PERIODE KESUSASTRAAN INDONESIA
“ANGKATAN BALAI PUSTAKA”
Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Sejarah Sastra
Pengampu : Adyana
Sunanda
Anggota Kelompok 6:
1. Seno
Utomo (A310130133)
2. Niken
Tri Utami (A310130152)
3. Fitri
Yulianti (A310130155)
4. Wiwin
Wahyuningsih (A310130167)
5. Ilham
Lazimi (A310130170)
Kelas
2 D
PENDIDIKAN
BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah
segala puji syukur hanya kita panjatkan kehadirat Allah Swt atas kekuatan,
kesempatan, kesehatan dan limpahan nikmat lainnya yang telah diberikan kepada
kami, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Makalah ini dengan
judul “Periode Kesusastraan Indonesia Angkatan Balai Pustaka”. Makalah ini
disusun untuk memenuhi tugas Sejarah Sastra, tahun ajaran 2014 Universitas
Muhammadiyah Surakarta dengan harapan dapat bermanfaat dan dapat menambah ilmu
pengetahuan bagi kita semua.
Kami menyadari
bahwa dalam penulisan karya tulis ini masih banyak terdapat kekurangan, seperti
pepatah mengatakan “Tiada Gading Yang Tak Retak”, oleh karena itu kami
sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak
pembaca.
Akhirnya kami
berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca atau pihak yang
membutuhkan.
Surakarta,
27 Maret 2014
Penulis
i
DAFTAR ISI
Halaman
Judul
Kata Pengantar…………………............……………….……….................... i
Daftar
Isi…………………………………………………............................... ii
BAB I PENDAHULUAN……............………………..…….................….... 1
A. Latar
Belakang……………….…..…………......…....................... 1
B. Rumusan Masalah…………………...……...….............................
1
C. Tujuan Rumusan Masalah...............................................................
2
BAB II PEMBAHASAN……........…………………………….………........
3
A. Pembabakan atau Periodisasi Sastra......……………..………....... 3
B. Periode
Sastra Angkatan Balai Pustaka....…………..….………... 4
C. Tokoh-tokoh
Angkatan Balai Pustaka.…………..….…......……..
5
D. Contoh-contoh Karya Sastra Angkatan Balai
Pustaka...……........ 7
E. Perbandingan Karya Sastra Angkatan Balai
Pustaka
dengan
Angkatan Lain..................................................................... 8
BAB III KESIMPULAN…………………………….………….........…...... 14
Daftar
Pustaka..................................................................................................... 15
ii
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sastra merupakan sebuah istilah kata bahasa
Indonesia yang berasal dari bahasa Sansekerta yaitu sas yang berarti mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk.
Sedangkan akhiran tra merujuk pada
alat atau sarana. Menurut Teeuw (2002:23) dapat dikatakan bahwa sastra
merupakan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau alat pengajaran. Sedangkan karya sastra sendiri merupakan suatu karya yang mengandung nilai
seni dan mengarah pada pedoman serta pemikiran hidup.
Jika menelaah mengenai sastra dan karya sastra
maka tentu saja tidak akan pernah luput dari perkembangannya, termasuk pada
perkembangan setiap angkatan dan penulisan sejarah sastra Indonesia. Sastra
sendiri bersifat nisbi atau dapat berubah-ubah. Seperti halnya ilmu lain,
sastra juga mengalami perkembangan dari waktu ke waktu sesuai dengan
periodenya. Dalam setiap angkatan atau periodisasi sastra memiliki suatu karya
sastra pasti mempunyai nilai esensi dan karakteristik tersendiri. Pembabakan
sastra khususnya pada angkatan Balai Pustaka membawa kembali berfikir jauh ke
era 1920-an. Menurut ungkapan Teeuw (1980:15) tahun tersebut merupakan tahap
awal lahirnya kesusastraan Indonesia modern serta awal munculnya eksistensi
kesusastraan Indonesia. Melihat tinjauan tersebut, maka penulis ingin
menganalisis tentang periode sastra angkatan Balai Pustaka dengan tujuan
mengetahui lebih terperinci mengenai sejarah, tokoh-tokoh dan karakteristik
dari hasil karya sastra pada masa tersebut serta perbandingan angkatan Balai Pustaka
dengan yang lain.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah
yang dimaksud dengan pembabakan atau periodisasi sastra?
2. Apakah
hakikat dari periode sastra angkatan Balai Pustaka?
3. Siapa
sajakah tokoh-tokoh dari angkatan Balai Pustaka?
4. Seperti
apakah contoh-contoh karya sastra angkatan Balai Pustaka?
5. Bagaimanakah
perbandingan karya sastra angkatan Balai Pustaka dengan angkatan yang lain?
C. Tujuan Rumusan Masalah
1. Untuk
memahami pembabakan atau periodisasi sastra.
2. Untuk
memahami hakikat dari periode sastra angkatan Balai Pustaka.
3. Untuk
memahami tokoh-tokoh angkatan Balai Pustaka.
4. Untuk
memahami contoh-contoh karya sastra angkatan Balai Pustaka.
5. Untuk
memahami perbandingan karya sastra angkatan Balai Pustaka dengan angkatan yang
lain.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pembabakan atau Periodisasi Sastra
Pembabakan atau periodisasi sastra adalah pengklasifikasian jenis-jenis
karya sastra baik meliputi lingkup hasil karya saja, maupun dari sudut pandang pengarangnya
sendiri yang berlandaskan pada waktu penurunan atau penerbitan karya tersebut
secara otomatis pada waktu itu. Pembabakan sastra ini dilakukan akibat dari
adanya keserupaan antara karya sastra yang satu dengan yang lain. Pembabakan
ini dimulai pada tahun 1920 dengan karya Merari Siregar mengawali eksistensi
karya sastra sebagai karya pertama yang muncul dengan judul Azab dan Sengsara. Roman
Azab dan Sengsara buah tangan Merari Siregar merupakan kritik tak langsung
kepada berbagai adat dan kebiasaan buruk yang tidak sesuai lagi dengan zaman
modern. Roman ini merupakan roman pertama tentang kawin paksa, dan buah tangan
M. Kasim yaitu Muda Teruna (1922) yang berupa hikayat.
Periode sendiri merupakan sekedar kesatuan waktu dalam
perkembangan sastra yang dikuasai oleh suatu tata aturan tertentu atau kesatuan
waktu yang memiliki sifat dan cara pengucapan yang khas dan berbeda dengan masa
sebelumnya. Angkatan adalah sekelompok pengarang yang memiliki kesamaan
konsepsi atau kesamaan ide yang hendak dilaksanakan dan diperjuangkan (Sarwadi,
1999:26).
Dapat
dikatakan bahwa hubungan antara periode dengan angkatan tidak dapat dipisahkan
karena keduanya merupakan kesatuan yang tidak dapat berdiri sendiri dan untuk
mengetahui lebih dalam tentang periode sastra maka harus mengetahui pula
tentang angkatan sastra, dan juga sebaliknya.
Pendirian
sastra Indonesia baru ditegakkan pada tahun 1920-an dengan munculnya Balai
Pustaka. Sastra pada saat itu berkembang sampai saat ini yang secara umum
terbagi dalam beberapa periode, yaitu angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru,
angkatan 1945, angkatan 1950, angkatan 1966, dan angkatan 1970 hingga sekarang.
Pada era 2000-an mulai dapat ditemui beberapa karya cyber sastra, yakni sastra yang beredar luas di dunia internet.
B. Periode Sastra Angkatan Balai
Pustaka
Balai Pustaka merupakan angkatan 20
atau populer dijuluki dengan angkatan
Siti Nurbaya. Menurut Sarwadi (1999:25) nama Balai Pustaka mencakup dua
pengertian: (1) Sebagai nama penerbit, (2) Sebagai nama angkatan pada sastra
Indonesia.
Menurut Sarwadi (1999:27) dengan
keberadaan Balai Pustaka memberikan pengaruh pada perkembangan sastra
Indonesia. Jadi sastrawan Indonesia bisa melontarkan sesuatu yang menjadi beban
pikirannya melalui sebuah tulisan yang bisa dinikmati oleh dirinya sendiri dan
orang lain atau penikmat sastra. Balai Pustaka memiliki tujuan untuk
menyalurkan konsumsi berupa bacaan kepada rakyat yang berisi tentang politik
pemerintahan kolonial, sehingga mengenai hal itu Balai Pustaka sudah memberikan
informasi tentang ajaran politik kolonial. Berdasarkan penyataan itu, dengan didirikannya
Balai Pustaka sudah dapat memberikan manfaat kepada rakyat Indonesia, dan
dengan demikian sastra Indonesia bisa terus berkembang.
Menurut Sarwadi (1999:31)
pada era lahirnya sastra angkatan
Balai Pustaka timbul beberapa hal yang menonjol yaitu cita-cita masyarakat dan
sikap hidup serta adat istiadat. Hal itu tercermin oleh kesadaran
masyarakat khususnya para penulis akan pentingnya persatuan demi terciptanya
kesatuan bangsa yang ditampilkan melalui karya sastra di mana menggunakan
bahasa persatuan Indonesia yang akan tetapi tidak memperlihatkan bahwa setiap
masyarakat Indonesia telah tanpa sadar meninggalkan adat istiadatnya namun
dengan keanekaragaman adat istiadatnya menjadikan suatu alat untuk
mempersatukan bangsa Indonesia. Dengan demikian dapat disimpulkan beberapa
karakteristik yang khas dari angkatan Balai Pustaka.
1. Dilihat dari karya sastra yang
muncul, sebagian besar karya sastra angkatan Balai Pustaka mengambil tema
masalah kawin paksa.
2. Peristiwa yang dikisahkan sesuai
dengan realitas kehidupan masyarakat.
3. Latar belakang sosial sastra
angkatan Balai Pustaka berupa pertentangan paham antara kaum muda dengan kaum
tua. Contohnya, novel Salah Asuhan, dan Si Cebol
Rindukan Bulan, yang memiliki kecenderungan simpati kepada yang lama, bahwa
yang baru tidak semuanya membawa kebaikan.
4. Pelaku
novel angkatan Balai Pustaka masih mencerminkan kehidupan tokoh-tokoh yang
berasal dari daerah, sehingga unsur nasionalitas pada sastra Balai Pustaka
belum jelas.
5. Sastra
Balai Pustaka merupakan sastra bertendes dan bersifat didaktis yaitu lebih
cenderung pada sesuatu khususnya mengenai permasalahan diatas sehingga terlihat
seolah-olah karyanya hanya itu-itu saja/monoton.
6. Bahasa
sastra Balai Pustaka adalah bahasa Indonesia pada masa permulaan perkembangan
yang pada masa itu disebut bahasa melayu umum.
7. Jenis
sastra Balai Pustaka berbentuk novel, sedangkan puisinya masih berupa pantun
dan syair.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu
untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh
sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan
dianggap memiliki misi politis (liar). Balai
Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa
Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam
bahasa Bali, bahasa Batak dan bahasa Madura.
C.
Tokoh-tokoh
Angkatan Balai Pustaka
Balai Pustaka merupakan pelopor penerbit
karya sastra di Indonesia sejak tahun 1920-1950. Prosa (roman, novel, cerita
pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun,
gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa tersebut.
Berikut ini merupakan beberapa tokoh-tokoh atau sastrawan angkatan Balai Pustaka.
a. Azab dan Sengsara (1920)
b. Binasa
Kerna Gadis Priangan (1931)
d. Cerita
tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi (1924)
a. Siti Nurbaya (1922)
b. La Hami (1924)
c. Anak dan Kemenakan (1956)
D. Contoh-contoh Karya Sastra Angkatan
Balai Pustaka
Adapun perintis puisi baru pada masa
angkatan 20 adalah Moh. Yamin.
Beliau dipandang sebagai penyair Indonesia baru yang pertama karena ia
mengadakan pembaharuan puisi Indonesia, pembaharuannya dapat dilihat dari
kumpulan puisi Tanah Air pada tahun 1922. Berikut ini merupakan catatan puisi
Moh. Yamin.
Di
atas batasan bukit barisan
Memandang
beta ke bawah memandang,
Tampaklah
hutan rimba dan ngarai,
Lagipula
sawah, telaga nan permai,
Serta
gerangan lihatlah pula,
Langit
yang hijau bertukar warna
Oleh
pucuk daun kelapa
Dari segi
isi, puisi ini merupakan ucapan perasaan pribadi seorang manusia yang rindu
pada keagungan yang Maha Kuasa. Dari segi bentuk, jumlah barisnya tidak lagi
empat baris, seperti syair dan pantun dan persajakannya (rima) tidak sama.
Adapun contoh puisi dari Rustam Effendi yaitu sebagai berikut.
Bukan beta pijak berperi
Bukan beta pijak berperi,
Pandai mengubah madahan syair
Bukan
beta budak berperi,
Musti
menurut undangan mair,
Sarat
– saraf saya mungkiri
Untai
rangkaian seloka lama,
Beta
buang beta singkiri
Sebab
laguku menurut sukma
Dilihat
bentuknya, puisi tersebut seperti pantun, tetapi dilihat hubungan barisnya,
seperti syair, ia meniadakan tradisi sampiran dalam pantun sehingga sajak itu
disebut pantun modern, yang lebih banyak menggunakan sajak aliterasi, asonansi,
dan sajak dalam sehingga beliau dipandang sebagai pelopor penggunaan sajak
asonansi dan aliterasi.
E. Perbandingan Karya Sastra Angkatan
Balai Pustaka dengan Angkatan Lain.
Secara
urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan. Berikut ini
merupakan klasifikasi dari beberapa periodisasi angkatan karya sastra di
Indonesia.
- Angkatan Pujangga Lama
Sebelum abad ke-20 telah lebih
dahulu muncul karya sastra yang dihasilkan yaitu pada angkatan Pujangga Lama.
Syair, pantun, gurindam dan hikayat dikatakan yang merajai pada masa itu.
Beberapa contoh karya sastra pada angkatan Pujangga Lama.
a. Sejarah Melayu (Malay Annals)
b. Hikayat Abdullah
c. Hikayat Hang Tuah
d. Hikayat Sri Rama
e. Syair Bidasari
f. Kitab
agama Syarab al-'Asyiqin
(Minuman Para Pecinta) oleh Hamzah Fansuri
g. Kitab
agama Bustan as-Salatin
(Taman raja-raja) oleh Nuruddin ar-Raniri
- Angkatan Sastra Melayu Lama
Karya
sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870-1942, yang berkembang
dilingkungan masyarakat Sumatera seperti Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya. Karya
sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat
dan terjemahan novel barat. Berikut ini merupakan beberapa contoh karya sastra
melayu lama.
a. Nyai Dasima oleh G. Francis
b. Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer
c. Cerita Nyi Paina
d. Cerita Nyai Sarikem
e. Cerita Si Conat oleh F.D.J.
Pangemanan
- Angkatan Balai Pustaka
Periode
angkatan Balai Pustaka ini sebagian adalah roman, puisi, syair dan pantun.
Karakteristik pada angkatan ini yaitu: (1) Gaya bahasanya mempergunakan
perumpamaan klise, pepatah dan peribahasa, (2) Teknik
penokohan dan perwatakannya menggunakan analisis langsung, (3) Banyak
sisipan-sisipan peristiwa yang tidak langsung berhubungan dengan inti
cerita, seperti uraian adat, dongeng-dongeng, syair, dan pantun
nasihat, (4) Cita-cita kebangsaan belum
dipermasalahkan, masalah masih bersifat kedaerahan.
Berikut
ini merupakan beberapa contoh, ciri-ciri dan karya penting pada angkatan Balai
Pustaka.
|
Ciri-ciri
|
Karya
Penting
|
Pengarang
|
|
Puisinya berupa syair dan pantun
Alirannya bercorak romantic
Soal kebangsaan belum mengemuka
Gaya bahasa masih menggunakan perumpamaan
|
Azab dan Sengsara
|
Merari Siregar
|
|
Sitti Nurbaya
|
Marah Rusli
|
|
|
Salah Asuhan
|
Abdul Muis
|
|
|
Sengsara Membawa Nikmat
|
Tulis Sutan Sati
|
- Angkatan Pujangga Baru
Istilah angkatan Pujangga Baru
diperuntukkan kepada karya-karya yang lahir tahun ‘30-‘40an yang diambil dari
majalah Pujangga Baroe yang terbit tahun 1933. Puisi merupakan sebagian karya
yang mendominasi pada periode Pujangga Baru. Selain itu terbit juga karya
sastra berjenis cerita pendek dan drama. Berikut ini ciri-ciri karya sastra
pada periode Pujangga Baru.
|
Ciri-ciri
|
Karya
Penting
|
Pengarang
|
|
Dinamis
Individualistis
Tidak persoalkan tradisi sebagai temanya
Hasil karya bercorak kebangsaan
|
Layar Terkembang
|
S.T. Alisyahbana
|
|
Belenggu
|
Armin Pane
|
|
|
Indonesia Tumpah Darahku
|
Muhammad Yamin
|
|
|
Nyanyian Sunyi & Buah Rindu
|
Amir Hamzah
|
Ang
- Angkatan 1945
Angkatan
1945 disebut juga sebagai angkatan Chairil Anwar berkat perjuangannya dalam
melahirkan angkatan 1945 ini. Dikatakan juga sebagai angkatan kemerdekaan
karena lahir pada tahun Indonesia memproklamirkan kemerdekaan. Pada periode ini
berkembang jenis-jenis sastra seperti puisi, cerita pendek, novel dan drama.
Berikut adalah beberapa ciri-ciri karya sastra angkatan 1945.
|
Ciri-ciri
|
Karya
|
Pengarang
|
|
Bebas
Individualistis
Universitalitas
Realitas
|
Aku
|
Chairil Anwar
|
|
Tiga Menguak Takdir
|
Chairil Anwar, Asrul Sani, Riayi
Apin
|
|
|
Atheis
|
Achdiat Karta Mihardja
|
|
|
Dari Ave Maria ke Jalan Lain Roma
|
Idrus
|
|
|
Surat Kertas Hijau dan Wajah Tak
Bernam
|
Sitor Situmorang
|
- Angkatan 1950 - 1960-an
Angkatan ini dicirikan dengan
terbitnya majalah sastra Kisah asuhan dari H.B. Jassin yang didominasi dengan
cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956
dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan
komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan
Rakjat (Lekra)
yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik
yang berkepanjangan di antara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960 yang menyebabkan terhentinya
perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada
tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia. Beberapa contoh karya
sastra dan pengarangnya pada angkatan 1950-1960-an.
a. Cerita dari Blora (1952) oleh
Pramoedya Ananta Toer
b. Dua Dunia (1950) oleh Nh. Dini
c. Robohnya Surau Kami (1955) oleh Ali
Akbar Navis
d. Balada Orang-orang Tercinta (1957)
oleh W.S. Rendra
|
e.
Hujan
Kepagian (1958) oleh Nugroho Notosusanto
|
- Angkatan 1966 - 1970-an
Nama angkatan ’66 dicetuskan oleh
Hans Bague Jassin melalui bukunya yang berjudul Angkatan ’66 bersamaan dengan
kondisi politik Indonesia yang tengah kacau akibat PKI. Contoh, ciri-ciri dan
karya penting pada angkatan ’66.
|
Ciri-ciri
|
Karya
|
Pengarang
|
|
Kebanyakan tentang protes terhadap
sosial dan politik
Mulai dikenal gaya epic pada puisi
Banyak penggunaan gaya retorik dan
slogan
Cerita dengan berlatar perang
|
Pagar Kawat
Berduri
|
Toha Mochtar
|
|
Tirani dan Benteng
|
Taufiq Ismail
|
|
|
Pariksit
|
Goenawan Mohammad
|
|
|
Para Priayi
|
Umar Kayam
|
|
|
Mata Pisau dan Peluru Kertas
|
Supardi Joko Damono
|
- Angkatan 1980 - 1990-an
Karya sastra Indonesia pada setelah
tahun 1980 ditandai dengan banyaknya roman pecintaan karya sastrawan wanita
yang menonjol pada masa tersebut. Berikut ini merupakan beberapa contoh
ciri-ciri dan karya pada Angkatan ’80-an.
|
Ciri-ciri
|
Karya
|
Pengarang
|
|
Didominasi
oleh roman percintaan
Konvensional
: tokoh antagonis selalu kalah
Tumbuh
sastra beraliran pop
Karya
sastra tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum
|
Pulau Buru
|
Pramoedya Ananta Toer
|
|
Burung- Burung Manyar
|
Y.B Mangun Wijaya
|
|
|
Boko
|
Darman Moenir
|
|
|
Ronggeng Dukuh Paruk
|
Ahmad Tohari
|
|
|
Lupus
|
Hilman Hariwijaya
|
- Angkatan Reformasi
Munculnya
angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun
novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Berbagai
pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi
sajak-sajak bertema sosial-politik. Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan
keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring
dengan jatuhnya Orde Baru. Berikut ini merupakan beberapa contoh, ciri-ciri dan
karya pada Angkatan Reformasi.
|
Ciri-ciri
|
Karya
|
Pengarang
|
|
Bertemakan sosial-politik
Penuh kebebasan ekspresi dan
pemikiran
Menampilkan sajak-sajak peduli
bangsa
Religious dan nuansa sufistik
|
Puisi Pelo
|
Widji Thukul
|
|
Resonansi Indonesia
|
Ahmodun Yosi Herfanda
|
|
|
Di Luar Kota
|
Acep Zamzam Noer
|
|
|
Abad yang Berlari
|
Afrizal Malna
|
|
|
Opera Kecoa
|
N. Rianto
|
- Angkatan 2000-an
Angkatan ini ditandai dengan
munculnya wacana tentang lahirnya “Sastrawan Angkatan 2000” oleh Korrie Layun
Rampan pada tahun 2002 dengan diterbitkan bukunya tentang Angkatan 2000 oleh
Gramedia, Jakarta. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, kritikus
sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000. Angkatan ini dikatakan karya-karya
yang muncul cenderung berani dan vulgar serta kebanyakan mengadopsi begitu saja
moral pergaulan bebas ala remaja Amerika. Tetapi pada masa ini, muncul jua
fiksi-fiksi islami. Contoh ciri-ciri dan karya pada Angkatan 2000.
|
Ciri-ciri
|
Karya
|
Pengarang
|
|
Karya cenderung vular
Mulai bermunculan fiksi-fiksi
islami
Muncul cyber sastra di internet
Bahasa kerakyatjelataan
|
Saman
|
Ayu Utami
|
|
Atas Nama Malam
|
Seno umira Ajidarma
|
|
|
Supernova
|
Dewi Lestari
|
|
|
Pulau Cinta
di Peta Buta
|
Raudal Tanjung Banua
|
|
|
Ayat-Ayat Cinta
|
Habiburrahman El-Shirazy
|
BAB III
KESIMPULAN
Pembabakan
atau periodisasi sastra adalah pengklasifikasian jenis-jenis karya sastra baik
meliputi lingkup hasil karya saja, maupun dari sudut pandang pengarangnya
sendiri yang berlandaskan pada waktu penurunan atau penerbitan karya tersebut
secara otomatis pada waktu itu. Pembabakan sastra ini dilakukan akibat dari
adanya keserupaan antara karya sastra yang satu dengan yang lain. Pendirian
sastra Indonesia baru ditegakkan pada tahun 1920-an dengan munculnya Balai
Pustaka.
Menurut
Sarwadi (1999: 27) dengan keberadaan Balai Pustaka memberikan pengaruh pada perkembangan
sastra Indonesia. Jadi sastrawan Indonesia bisa melontarkan sesuatu yang
menjadi beban pikirannya melalui sebuah tulisan yang bisa dinikmati oleh dirinya
sendiri dan orang lain atau penikmat sastra.
Beberapa
tokoh dari periode sastra angkatan Balai Pustaka yaitu, Merari Siregar, Marah Roesli, Muhammad Yamin, Nur Sutan Iskandar,
Tulis Sutan Sati, Abdul Muis, Aman Datuk Madjoindo,
dan
lain-lain.
Secara urutan waktu maka sastra
Indonesia terbagi atas beberapa angkatan, yaitu seperti Angkatan Pujangga Lama,
Angkatan Sastra Melayu Lama, Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan
1945, Angkatan 1950 - 1960-an, Angkatan 1966 - 1970-an, Angkatan 1980 - 1990-an,
Angkatan Reformasi, dan Angkatan 2000-an.
DAFTAR
PUSTAKA
Afrimawili.
2013. “Karakteristik Sastra Angkatan Balai Pustaka”. http://afrimawili.blogspot.com/2013/01/karakteristik-sastra-angkatan-balai.html. Diakses pada 27 Maret 2014 pukul 13:44 WIB.
Dukuhsastro. 2011. “Sastra Indonesia di Era 1900-1933”. http://dukuhsastro.blogspot.com/2011/02/sastra-indonesia-di-era-1900-1933-m.html. Diakses pada 27 Maret 2014 pukul 13:50 WIB.
Hastasa,
Teater. 2013. “Sastrawan Angkatan Balai Pustaka”. http://teater-hastasa.blogspot.com/2013/04/sastrawan-angkatan-balai-pustaka.html.
Diakses
pada 27 Maret 2014 pukul 13:50 WIB.
Rampan,
Korrie Layun. 1982. Cerita Pendek
Indonesia Mutakhir; Sebuah Pembicaraan. Yogyakarta: CV Nur Cahaya.
Sampit,
Remaja. 2012. “Sejarah Balai Pustaka”. http://remajasampit.blogspot.com/2012/12/sejarah-balai-pustaka.html.
Diakses
pada 27 Maret 2014 pukul 14.00 WIB.
Wikipedia.
2011. “Sastra Indonesia”. http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Indonesia.
Diakses pada 27 Maret 2014 pukul 14:10 WIB.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar