Naskah
Drama
“Seharusnya
Berjudul Celana Dalam”
Sebuah Cerita Pendek Karya Etik
Juwita
Di
pagi yang tenang, tatkala seorang pembantu rumah tangga bernama Sundari sedang
mengerjakan pekerjaannya seperti sediakala, ia terkesiap mendengar teriakan
lantang dari majikannya.
Mam : “Cundaliii!!...” “Cundaliii!!...”
(meneriakkan dengan lantang)
Sundari : (terkesiap, gugup, diam mencoba
mengingat-ingat apa saja yang telah diperbuatnya pagi ini atau kemarin malam.
Sundari yakin tidak ada yang tidak wajar!)
Mam : “Cundaliii!!...” (jeritnya terdengar lagi)
Sundari kemudian buru-buru
memindahkan semua baju dari dalam keranjang ke mesin cuci. Tapi, belum sempat
ia menuangkan deterjen, suara majikannya terdengar dekat.
Mam : “Cundaliii!!...” (menyembul dari pintu dapur)
Sundari : (menoleh, dan tanpa diperintah mengikuti
majikannya. Langkahnya seirama dengan dag dig dug degub jantungnya yang bingar)
Mam : “Look!!”
Sundari : (mengamati, tertegun dan tidak mengerti)
Mam : “It’s
your panty, isn’t it?” (mengangkat sesuatu (celana dalam) dengan sebuah
sisir)
Sundari tersenyum, mengingat-ingat
perilaku tuannya, ia salah tingkah menghadapi sikap nyonyanya.
Sundari : “Nnn.. no, no Mam. My panty is big-big one.”
Mam mengerutkan dahi, wajahnya semakin kelihatan
judes mendengar jawaban Sundari. Mam mulai menangis. Ia bergegas menuju kamar
Sundari. Setibanya di kamar pembantunya, Mam membuka laci pakaian Sundari. Foto
usang Parjo meringis di depan sepeda motor tetangga, terlihat.
Tangis Mam semakin menjadi ketika
menenteng celana dalam murahan berukuran XL milik Sundari. Mam menangis
meraung-raung.
Sundari :
“Mam, the food is ready!”
[bahasa inggris patah-patah Sundari]..” (sundari mengetuk
pintu Mam berulang kali, tetapi Nyonya tetap mengurung diri di kamar)
Sundari tetap berusaha santai dengan
mengerjakan semua rutinitas pekerjaannya. Saat itu, nyonya memanggil Sundari.
Mam : “Cundalii..!! Come here..!”
Sundari :
“Ohh, yes Mam..” (Sundari mendekat, sopan, menunduk kepada majikannya)
Mam : “Please,
put all of my clothes into my bag!” (menunjuk baju-baju di lemari
pakaiannya)
Sundari :
“Yes, yes, Mam..” (Sundari mengangguk-angguk, tidak merasakan keganjilan
apa pun)
Pagi hari, seperti biasanya Sundari
mengerjakan semua rutinitas pekerjaan rumah tangga. Tiba-tiba Mam memanggil
Sundari. Saat itu, nampaknya Mam telah bersiap-siap untuk pergi.
Mam : “Cundali, you
must stay in here. Don’t go anywhere!
(mimik Mam menunjukkan dengan jelas pesan apa yang disampaikannya untuk
Sundari)
Sundari :
...(mengangguk-angguk)
Sundari
mulai mampu meraba apa yang tengah terjadi.
^^^
Sepekan setelah kepergian Nyonya, ketika
persediaan makan mendekati habis.
Tok..tok..tok..
Tok.. tok.. tok..
Terdengar suara nyaring dari ketukan
pintu. Ketika itu, Sundari sedang merapikan ruang tamu. Sundari kemudian
menghampiri pintu dan membukakannya. Ternyata Mamlah yang berada di balik pintu
itu. Nyonya pulang bersama seseorang dari agen penyalur tenaga kerja yang
memasokkan Sundari ke majikannya di Hong Kong.
Miss Lam :
“Cundali, kamu punya majikan mau celai.
Kamu punya kelja tidak ada. Kamu
dipulangkan.”
Sundari :
(diam, menunduk)
Miss Lam berusaha memberi pengertian
pada Sundari. Saat itu Sundari hanya ingat Kang Parjo, suaminya di dekat sepeda
motor tetangga, meringis. Padahal Sundari ingin menangis.
^^^
Ruang
tunggu Bandara Chek Lap Kok.
Marni :
“Indonesia, hamaiya?”
Sundari :
“Ya.”
Marni :
“Dipulangkan meh?”
Sundari :
(merasa agak gerah dengan pertanyaan yang dilontarkan wanita itu. Tapi,
mencoba tetap tenang)
“Kok tahu?”
Marni :
“Rambutnya pendek dan bawaannya sedikit ma!”
Sundari tersenyum getir. Lalu perempuan
yang menyapanya itu pun duduk di sampingnya. Berbincang-bincang dengan bahasa
negeri sendiri meski Sundari merasa bahasa perempuan itu agak dibuat-buat.
Sundari merasa akan kembali ke dunianya. Sundari mengingat-ingat semua hal yang
dilewatinya ketika ia mengabdi kepada majikannya.
Sundari merasa lelah. Kelelahan yang
jelas menggurat di wajah Sundari yang bulat.
Ternyata, Marni, gadis di sebelahnya itu
bekerja di flat yang sama dengannya! Satu tingkat di atasnya. Marni juga
dipulangkan.
Marni : “Namanya majikan ya Mbak, salah
bener ya maunya bener. Hamai sin?
Ngapain Mbak dipulangkan?”
Sundari :
“Majikanku cerai. Kamu?”
Marni :
“Karena celana dalam! Jisin!
Dasar majikan nggak tahu diuntung! Seenaknya bilang aku cerob...”
Sundari :
“Celana dalam? Jangan-jangan warnanya merah muda?” (Sundari kaget,
terkejut, memotong pembicaraan Marni)
Marni :
“Haiya, haiya!”
Sundari :
“Ada renda-renda di samping kanan dan kirinya ya?”
Marni : “Haiya!!”
Sundari :
“Kecil, mereknya Sexygirl?”
Marni :
“Haiwo!! TIM CHI CEK? Kok tahu?”
Sundari bengong, teringat ia akan celana
dalam merah muda yang telah berubah menjadi guntingan kain kecil-kecil tak
beraturan di kamar majikannya.
Berjalan
menuju pintu masuk.
Mengingat nasibnya, nasib Marni, juga
nasib majikannya, Sundari tersenyum tanpa sadar.
Pria : (berdiri di sebelah kiri pintu masuk,
menyambut senyum Sundari)
Sundari mengalihkan
pandang cepat-cepat kepada Marni.
Sundari :
“Ceritanya singkat, Nanti aku ceritakan di dalam pesawat.”
Pengeras suara sudah meneriakkan
pengumuman bahwa pesawat menuju Surabaya akan segera lepas landas.
Marni :
(mengangguk-angguk sambil melongo)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar