LATAR BELAKANG PERUBAHAN KURIKULUM
Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi
Tugas
Mata Kuliah Dasar-dasar Kurikulum
Pengampu : Subekti, M.Pd
Oleh
:
1.
Defi
Saputri (
A310130137 )
2.
Azizah
Nurul Ummah ( A310130138
)
3.
Nurul
Istikomah ( A310130146
)
4.
Nurul
Fatimah (
A310130154 )
5.
Fitri
Yulianti (
A310130155 )
6.
Renshy
Ika Yulliawati (
A310130156 )
7.
Dewi
Novia Anggara (
A310130158 )
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji syukur
hanya kita panjatkan kepada kehadirat Allah Swt atas semua karunia dan limpahan
nikmat lainnya sehingga dapat tersusunnya makalah ini dengan judul “Latar
Belakang Perubahan Kurikulum”.
Dalam penyusunan makalah ini penulis
menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis ini masih banyak terdapat
kekurangan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari berbagai pihak pembaca.
Akhirnya penulis berharap, semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi para pembaca atau pihak yang membutuhkan.
Surakarta,
26 November 2014
Penulis
ii
DAFTAR ISI
Halaman
Judul
Kata Pengantar…………………............……………….………..................... ii
Daftar Isi…………………………………………………................................ iii
BAB I PENDAHULUAN……............……………..…….................….... 1
A.
Latar Belakang Masalah.…….…..…………..…....................... 1
B.
Rumusan Masalah…………………...……...…........................ 1
C.
Tujuan Rumusan Masalah......................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN…….........………………………….………........ 3
A.
Latar Belakang Perubahan Kurikulum.......................................
3
B.
Perubahan Kurikulum................................................................ 4
C.
Jenis-jenis Perubahan
Kurikulum.............................................. 5
D.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perubahan
Kurikulum.................................................................................
6
E.
Sebab-sebab Kurikulum
Diubah................................................ 6
F.
Kesulitan-kesulitan dalam Perubahan
Kurikulum..................... 7
G.
Strategi Kepemimpinan dalam Perubahan Kurikulum.............. 8
BAB III PENUTUP....……………..............................………….........…..... 12
Simpulan............................................................................................ 12
Daftar
Pustaka................................................................................................... 13
iii
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Merencanakan
kurikulum merupakan usaha yang sangat kompleks yang melibatkan banyak instansi,
dari badan tertinggi seperti MPR sampai yang terendah seperti guru, bahkan
murid dan orang tua.
Kurikulum
sangat penting bagi pembangunan serta pelestarian suatu negara, dan dipandang
sebagai alat yang paling ampuh untuk membina generasi muda, masa depan bangsa
dan negara.
Kurikulum selalu
dinamis mengikuti perkembangan masyarakat serta ilmu pengetahuan dan karena itu
cenderung mengalami perubahan, perbaikan, bahkan pembaharuan.
Perubahan kurikulum didasari pada kesadaran bahwa
perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perubahan
global,
perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni dan budaya. Perubahan secara terus
menerus ini menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional, termasuk
penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan
menyesuaikan diri dengan perubahan.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
latar belakang perubahan kurikulum?
2. Bagaimana
perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia?
3. Apa
saja jenis-jenis
perubahan kurikulum?
4. Apa
saja faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kurikulum?
5. Bagaimana
sebab-sebab kurikulum perlu diubah?
6. Apa
sajakah kesulitan-kesulitan dalam perubahan kurikulum?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui latar belakang perubahan kurikulum.
2. Untuk
mengetahui perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia.
3. Untuk
mengetahui jenis-jenis perubahan kurikulum.
4. Untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kurikulum.
5. Untuk
mengetahui sebab-sebab kurikulum perlu diubah.
6. Untuk
mengetahui kesulitan-kesulitan dalam perubahan kurikulum.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Latar
Belakang Perubahan Kurikulum
Kurikulum
merupakan alat yang sangat penting bagi keberhasilan suatu pendidikan. Tanpa
kurikulum yang sesuai dan tepat akan sulit untuk mencapai tujuan dan sasaran
pendidikan yang diinginkan. Dalam sejarah pendidikan di Indonesia sudah
beberapa kali diadakan perubahan dan perbaikan kurikulum yang tujuannya sudah
tentu untuk menyesuaikannya dengan perkembangan dan kemajuan zaman, guna
mencapai hasil yang maksimal.
Perubahan kurikulum didasari pada kesadaran bahwa
perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perubahan
global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni dan budaya.
Perubahan secara terus menerus ini menuntut perlunya perbaikan sistem
pendidikan nasional, termasuk penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan
masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan.
Perubahan kurikulum yang terjadi di indonesia ini salah
satu diantaranya adalah karena ilmu pengetahuan itu sendiri selalu tidak tetap.
Selain itu, perubahan tersebut juga dinilainya dipengaruhi oleh kebutuhan
manusia yang selalu berubah juga pengaruh dari luar, dimana secara menyeluruh
kurikulum itu tidak berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh ekonomi, politik,
dan kebudayaan. Sehingga dengan adanya perubahan kurikulum itu, pada gilirannya
berdampak pada kemajuan bangsa dan negara. Kurikulum pendidikan harus berubah
tapi diiringi juga dengan perubahan dari seluruh masyarakat pendidikan di
Indonesia yang harus mengikuti perubahan tersebut, karena kurikulum itu
bersifat dinamis bukan stasis.
B.
Perubahan
Kurikulum
Menurut Soetopo dan Soemanto (1991:38), suatu kurikulum
disebut mengalami perubahan bila terdapat adanya perbedaan dalam satu atau
lebih komponen kurikulum antara dua periode tertentu, yang disebabkan oleh
adanya usaha yang disengaja. Sedangkan, menurut Nasution (2009:252),
perubahan kurikulum mengenai tujuan maupun alat-alat atau cara-cara untuk
mencapai tujuan itu. Mengubah kurikulum sering berarti turut mengubah manusia,
yaitu guru, pembina pendidikan, dan mereka-mereka yang mengasuh pendidikan. Itu
sebab perubahan kurikulum dianggap sebagai perubahan sosial (social change). Perubahan kurikulum juga
disebut pembaharuan atau inovasi kurikulum.
Kurikulum dapat
dipandang sebagai buku atau dokumen yang dijadikan guru sebagai pegangan dalam
proses belajar mengajar. Kurikulum dapat juga diartikan sebagai sesuatu yang
hidup dan berlaku selama jangka waktu tertentu dan perlu di revisi secara
berkala agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Kurikulum dalam arti ini
tak mungkin direncanakan sepenuhnya betapapun rincinya direncanakan, karena
dalam interaksi dalam kelas selalu timbul hal-hal yang spontan dan kreatif yang
tak dapat diramalkan sebelumnya. Dalam hal ini guru lebih besar kesempatannya
menjadi pengembang kurikulum dalam kelasnya. Akhirnya kurikulum dapat dipandang
sebagai cetusan jiwa pendidik yang berusaha untuk mewujudkan cita-cita,
nilai-nilai yang tertinggi dalam kelakuan anak didiknya. Kurikulum ini sangat
erat hubungannya dengan kepribadian guru.
Kurikulum yang
formal mengubah pedoman kurikulum, relatif lebih terbatas dari pada kurikulum
yang riil. Kurikulum yang riil bukan sekedar buku pedoman, melainkan segala
sesuatu yang dialami anak dalam kelas, ruang olahraga, warung sekolah, tempat
bermain, karya wisata, dan banyak kegiatan lainnya. Mengubah kurikulum dalam
arti yang luas ini jauh lebih luas dan dengan demikian lebih pelik. Perubahan
kurikulum disini berarti mengubah semua yang terlibat didalamnya, yaitu guru
sendiri, murid, kepala sekolah, pemilik sekolah juga orang tua dan masyarakat
umumnya yang berkepentingan dalam pendidikan sekolah.
C. Jenis-Jenis
Perubahan
Menurut Soetopo dan Soemanto
(1991:39-40), perubahan kurikulum dapat bersifat sebagian-sebagian, tapi dapat
pula bersifat menyeluruh.
1. Perubahan
sebagian-sebagian
Perubahan sebagian-sebagian ialah perubahan
yang terjadi hanya pada komponen tertentu saja dari kurikulum. Contoh dari perubahan
sebagian-sebagian yaitu perubahan dalam metode mengajar dan perubahan dalam sistem penilaian.
Dalam perubahan sebagian-sebagian ini,
dapat terjadi bahwa perubahan yang berlangsung pada komponen tertentu sama
sekali tidak berpengaruh terhadap komponen yang lain. Sebagai contoh,
penambahan satu atau lebih bidang studi kedalam suatu kurikulum dapat saja
terjadi tanpa membawa perubahan dalam metode mengajar atau sistem penilaian
dalam kurikulum tersebut.
2. Perubahan
menyeluruh
Di samping secara sebagian-sebagian,
perubahan suatu kurikulum dapat saja terjadi secara menyeluruh. Artinya,
keseluruhan sistem dari kurikulum tersebut mengalami perubahan mana tergambar
baik di dalam tujuannya, isinya, organisasi, strategi dan pelaksanaannya.
Perubahan dari kurikulum 1968 menjadi
kurikulum 1975 dan 1976 lebih merupakan perubahan kurikulum secara menyeluruh.
Demikian pula kegiatan pengembangan kurikulum sekolah pembangunan mencerminkan
pula usaha perubahan kurikulum yang bersifat menyeluruh. Kurikulum 1975 dan
1976 misalnya, pengembangan, tujuan, isi, organisasi dan strategi pelaksanaan
yang baru dan dalam banyak hal berbeda dari kurikulum sebelumnya.
D. Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Perubahan kurikulum
Menurut Soetopo
dan Soemanto (1991:40-41), ada sejumlah faktor yang dipandang mendorong
terjadinya perubahan kurikulum pada berbagai Negara. Adapun faktor-faktor
tersebut di antaranya ialah:
1.
Bebasnya
sejumlah wilayah tertentu di dunia ini dari kekuasaan kaum kolonialis
Dengan merdekanya Negara-negara
tersebut, mereka menyadari bahwa selama ini mereka telah dibina dalam suatu
sistem pendidikan yang sudah tidak sesuai lagi dengan cita-cita nasional
merdeka. Untuk itu, mereka mulai merencanakan adanya perubahan yang cukup
penting di dalam kurikulum dan sistem pendidikan yang ada.
2.
Perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat sekali
Perkembangan dalam berbagai cabang ilmu
pengetahuan yang diajarkan di sekolah menghasilkan diketemukannya teori-teori
yang lama. Di lain pihak, perkembangan di dalam ilmu pengetahuan psikologi,
komunikasi, dan lain-lainnya menimbulkan diketemukannya teori dan cara-cara
baru di dalam proses belajar mengajar. Kedua perkembangan di atas, dengan
sendirinya mendorong timbulnya perubahan dalam isi maupun strategi pelaksanaan
kurikulum.
3.
Pertumbuhan
yang pesat dari penduduk dunia
Dengan bertambahnya
penduduk, maka makin bertambah pula jumlah orang yang membutuhkan pendidikan.
Hal ini menyebabkan bahwa cara atau pendekatan yang telah digunakan selama ini
dalam pendidikan perlu ditinjau kembali dan kalau perlu diubah agar dapat
memenuhi kebutuhan akan pendidikan yang semakin besar.
E. Sebab-Sebab
Kurikulum Itu Diubah
Kurikulum itu
selalu dinamis dan senantiasa dipengaruhi oleh perubahan-perubahan dalam
faktor-faktor yang mendasarinya. Tujuan pendidikan dapat berubah secara
fundamental, bila suatu negara beralih dari negara yang dijajah menjadi Negara
yang merdeka. Dengan sendirinya kurikulum pun harus mengalami perubahan yang
menyeluruh.
Kurikulum juga
diubah bila tekanan dalam tujuan mengalami pergeseran. Misalnya pada tahun
30-an sebagai pengaruh golongan progresif di USA tekanan kurikulum adalah pada
anak, sehingga kurikulum mengarah kepada child-centered
curriculum sebagai reaksi terhadap subject-centered
curriculum yang dianggap terlalu bersifat adult dan society-centered.
Pada tahun 40-an, sebagai akibat perang, asas masyarakatlah yang diutamakan dan
kurikulum menjadi lebih society-centered.
Pada tahun 50-an dan 60-an, sebagai akibat sputnik yang menyadarkan Amerika
Serikat akan ketertinggalan dalam ilmu pengetahuan, para pendidik lebih
cenderung kepada kurikulum yang discipline-centered,
yang mirip kepada subject-centered
curriculum.
Kurikulum dapat
pula mengalami perubahan bila terdapat pendirian baru mengenai proses belajar,
sehingga timbul bentuk-bentuk kurikulum seperti activity atau experience
curriculum, programmed instruction, pengajaran modul, dan sebagainya.
F.
Kesulitan-Kesulitan Dalam Perubahan
Kurikulum
Manusia itu pada umumnya bersifat
konservatif dan guru termasuk golongan itu juga. Guru-guru lebih senang
mengikuti jejak-jejak yang lama secara rutin. Ada kalanya karena cara yang
demikianlah yang paling mudah dilakukan. Mengadakan pembaharuan memerlukan
pemikiran dan tenaga yang lebih banyak. Tak semua orang suka bekerja lebih banyak
daripada yang diperlukan. Akan tetapi ada pula kalanya, bahwa guru-guru tidak
mendapat kesempatan atau wewenang untuk mengadakan perubahan karena
peraturan-peraturan administratif.
Pembaharuan kurikulum kadang-kadang
terikat pada tokoh yang mencetuskannya. Dengan meninggalnya tokoh itu lenyap
pula pembaharuan yang telah dimulainya itu.
Dalam pembaharuan kurikulum ternyata bahwa
mencetuskan ide-ide baru lebih “mudah” daripada menerapkannya dalam praktik.
Dan sekalipun telah dilaksanakan sebagai percobaan, masih banyak mengalami
rintangan dalam penyebarluasannya, oleh sebab harus melibatkan banyak orang dan
mungkin memerlukan perubahan struktur organisasi dan administrasi sistem
pendidikan.
Pembaharuan kurikulum sering pula
memerlukan biaya yang lebih banyak untuk fasilitas dan alat-alat pendidikan
baru, yang tidak selalu dapat dipenuhi. Tak jarang pula pembaharuan ditentang
oleh mereka yang ingin berpegang pada yang sudah lazim dilakukan atau yang
kurang percaya akan yang baru sebelum terbukti kelebihannya. Bersifat kritis
terhadap pembaharuan kurikulum adalah sifat yang sehat, karena pembaharuan itu
jangan hanya sekedar mode yang timbul pada suatu saat untuk lenyap lagi dalam
waktu yang tidak lama.
G.
Strategi Kepemimpinan dalam
Perubahan Kurikulum
Strategi dimaksudkan sebagai sebuah
rencana serangkaian usaha untuk mencapai tujuan, dalam hal ini perubahan
kurikulum. Untuk mengubah kurikulum dapat diikuti strategi yang berikut :
1.
Mengubah
seluruh sistem pendidikan
Mengubah
seluruh sistem pendidikan yang hanya dapat dilakukan oleh pusat yakni Depdikbud
karena mempunyai wewenang penuh untuk mengadakan perubahan kurikulum secara
total. Usaha besar-besaran ini hanya dapat dikoordinasi oleh pusat dengan
memberikan pernyataan kebijaksanaan, petunjuk-petunjuk pelaksanaan dan buku
pedoman. Strategi ini sangat ekonomis mengenai waktu dan tenaga bila mengadakan
perubahan kurikulum secara menyeluruh.
2.
Mengubah
kurikulum tingkat lokal
Kurikulum yang
nyata, yang riil, hanya terdapat di mana guru dan murid berada, yakni sekolah
dan dalam kelas. Di sinilah dihadapi masalah kurikulum yang sesungguhnya.
a.
Dalam
kelas kurikulum menjadi hidup, bukan hanya secarik kertas. Dalam menghadapi
anak, mau tak mau setiap guru akan menghadapi masalah yang harus diatasinya.
Dalam pelaksanaan kurikulum dalam kelas terhadap murid yang berbeda-beda, tak
dapat tiada guru harus mengadakan penyesuaian.
b.
Bagaimanapun
ketatnya perincian kurikulum, guru selalu mendapat kesempatan untuk mencobakan
pikirannya sendiri. Pedoman kurikulum hanya dapat dijiwai oleh guru dan pribadi
guru terjalin erat dengan cara ia melaksanakan kurikulum itu. Kelaslah yang
menjadi garis depan perubahan dan perbaikan kurikulum.
c. Dibawah pimpinan kepala sekolah dapat
diadakan rapat seluruh staf, atau setiap tingkatan atau bidang studi.
Rapat-rapat mengenai perbaikan kurikulum sebaiknya dilakukan secara kontinyu
oleh sebab tujuannya tidak diperoleh sekaligus. Perbaikan sesungguhnya akan
terjadi bila guru sendiri menyadari kekurangannya, ada kalanya atas
pemikirannya sendiri, atau interaksinya dengan siswa dan dalam diskusi dengan
teman guru lainnya. Usaha perbaikan yang dijalankan oleh guru-guru memerlukan
kordinasi kepala sekolah.
Perubahan
kurikulum di sekolah tidak berarti bahwa sekolah itu menyendiri dan melepaskan
diri dari kurikulum resmi. Sekolah itu tetap bergerak dalam rangka kurikulum
resmi yang berlaku akan tetapi berusaha untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan
anak dan lingkungannya serta berusaha untuk meningkatkannya. Ada menyebutnya
“kurikulum plus”. Kurikulum resmi hanya memberikan kurikulum minimal yang
diharapkan harus dicapai oleh segenap siswa di seluruh Indonesia. Sama sekali
tidak dilarang memberi bahan yang lebih mendalam dan luas bagi anak-anak yang
berbakat. Adanya perbedaan antara apa yang diajarkan disuatu sekolah tidak
perlu mempersulit anak pindah sekolah, selama sekolah itu mengajarkan
konsep-konsep dan prinsip-prinsip atau struktur ilmu, sedangkan isinya secara
detail tidak esensial.
3.
Memberikan
pendidikan in-service dan
pengembangan staf
Dianggap bahwa kurikulum sekolah akan
mengalami perbaikan jika mutu guru ditingkatkan. In-service training dianggap lebih formal, dengan rencana yang
lebih ketat dan diselenggarakan atas instruksi pihak atasan. Pengembangan staf
atau staff development lebih tak
formal, lebih bebas disesuaikan dengan kebutuhan guru. Guru misalnya dapat
disuruh mengobservasi dan menilai dirinya mengajar yang telah divideo-tape. Apa
yang dipelajari dalam inservice dan
pengembangan staf hendaknya dipraktikkan.
4.
Supervisi
Supervisi adalah memberi pelayanan
kepada guru untuk memperoleh proses belajar-mengajar yang lebih efektif. Bila
dirasa perlu pemilik sekolah dapat memberikan demonstrasi bagaimana
melaksanakan suatu metode baru. Seorang penilik sekolah harus senantiasa
mempelajari perkembangan kurikulum dan metode mengajar modern dan dapat pula
menerapkannya.
5.
Reorganisasi
sekolah
Reorganisasi diadakan bila sekolah itu
ingin merombak seluruh cara mendidik di sekolah itu dengan menerima cara yang
baru sama sekali. Hal ini antara lain dapat terjadi bila sekolah itu akan
menjalankan misalnya team teaching , non-grading , metode unit, open school, dan lain-lain yang
memerlukan perubahan dalam semua aspek pengajaran, seperti bentuk ruangan,
fasilitas, penjadwalan, tugas guru, kegiatan siswa, administrasi, dan
sebagainya.
6.
Eksperimentasi
dan penelitian
Negara kita tidak tertutup bagi
macam-macam pembaruan dalam pendidikan. Kemajuan komunokasi dan transport
membuka pendidikan kita bagi berbagai pengaruh di bagian lain dunia ini.
Ciri-ciri kemajuan ialah sebagai berikut: perubahan dan perbaikan, juga dalam
bidang pendidikan di sekolah. Penelitian pendidikan belum cukup dilakukan di
Negara kita ini. Biasanya penelitian tidak langsung dapat ditetapkan dan
melalui fase yang lama sebelum diterima secara umum.
Yang lebih mungkin dilaksanakan ialah
eksperimentasi, yakni mencobakan metode atau bahan baru. Pada dasarnya setiap
kurikulum baru harus di uji cobakan lebih dahulu sebelum disebarkan di semua
sekolah. Resiko pembaruan kurikulum tanpa uji coba sangat besar, dapat
menghamburkan biaya dan tenaga yang banyak, tanpa jaminan bahwa pembaruan itu
akan membawa perbaikan.
Percobaan metode baru dilakukan secara
berkala antara lain : sekolah pembangunan yang kemudian menjadi PPSI cukup
dikenal, sayang tidak berbekas selanjutnya. Demikian pula CBSA dan “muatan
lokal” diuji cobakan selain percobaan lainnnya.
Secara kecil-kecilan yang tidak
sistematis, sebenarnya tiap guru pernah mengadakan eksperimentasi. Bila
misalnya ada murid yang suka ribut dalam kelas, menempatkannya di bangku paling
depan, dengan hipotesis, bahwa dengan pengawasan yang lebih ketat murid itu
akan berubah kelakuannya. Ada guru yang menganjurkan anak yang ketinggalan agar
belajar bersama dengan murid yang pandai, atau guru memberi tanggung jawab
kepada murid yang nakal. Bila diselidiki boleh dikatakan bahwa tiap guru pernah
melakukan percobaan kecil-kecilan seperti ini, bila ia menghadapi suatu
kesulitan dan mencari jalan untuk mengatasinya.
Perbaikan kurikulum pada hakikatnya
terjadi dalam kelas dan dalam hal ini guru memegang peranan yang paling utama.
Maka guru harus lebih menyadari peranannya sebagai pengembang kurikulum.
BAB
III
PENUTUP
Simpulan
Perubahan
kurikulum didasari pada kesadaran bahwa perkembangan dan perubahan yang terjadi
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia tidak
terlepas dari pengaruh perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, serta seni dan budaya . Perubahan secara terus menerus ini menuntut
perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional, termasuk penyempurnaan kurikulum
untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan
perubahan.
Jenis-jenis perubahannya
ialah sebagai berikut, 1) perubahan sebagian-bagian, 2) perubahan menyeluruh.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kurikulum. 1) Bebasnya sejumlah wilayah tertentu di dunia ini dari
kekuasaan kaum kolonialis, 2) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
pesat sekali, 3) Perubahan yang pesat dari penduduk dunia
Kurikulum dapat pula mengalami
perubahan bila terdapat pendirian baru mengenai proses belajar, sehingga timbul
bentuk-bentuk kurikulum seperti activity atau experience curriculum, programmed
instruction, pengajaran modul, dan sebagainya.
Strategi kepemimpinan dalam
perubahan kurikulum yaitu sebagai berikut.
a.
Mengubah
seluruh sistem pendidikan
b.
Mengubah
kurikulum tingkat lokal
c.
Memberikan
pendidikan in-service dan pengembangan staf
d.
Supervisi
e.
Reorganisasi sekolah
f.
Eksperimentasi
dan penelitian
DAFTAR PUSTAKA
Utami,
Dini Sulistya. 2010. “Perubahan Kurikulum”. http://yherpansi.wordpress.com/2010/05/08/70/.
Diakses pada tanggal 26 November 2014 pukul 14:46
Lunna.
2010. “Mengapa Kurikulum Berubah” . http://lunnablog-luna.blogspot.com/2010/10/mengapa-kurikulum-berubah.html.
Diakses pada tanggal 26:07 pukul 23:08

Tidak ada komentar:
Posting Komentar