan dan kemajuan zaman, guna mencapai hasil yang maksimal.
Perubahan kurikulum didasari pada kesadaran bahwa perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni dan budaya. Perubahan secara terus menerus ini menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional, termasuk penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan.
Perubahan kurikulum yang terjadi di indonesia ini salah satu diantaranya adalah karena ilmu pengetahuan itu sendiri selalu tidak tetap. Selain itu, perubahan tersebut juga dinilainya dipengaruhi oleh kebutuhan manusia yang selalu berubah juga pengaruh dari luar, dimana secara menyeluruh kurikulum itu tidak berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh ekonomi, politik, dan kebudayaan. Sehingga dengan adanya perubahan kurikulum itu, pada gilirannya berdampak pada kemajuan bangsa dan negara. Kurikulum pendidikan harus berubah tapi diiringi juga dengan perubahan dari seluruh masyarakat pendidikan di Indonesia yang harus mengikuti perubahan tersebut, karena kurikulum itu bersifat dinamis bukan stasis.

B.       Perubahan Kurikulum
Menurut Soetopo dan Soemanto (1991:38), suatu kurikulum disebut mengalami perubahan bila terdapat adanya perbedaan dalam satu atau lebih komponen kurikulum antara dua periode tertentu, yang disebabkan oleh adanya usaha yang disengaja. Sedangkan, menurut Nasution (2009:252), perubahan kurikulum mengenai tujuan maupun alat-alat atau cara-cara untuk mencapai tujuan itu. Mengubah kurikulum sering berarti turut mengubah manusia, yaitu guru, pembina pendidikan, dan mereka-mereka yang mengasuh pendidikan. Itu sebab perubahan kurikulum dianggap sebagai perubahan sosial (social change). Perubahan kurikulum juga disebut pembaharuan atau inovasi kurikulum.
Kurikulum dapat dipandang sebagai buku atau dokumen yang dijadikan guru sebagai pegangan dalam proses belajar mengajar. Kurikulum dapat juga diartikan sebagai sesuatu yang hidup dan berlaku selama jangka waktu tertentu dan perlu di revisi secara berkala agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Kurikulum dalam arti ini tak mungkin direncanakan sepenuhnya betapapun rincinya direncanakan, karena dalam interaksi dalam kelas selalu timbul hal-hal yang spontan dan kreatif yang tak dapat diramalkan sebelumnya. Dalam hal ini guru lebih besar kesempatannya menjadi pengembang kurikulum dalam kelasnya. Akhirnya kurikulum dapat dipandang sebagai cetusan jiwa pendidik yang berusaha untuk mewujudkan cita-cita, nilai-nilai yang tertinggi dalam kelakuan anak didiknya. Kurikulum ini sangat erat hubungannya dengan kepribadian guru.
Kurikulum yang formal mengubah pedoman kurikulum, relatif lebih terbatas dari pada kurikulum yang riil. Kurikulum yang riil bukan sekedar buku pedoman, melainkan segala sesuatu yang dialami anak dalam kelas, ruang olahraga, warung sekolah, tempat bermain, karya wisata, dan banyak kegiatan lainnya. Mengubah kurikulum dalam arti yang luas ini jauh lebih luas dan dengan demikian lebih pelik. Perubahan kurikulum disini berarti mengubah semua yang terlibat didalamnya, yaitu guru sendiri, murid, kepala sekolah, pemilik sekolah juga orang tua dan masyarakat umumnya yang berkepentingan dalam pendidikan sekolah.

C.       Jenis-Jenis Perubahan
Menurut Soetopo dan Soemanto (1991:39-40), perubahan kurikulum dapat bersifat sebagian-sebagian, tapi dapat pula bersifat menyeluruh.
1.      Perubahan sebagian-sebagian
Perubahan sebagian-sebagian ialah perubahan yang terjadi hanya pada komponen tertentu saja dari kurikulum. Contoh dari perubahan sebagian-sebagian yaitu perubahan dalam metode mengajar  dan perubahan dalam sistem penilaian.
Dalam perubahan sebagian-sebagian ini, dapat terjadi bahwa perubahan yang berlangsung pada komponen tertentu sama sekali tidak berpengaruh terhadap komponen yang lain. Sebagai contoh, penambahan satu atau lebih bidang studi kedalam suatu kurikulum dapat saja terjadi tanpa membawa perubahan dalam metode mengajar atau sistem penilaian dalam kurikulum tersebut.
2.      Perubahan menyeluruh
Di samping secara sebagian-sebagian, perubahan suatu kurikulum dapat saja terjadi secara menyeluruh. Artinya, keseluruhan sistem dari kurikulum tersebut mengalami perubahan mana tergambar baik di dalam tujuannya, isinya, organisasi, strategi dan pelaksanaannya.
Perubahan dari kurikulum 1968 menjadi kurikulum 1975 dan 1976 lebih merupakan perubahan kurikulum secara menyeluruh. Demikian pula kegiatan pengembangan kurikulum sekolah pembangunan mencerminkan pula usaha perubahan kurikulum yang bersifat menyeluruh. Kurikulum 1975 dan 1976 misalnya, pengembangan, tujuan, isi, organisasi dan strategi pelaksanaan yang baru dan dalam banyak hal berbeda dari kurikulum sebelumnya.
D.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perubahan kurikulum
Menurut Soetopo dan Soemanto (1991:40-41), ada sejumlah faktor yang dipandang mendorong terjadinya perubahan kurikulum pada berbagai Negara. Adapun faktor-faktor tersebut di antaranya ialah:
1.         Bebasnya sejumlah wilayah tertentu di dunia ini dari kekuasaan kaum kolonialis
Dengan merdekanya Negara-negara tersebut, mereka menyadari bahwa selama ini mereka telah dibina dalam suatu sistem pendidikan yang sudah tidak sesuai lagi dengan cita-cita nasional merdeka. Untuk itu, mereka mulai merencanakan adanya perubahan yang cukup penting di dalam kurikulum dan sistem pendidikan yang ada.
2.      Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat sekali
Perkembangan dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah menghasilkan diketemukannya teori-teori yang lama. Di lain pihak, perkembangan di dalam ilmu pengetahuan psikologi, komunikasi, dan lain-lainnya menimbulkan diketemukannya teori dan cara-cara baru di dalam proses belajar mengajar. Kedua perkembangan di atas, dengan sendirinya mendorong timbulnya perubahan dalam isi maupun strategi pelaksanaan kurikulum.
3.      Pertumbuhan yang pesat dari penduduk dunia
Dengan bertambahnya penduduk, maka makin bertambah pula jumlah orang yang membutuhkan pendidikan. Hal ini menyebabkan bahwa cara atau pendekatan yang telah digunakan selama ini dalam pendidikan perlu ditinjau kembali dan kalau perlu diubah agar dapat memenuhi kebutuhan akan pendidikan yang semakin besar.

E.       Sebab-Sebab Kurikulum Itu Diubah
Kurikulum itu selalu dinamis dan senantiasa dipengaruhi oleh perubahan-perubahan dalam faktor-faktor yang mendasarinya. Tujuan pendidikan dapat berubah secara fundamental, bila suatu negara beralih dari negara yang dijajah menjadi Negara yang merdeka. Dengan sendirinya kurikulum pun harus mengalami perubahan yang menyeluruh.
Kurikulum juga diubah bila tekanan dalam tujuan mengalami pergeseran. Misalnya pada tahun 30-an sebagai pengaruh golongan progresif di USA tekanan kurikulum adalah pada anak, sehingga kurikulum mengarah kepada child-centered curriculum sebagai reaksi terhadap subject-centered curriculum yang dianggap terlalu bersifat adult dan society-centered. Pada tahun 40-an, sebagai akibat perang, asas masyarakatlah yang diutamakan dan kurikulum menjadi lebih society-centered. Pada tahun 50-an dan 60-an, sebagai akibat sputnik yang menyadarkan Amerika Serikat akan ketertinggalan dalam ilmu pengetahuan, para pendidik lebih cenderung kepada kurikulum yang discipline-centered, yang mirip kepada subject-centered curriculum.
Kurikulum dapat pula mengalami perubahan bila terdapat pendirian baru mengenai proses belajar, sehingga timbul bentuk-bentuk kurikulum seperti activity atau experience curriculum, programmed instruction, pengajaran modul, dan sebagainya.

F.       Kesulitan-Kesulitan Dalam Perubahan Kurikulum
Manusia itu pada umumnya bersifat konservatif dan guru termasuk golongan itu juga. Guru-guru lebih senang mengikuti jejak-jejak yang lama secara rutin. Ada kalanya karena cara yang demikianlah yang paling mudah dilakukan. Mengadakan pembaharuan memerlukan pemikiran dan tenaga yang lebih banyak. Tak semua orang suka bekerja lebih banyak daripada yang diperlukan. Akan tetapi ada pula kalanya, bahwa guru-guru tidak mendapat kesempatan atau wewenang untuk mengadakan perubahan karena peraturan-peraturan administratif.
Pembaharuan kurikulum kadang-kadang terikat pada tokoh yang mencetuskannya. Dengan meninggalnya tokoh itu lenyap pula pembaharuan yang telah dimulainya itu. Dalam pembaharuan kurikulum ternyata bahwa mencetuskan ide-ide baru lebih “mudah” daripada menerapkannya dalam praktik. Dan sekalipun telah dilaksanakan sebagai percobaan, masih banyak mengalami rintangan dalam penyebarluasannya, oleh sebab harus melibatkan banyak orang dan mungkin memerlukan perubahan struktur organisasi dan administrasi sistem pendidikan.
Pembaharuan kurikulum sering pula memerlukan biaya yang lebih banyak untuk fasilitas dan alat-alat pendidikan baru, yang tidak selalu dapat dipenuhi. Tak jarang pula pembaharuan ditentang oleh mereka yang ingin berpegang pada yang sudah lazim dilakukan atau yang kurang percaya akan yang baru sebelum terbukti kelebihannya. Bersifat kritis terhadap pembaharuan kurikulum adalah sifat yang sehat, karena pembaharuan itu jangan hanya sekedar mode yang timbul pada suatu saat untuk lenyap lagi dalam waktu yang tidak lama.

G.      Strategi Kepemimpinan dalam Perubahan Kurikulum
Strategi dimaksudkan sebagai sebuah rencana serangkaian usaha untuk mencapai tujuan, dalam hal ini perubahan kurikulum. Untuk mengubah kurikulum dapat diikuti strategi yang berikut :
1.      Mengubah seluruh sistem pendidikan
Mengubah seluruh sistem pendidikan yang hanya dapat dilakukan oleh pusat yakni Depdikbud karena mempunyai wewenang penuh untuk mengadakan perubahan kurikulum secara total. Usaha besar-besaran ini hanya dapat dikoordinasi oleh pusat dengan memberikan pernyataan kebijaksanaan, petunjuk-petunjuk pelaksanaan dan buku pedoman. Strategi ini sangat ekonomis mengenai waktu dan tenaga bila mengadakan perubahan kurikulum secara menyeluruh.

2.      Mengubah kurikulum tingkat lokal
Kurikulum yang nyata, yang riil, hanya terdapat di mana guru dan murid berada, yakni sekolah dan dalam kelas. Di sinilah dihadapi masalah kurikulum yang sesungguhnya.
a.       Dalam kelas kurikulum menjadi hidup, bukan hanya secarik kertas. Dalam menghadapi anak, mau tak mau setiap guru akan menghadapi masalah yang harus diatasinya. Dalam pelaksanaan kurikulum dalam kelas terhadap murid yang berbeda-beda, tak dapat tiada guru harus mengadakan penyesuaian.
b.      Bagaimanapun ketatnya perincian kurikulum, guru selalu mendapat kesempatan untuk mencobakan pikirannya sendiri. Pedoman kurikulum hanya dapat dijiwai oleh guru dan pribadi guru terjalin erat dengan cara ia melaksanakan kurikulum itu. Kelaslah yang menjadi garis depan perubahan dan perbaikan kurikulum.
c.       Dibawah pimpinan kepala sekolah dapat diadakan rapat seluruh staf, atau setiap tingkatan atau bidang studi. Rapat-rapat mengenai perbaikan kurikulum sebaiknya dilakukan secara kontinyu oleh sebab tujuannya tidak diperoleh sekaligus. Perbaikan sesungguhnya akan terjadi bila guru sendiri menyadari kekurangannya, ada kalanya atas pemikirannya sendiri, atau interaksinya dengan siswa dan dalam diskusi dengan teman guru lainnya. Usaha perbaikan yang dijalankan oleh guru-guru memerlukan kordinasi kepala sekolah.
Perubahan kurikulum di sekolah tidak berarti bahwa sekolah itu menyendiri dan melepaskan diri dari kurikulum resmi. Sekolah itu tetap bergerak dalam rangka kurikulum resmi yang berlaku akan tetapi berusaha untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan anak dan lingkungannya serta berusaha untuk meningkatkannya. Ada menyebutnya “kurikulum plus”. Kurikulum resmi hanya memberikan kurikulum minimal yang diharapkan harus dicapai oleh segenap siswa di seluruh Indonesia. Sama sekali tidak dilarang memberi bahan yang lebih mendalam dan luas bagi anak-anak yang berbakat. Adanya perbedaan antara apa yang diajarkan disuatu sekolah tidak perlu mempersulit anak pindah sekolah, selama sekolah itu mengajarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip atau struktur ilmu, sedangkan isinya secara detail tidak esensial.
3.      Memberikan pendidikan in-service dan pengembangan staf
Dianggap bahwa kurikulum sekolah akan mengalami perbaikan jika mutu guru ditingkatkan. In-service training dianggap lebih formal, dengan rencana yang lebih ketat dan diselenggarakan atas instruksi pihak atasan. Pengembangan staf atau staff development lebih tak formal, lebih bebas disesuaikan dengan kebutuhan guru. Guru misalnya dapat disuruh mengobservasi dan menilai dirinya mengajar yang telah divideo-tape. Apa yang dipelajari dalam inservice dan pengembangan staf hendaknya dipraktikkan.
4.      Supervisi
Supervisi adalah memberi pelayanan kepada guru untuk memperoleh proses belajar-mengajar yang lebih efektif. Bila dirasa perlu pemilik sekolah dapat memberikan demonstrasi bagaimana melaksanakan suatu metode baru. Seorang penilik sekolah harus senantiasa mempelajari perkembangan kurikulum dan metode mengajar modern dan dapat pula menerapkannya.
5.      Reorganisasi sekolah
Reorganisasi diadakan bila sekolah itu ingin merombak seluruh cara mendidik di sekolah itu dengan menerima cara yang baru sama sekali. Hal ini antara lain dapat terjadi bila sekolah itu akan menjalankan misalnya team teaching , non-grading , metode unit, open school, dan lain-lain yang memerlukan perubahan dalam semua aspek pengajaran, seperti bentuk ruangan, fasilitas, penjadwalan, tugas guru, kegiatan siswa, administrasi, dan sebagainya.
6.      Eksperimentasi dan penelitian
Negara kita tidak tertutup bagi macam-macam pembaruan dalam pendidikan. Kemajuan komunokasi dan transport membuka pendidikan kita bagi berbagai pengaruh di bagian lain dunia ini. Ciri-ciri kemajuan ialah sebagai berikut: perubahan dan perbaikan, juga dalam bidang pendidikan di sekolah. Penelitian pendidikan belum cukup dilakukan di Negara kita ini. Biasanya penelitian tidak langsung dapat ditetapkan dan melalui fase yang lama sebelum diterima secara umum.
Yang lebih mungkin dilaksanakan ialah eksperimentasi, yakni mencobakan metode atau bahan baru. Pada dasarnya setiap kurikulum baru harus di uji cobakan lebih dahulu sebelum disebarkan di semua sekolah. Resiko pembaruan kurikulum tanpa uji coba sangat besar, dapat menghamburkan biaya dan tenaga yang banyak, tanpa jaminan bahwa pembaruan itu akan membawa perbaikan.
Percobaan metode baru dilakukan secara berkala antara lain : sekolah pembangunan yang kemudian menjadi PPSI cukup dikenal, sayang tidak berbekas selanjutnya. Demikian pula CBSA dan “muatan lokal” diuji cobakan selain percobaan lainnnya.
Secara kecil-kecilan yang tidak sistematis, sebenarnya tiap guru pernah mengadakan eksperimentasi. Bila misalnya ada murid yang suka ribut dalam kelas, menempatkannya di bangku paling depan, dengan hipotesis, bahwa dengan pengawasan yang lebih ketat murid itu akan berubah kelakuannya. Ada guru yang menganjurkan anak yang ketinggalan agar belajar bersama dengan murid yang pandai, atau guru memberi tanggung jawab kepada murid yang nakal. Bila diselidiki boleh dikatakan bahwa tiap guru pernah melakukan percobaan kecil-kecilan seperti ini, bila ia menghadapi suatu kesulitan dan mencari jalan untuk mengatasinya.
Perbaikan kurikulum pada hakikatnya terjadi dalam kelas dan dalam hal ini guru memegang peranan yang paling utama. Maka guru harus lebih menyadari peranannya sebagai pengembang kurikulum.

BAB III
PENUTUP

Simpulan
Perubahan kurikulum didasari pada kesadaran bahwa perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni dan budaya . Perubahan secara terus menerus ini menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional, termasuk penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan.
Jenis-jenis perubahannya ialah sebagai berikut, 1) perubahan sebagian-bagian, 2) perubahan menyeluruh. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kurikulum. 1) Bebasnya sejumlah wilayah tertentu di dunia ini dari kekuasaan kaum kolonialis, 2) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat sekali, 3) Perubahan yang pesat dari penduduk dunia
Kurikulum dapat pula mengalami perubahan bila terdapat pendirian baru mengenai proses belajar, sehingga timbul bentuk-bentuk kurikulum seperti activity atau experience curriculum, programmed instruction, pengajaran modul, dan sebagainya.
Strategi kepemimpinan dalam perubahan kurikulum yaitu sebagai berikut.
a.         Mengubah seluruh sistem pendidikan
b.         Mengubah kurikulum tingkat lokal
c.         Memberikan pendidikan in-service dan pengembangan staf
d.        Supervisi
e.         Reorganisasi sekolah
f.          Eksperimentasi dan penelitian
DAFTAR PUSTAKA

Utami, Dini Sulistya. 2010. “Perubahan Kurikulum”. http://yherpansi.wordpress.com/2010/05/08/70/. Diakses pada tanggal 26 November 2014 pukul 14:46
Lunna. 2010. “Mengapa Kurikulum Berubah” . http://lunnablog-luna.blogspot.com/2010/10/mengapa-kurikulum-berubah.html. Diakses pada tanggal  26:07 pukul 23:08




Tidak ada komentar:

Posting Komentar