Minggu, 21 Desember 2014

Sejarah Sastra [2]

PERIODE KESUSASTRAAN INDONESIA
“ANGKATAN BALAI PUSTAKA”


Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Sastra
                                                          Pengampu : Adyana Sunanda






 Anggota Kelompok 6:

          1.      Seno Utomo                          (A310130133)
          2.      Niken Tri Utami                  (A310130152)
          3.      Fitri Yulianti                        (A310130155)
          4.      Wiwin Wahyuningsih         (A310130167)
          5.      Ilham Lazimi                        (A310130170)

Kelas 2 D


PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014



KATA PENGANTAR

    Alhamdulillah segala puji syukur hanya kita panjatkan kehadirat Allah Swt atas kekuatan, kesempatan, kesehatan dan limpahan nikmat lainnya yang telah diberikan kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan  Makalah ini dengan judul “Periode Kesusastraan Indonesia Angkatan Balai Pustaka”. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Sejarah Sastra, tahun ajaran 2014 Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan harapan dapat bermanfaat dan dapat menambah ilmu pengetahuan bagi kita semua.
    Kami menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis ini masih banyak terdapat kekurangan, seperti pepatah mengatakan “Tiada Gading Yang Tak Retak”, oleh karena itu kami sangat  mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak pembaca.
    Akhirnya kami berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca atau pihak yang membutuhkan.


                                                                              Surakarta, 27 Maret 2014


                                                                              Penulis









i
DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar…………………............……………….………....................      i
Daftar Isi…………………………………………………...............................    ii

BAB I  PENDAHULUAN……............………………..…….................…....    1
            A.   Latar Belakang……………….…..…………......….......................    1
            B.   Rumusan Masalah…………………...……...….............................    1
            C.   Tujuan Rumusan Masalah...............................................................    2

BAB II PEMBAHASAN……........…………………………….………........     3
A.   Pembabakan atau Periodisasi Sastra......……………..……….......     3
B.   Periode Sastra Angkatan Balai Pustaka....…………..….………...     4
C.   Tokoh-tokoh Angkatan Balai Pustaka.…………..….…......……..     5
D.   Contoh-contoh Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka...……........     7
E.   Perbandingan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka
dengan Angkatan Lain.....................................................................    8

BAB III   KESIMPULAN…………………………….………….........…......  14

Daftar Pustaka.....................................................................................................  15








ii

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Sastra merupakan sebuah istilah kata bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Sansekerta yaitu sas yang berarti mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk. Sedangkan akhiran tra merujuk pada alat atau sarana. Menurut Teeuw (2002:23) dapat dikatakan bahwa sastra merupakan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau alat pengajaran. Sedangkan karya sastra sendiri merupakan suatu karya yang mengandung nilai seni dan mengarah pada pedoman serta pemikiran hidup.
Jika menelaah mengenai sastra dan karya sastra maka tentu saja tidak akan pernah luput dari perkembangannya, termasuk pada perkembangan setiap angkatan dan penulisan sejarah sastra Indonesia. Sastra sendiri bersifat nisbi atau dapat berubah-ubah. Seperti halnya ilmu lain, sastra juga mengalami perkembangan dari waktu ke waktu sesuai dengan periodenya. Dalam setiap angkatan atau periodisasi sastra memiliki suatu karya sastra pasti mempunyai nilai esensi dan karakteristik tersendiri. Pembabakan sastra khususnya pada angkatan Balai Pustaka membawa kembali berfikir jauh ke era 1920-an. Menurut ungkapan Teeuw (1980:15) tahun tersebut merupakan tahap awal lahirnya kesusastraan Indonesia modern serta awal munculnya eksistensi kesusastraan Indonesia. Melihat tinjauan tersebut, maka penulis ingin menganalisis tentang periode sastra angkatan Balai Pustaka dengan tujuan mengetahui lebih terperinci mengenai sejarah, tokoh-tokoh dan karakteristik dari hasil karya sastra pada masa tersebut serta perbandingan angkatan Balai Pustaka dengan yang lain.

B.  Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan pembabakan atau periodisasi sastra?
2.      Apakah hakikat dari periode sastra angkatan Balai Pustaka?
3.      Siapa sajakah tokoh-tokoh dari angkatan Balai Pustaka?
4.      Seperti apakah contoh-contoh karya sastra angkatan Balai Pustaka?
5.      Bagaimanakah perbandingan karya sastra angkatan Balai Pustaka dengan angkatan yang lain?

C.  Tujuan Rumusan Masalah
1.      Untuk memahami pembabakan atau periodisasi sastra.
2.      Untuk memahami hakikat dari periode sastra angkatan Balai Pustaka.
3.      Untuk memahami tokoh-tokoh angkatan Balai Pustaka.
4.      Untuk memahami contoh-contoh karya sastra angkatan Balai Pustaka.
5.      Untuk memahami perbandingan karya sastra angkatan Balai Pustaka dengan angkatan yang lain.



















BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pembabakan atau Periodisasi Sastra
Pembabakan atau periodisasi sastra adalah pengklasifikasian jenis-jenis karya sastra baik meliputi lingkup hasil karya saja, maupun dari sudut pandang pengarangnya sendiri yang berlandaskan pada waktu penurunan atau penerbitan karya tersebut secara otomatis pada waktu itu. Pembabakan sastra ini dilakukan akibat dari adanya keserupaan antara karya sastra yang satu dengan yang lain. Pembabakan ini dimulai pada tahun 1920 dengan karya Merari Siregar mengawali eksistensi karya sastra sebagai karya pertama yang muncul dengan judul Azab dan Sengsara. Roman Azab dan Sengsara buah tangan Merari Siregar merupakan kritik tak langsung kepada berbagai adat dan kebiasaan buruk yang tidak sesuai lagi dengan zaman modern. Roman ini merupakan roman pertama tentang kawin paksa, dan buah tangan M. Kasim yaitu Muda Teruna (1922) yang berupa hikayat.
Periode sendiri merupakan sekedar kesatuan waktu dalam perkembangan sastra yang dikuasai oleh suatu tata aturan tertentu atau kesatuan waktu yang memiliki sifat dan cara pengucapan yang khas dan berbeda dengan masa sebelumnya. Angkatan adalah sekelompok pengarang yang memiliki kesamaan konsepsi atau kesamaan ide yang hendak dilaksanakan dan diperjuangkan (Sarwadi, 1999:26).
Dapat dikatakan bahwa hubungan antara periode dengan angkatan tidak dapat dipisahkan karena keduanya merupakan kesatuan yang tidak dapat berdiri sendiri dan untuk mengetahui lebih dalam tentang periode sastra maka harus mengetahui pula tentang angkatan sastra, dan juga sebaliknya.
Pendirian sastra Indonesia baru ditegakkan pada tahun 1920-an dengan munculnya Balai Pustaka. Sastra pada saat itu berkembang sampai saat ini yang secara umum terbagi dalam beberapa periode, yaitu angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, angkatan 1945, angkatan 1950, angkatan 1966, dan angkatan 1970 hingga sekarang. Pada era 2000-an mulai dapat ditemui beberapa karya cyber sastra, yakni sastra yang beredar luas di dunia internet.

B.  Periode Sastra Angkatan Balai Pustaka
Balai Pustaka merupakan angkatan 20 atau populer  dijuluki dengan angkatan Siti Nurbaya. Menurut Sarwadi (1999:25) nama Balai Pustaka mencakup dua pengertian: (1) Sebagai nama penerbit, (2) Sebagai nama angkatan pada sastra Indonesia.
Menurut Sarwadi (1999:27) dengan keberadaan Balai Pustaka memberikan pengaruh pada perkembangan sastra Indonesia. Jadi sastrawan Indonesia bisa melontarkan sesuatu yang menjadi beban pikirannya melalui sebuah tulisan yang bisa dinikmati oleh dirinya sendiri dan orang lain atau penikmat sastra. Balai Pustaka memiliki tujuan untuk menyalurkan konsumsi berupa bacaan kepada rakyat yang berisi tentang politik pemerintahan kolonial, sehingga mengenai hal itu Balai Pustaka sudah memberikan informasi tentang ajaran politik kolonial. Berdasarkan penyataan itu, dengan didirikannya Balai Pustaka sudah dapat memberikan manfaat kepada rakyat Indonesia, dan dengan demikian sastra Indonesia bisa terus berkembang.
Menurut Sarwadi (1999:31) pada era lahirnya sastra angkatan Balai Pustaka timbul beberapa hal yang menonjol yaitu cita-cita masyarakat dan sikap hidup serta adat istiadat. Hal itu tercermin oleh kesadaran masyarakat khususnya para penulis akan pentingnya persatuan demi terciptanya kesatuan bangsa yang ditampilkan melalui karya sastra di mana menggunakan bahasa persatuan Indonesia yang akan tetapi tidak memperlihatkan bahwa setiap masyarakat Indonesia telah tanpa sadar meninggalkan adat istiadatnya namun dengan keanekaragaman adat istiadatnya menjadikan suatu alat untuk mempersatukan bangsa Indonesia. Dengan demikian dapat disimpulkan beberapa karakteristik yang khas dari angkatan Balai Pustaka.
1.      Dilihat dari karya sastra yang muncul, sebagian besar karya sastra angkatan Balai Pustaka mengambil tema masalah kawin paksa.
2.      Peristiwa yang dikisahkan sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat.
3.      Latar belakang sosial sastra angkatan Balai Pustaka berupa pertentangan paham antara kaum muda dengan kaum tua. Contohnya, novel Salah Asuhan, dan Si Cebol Rindukan Bulan, yang memiliki kecenderungan simpati kepada yang lama, bahwa yang baru tidak semuanya membawa kebaikan.
4.      Pelaku novel angkatan Balai Pustaka masih mencerminkan kehidupan tokoh-tokoh yang berasal dari daerah, sehingga unsur nasionalitas pada sastra Balai Pustaka belum jelas.
5.      Sastra Balai Pustaka merupakan sastra bertendes dan bersifat didaktis yaitu lebih cenderung pada sesuatu khususnya mengenai permasalahan diatas sehingga terlihat seolah-olah karyanya hanya itu-itu saja/monoton.
6.      Bahasa sastra Balai Pustaka adalah bahasa Indonesia pada masa permulaan perkembangan yang pada masa itu disebut bahasa melayu umum.
7.      Jenis sastra Balai Pustaka berbentuk novel, sedangkan puisinya masih berupa pantun dan syair.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak dan bahasa Madura.
C.      Tokoh-tokoh Angkatan Balai Pustaka
Balai Pustaka merupakan pelopor penerbit karya sastra di Indonesia sejak tahun 1920-1950. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa tersebut. Berikut ini merupakan beberapa tokoh-tokoh atau sastrawan angkatan Balai Pustaka.
  1. Merari Siregar
a.       Azab dan Sengsara  (1920)
b.      Binasa Kerna Gadis Priangan (1931)
c.       Si Jamin dan Si Johan (1918)
d.      Cerita tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi (1924)
2.      Marah Roesli
a.       Siti Nurbaya (1922)
b.      La Hami (1924)
c.       Anak dan Kemenakan (1956)
3.      Muhammad Yamin
a.       Tanah Air (1922)
b.      Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
c.       Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
4.      Nur Sutan Iskandar
b.      Cinta yang Membawa Maut (1926)
c.       Salah Pilih (1928)
d.      Karena Mentua (1932)
e.       Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
f.       Hulubalang Raja (1934)
5.      Tulis Sutan Sati
a.       Tak Disangka (1923)
b.      Sengsara Membawa Nikmat (1928)
c.       Tak Membalas Guna (1932)
d.      Memutuskan Pertalian (1932).
6.      Abdul Muis
a.       Salah Asuhan (1928)
b.      Pertemuan Djodoh (1933)
7.      Aman Datuk Madjoindo
a.       Menebus Dosa (1932)
b.      Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
c.       Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)

D.  Contoh-contoh Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka
Adapun perintis puisi baru pada masa angkatan 20 adalah Moh. Yamin. Beliau dipandang sebagai penyair Indonesia baru yang pertama karena ia mengadakan pembaharuan puisi Indonesia, pembaharuannya dapat dilihat dari kumpulan puisi Tanah Air pada tahun 1922. Berikut ini merupakan catatan puisi Moh. Yamin.
Di atas batasan bukit barisan
Memandang beta ke bawah memandang,
Tampaklah hutan rimba dan ngarai,
Lagipula sawah, telaga nan permai,
Serta gerangan lihatlah pula,
Langit yang hijau bertukar warna
Oleh pucuk daun kelapa

Dari segi isi, puisi ini merupakan ucapan perasaan pribadi seorang manusia yang rindu pada keagungan yang Maha Kuasa. Dari segi bentuk, jumlah barisnya tidak lagi empat baris, seperti syair dan pantun dan persajakannya (rima) tidak sama. Adapun contoh puisi dari Rustam Effendi yaitu sebagai berikut.
Bukan beta pijak berperi

Bukan beta pijak berperi,
Pandai mengubah madahan syair
Bukan beta budak berperi,
Musti menurut undangan mair,
Sarat – saraf saya mungkiri
Untai rangkaian seloka lama,
Beta buang beta singkiri
Sebab laguku menurut sukma
Dilihat bentuknya, puisi tersebut seperti pantun, tetapi dilihat hubungan barisnya, seperti syair, ia meniadakan tradisi sampiran dalam pantun sehingga sajak itu disebut pantun modern, yang lebih banyak menggunakan sajak aliterasi, asonansi, dan sajak dalam sehingga beliau dipandang sebagai pelopor penggunaan sajak asonansi dan aliterasi.

E.  Perbandingan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka dengan Angkatan Lain.
Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan. Berikut ini merupakan klasifikasi dari beberapa periodisasi angkatan karya sastra di Indonesia.
  1. Angkatan Pujangga Lama
Sebelum abad ke-20 telah lebih dahulu muncul karya sastra yang dihasilkan yaitu pada angkatan Pujangga Lama. Syair, pantun, gurindam dan hikayat dikatakan yang merajai pada masa itu. Beberapa contoh karya sastra pada angkatan Pujangga Lama.
a.       Sejarah Melayu (Malay Annals)
b.      Hikayat Abdullah
c.       Hikayat Hang Tuah
d.      Hikayat Sri Rama
e.       Syair Bidasari
f.       Kitab agama Syarab al-'Asyiqin (Minuman Para Pecinta) oleh Hamzah Fansuri
g.      Kitab agama Bustan as-Salatin (Taman raja-raja) oleh Nuruddin ar-Raniri

  1. Angkatan Sastra Melayu Lama
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870-1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat. Berikut ini merupakan beberapa contoh karya sastra melayu lama.
a.       Nyai Dasima oleh G. Francis
b.      Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer
c.       Cerita Nyi Paina
d.      Cerita Nyai Sarikem
e.       Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan

  1. Angkatan Balai Pustaka
Periode angkatan Balai Pustaka ini sebagian adalah roman, puisi, syair dan pantun. Karakteristik pada angkatan ini yaitu: (1) Gaya bahasanya mempergunakan perumpamaan klise, pepatah dan peribahasa, (2) Teknik penokohan dan perwatakannya menggunakan analisis langsung, (3) Banyak sisipan-sisipan peristiwa yang tidak langsung berhubungan dengan inti cerita, seperti uraian adat, dongeng-dongeng, syair, dan pantun nasihat, (4) Cita-cita kebangsaan belum dipermasalahkan, masalah masih bersifat kedaerahan.
Berikut ini merupakan beberapa contoh, ciri-ciri dan karya penting pada angkatan Balai Pustaka. 
Ciri-ciri
Karya Penting
Pengarang
Puisinya berupa syair dan pantun

Alirannya bercorak romantic

Soal kebangsaan belum mengemuka

Gaya bahasa masih menggunakan perumpamaan
Azab dan Sengsara
Merari Siregar
Sitti Nurbaya
Marah Rusli
Salah Asuhan
Abdul Muis
Sengsara Membawa Nikmat
Tulis Sutan Sati

  1. Angkatan Pujangga Baru
Istilah angkatan Pujangga Baru diperuntukkan kepada karya-karya yang lahir tahun ‘30-‘40an yang diambil dari majalah Pujangga Baroe yang terbit tahun 1933. Puisi merupakan sebagian karya yang mendominasi pada periode Pujangga Baru. Selain itu terbit juga karya sastra berjenis cerita pendek dan drama. Berikut ini ciri-ciri karya sastra pada periode Pujangga Baru.
Ciri-ciri
Karya Penting
Pengarang
Dinamis

Individualistis

Tidak persoalkan tradisi sebagai temanya
Hasil karya bercorak kebangsaan
Layar Terkembang
S.T. Alisyahbana
Belenggu
Armin Pane
Indonesia Tumpah Darahku
Muhammad Yamin
Nyanyian Sunyi & Buah Rindu
Amir Hamzah


  

Ang
  1. Angkatan 1945
Angkatan 1945 disebut juga sebagai angkatan Chairil Anwar berkat perjuangannya dalam melahirkan angkatan 1945 ini. Dikatakan juga sebagai angkatan kemerdekaan karena lahir pada tahun Indonesia memproklamirkan kemerdekaan. Pada periode ini berkembang jenis-jenis sastra seperti puisi, cerita pendek, novel dan drama. Berikut adalah beberapa ciri-ciri karya sastra angkatan 1945.
Ciri-ciri
Karya
Pengarang
Bebas
Individualistis

Universitalitas
Realitas
Aku
Chairil Anwar
Tiga Menguak Takdir
Chairil Anwar, Asrul Sani, Riayi Apin
Atheis
Achdiat Karta Mihardja
Dari Ave Maria ke Jalan Lain Roma
Idrus
Surat Kertas Hijau dan Wajah Tak Bernam
Sitor Situmorang

  1. Angkatan 1950 - 1960-an
Angkatan ini dicirikan dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan dari H.B. Jassin yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan di antara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960 yang menyebabkan terhentinya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia. Beberapa contoh karya sastra dan pengarangnya pada angkatan 1950-1960-an.
a.       Cerita dari Blora (1952) oleh Pramoedya Ananta Toer
b.      Dua Dunia (1950) oleh Nh. Dini
c.       Robohnya Surau Kami (1955) oleh Ali Akbar Navis
d.      Balada Orang-orang Tercinta (1957) oleh W.S. Rendra
e.       Hujan Kepagian (1958) oleh Nugroho Notosusanto
  1. Angkatan 1966 - 1970-an
Nama angkatan ’66 dicetuskan oleh Hans Bague Jassin melalui bukunya yang berjudul Angkatan ’66 bersamaan dengan kondisi politik Indonesia yang tengah kacau akibat PKI. Contoh, ciri-ciri dan karya penting pada angkatan ’66.
Ciri-ciri
Karya
Pengarang
Kebanyakan tentang protes terhadap sosial dan politik

Mulai dikenal gaya epic pada puisi

Banyak penggunaan gaya retorik dan slogan

Cerita dengan berlatar perang
Pagar Kawat
Berduri
Toha Mochtar
Tirani dan Benteng
Taufiq Ismail
Pariksit
Goenawan Mohammad
Para Priayi
Umar Kayam
Mata Pisau dan Peluru Kertas
Supardi Joko Damono

  1. Angkatan 1980 - 1990-an
Karya sastra Indonesia pada setelah tahun 1980 ditandai dengan banyaknya roman pecintaan karya sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut. Berikut ini merupakan beberapa contoh ciri-ciri dan karya pada Angkatan ’80-an.

Ciri-ciri
Karya
Pengarang
Didominasi oleh roman percintaan

Konvensional : tokoh antagonis selalu kalah

Tumbuh sastra beraliran pop

Karya sastra tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum
Pulau Buru
Pramoedya Ananta Toer
Burung- Burung Manyar
Y.B Mangun Wijaya
Boko
Darman Moenir
Ronggeng Dukuh Paruk
Ahmad Tohari
Lupus
Hilman Hariwijaya

  1. Angkatan Reformasi
Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik. Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Berikut ini merupakan beberapa contoh, ciri-ciri dan karya pada Angkatan Reformasi.
Ciri-ciri
Karya
Pengarang
Bertemakan sosial-politik

Penuh kebebasan ekspresi dan pemikiran

Menampilkan sajak-sajak peduli bangsa

Religious dan nuansa sufistik
Puisi Pelo
Widji Thukul
Resonansi Indonesia

Ahmodun Yosi Herfanda
Di Luar Kota

Acep Zamzam Noer
Abad yang Berlari
Afrizal Malna
Opera Kecoa
N. Rianto

  1. Angkatan 2000-an
Angkatan ini ditandai dengan munculnya wacana tentang lahirnya “Sastrawan Angkatan 2000” oleh Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 dengan diterbitkan bukunya tentang Angkatan 2000 oleh Gramedia, Jakarta. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000. Angkatan ini dikatakan karya-karya yang muncul cenderung berani dan vulgar serta kebanyakan mengadopsi begitu saja moral pergaulan bebas ala remaja Amerika. Tetapi pada masa ini, muncul jua fiksi-fiksi islami. Contoh ciri-ciri dan karya pada Angkatan 2000.

Ciri-ciri
Karya
Pengarang
Karya cenderung vular

Mulai bermunculan fiksi-fiksi islami

Muncul cyber sastra di internet

 Bahasa kerakyatjelataan
Saman
Ayu Utami
Atas Nama Malam
Seno umira Ajidarma
Supernova
Dewi Lestari
      Pulau Cinta di Peta Buta
Raudal Tanjung Banua
Ayat-Ayat Cinta
          Habiburrahman El-Shirazy
BAB III
KESIMPULAN

Pembabakan atau periodisasi sastra adalah pengklasifikasian jenis-jenis karya sastra baik meliputi lingkup hasil karya saja, maupun dari sudut pandang pengarangnya sendiri yang berlandaskan pada waktu penurunan atau penerbitan karya tersebut secara otomatis pada waktu itu. Pembabakan sastra ini dilakukan akibat dari adanya keserupaan antara karya sastra yang satu dengan yang lain. Pendirian sastra Indonesia baru ditegakkan pada tahun 1920-an dengan munculnya Balai Pustaka.
Menurut Sarwadi (1999: 27) dengan keberadaan Balai Pustaka memberikan pengaruh pada perkembangan sastra Indonesia. Jadi sastrawan Indonesia bisa melontarkan sesuatu yang menjadi beban pikirannya melalui sebuah tulisan yang bisa dinikmati oleh dirinya sendiri dan orang lain atau penikmat sastra.
Beberapa tokoh dari periode sastra angkatan Balai Pustaka yaitu, Merari Siregar, Marah Roesli, Muhammad Yamin, Nur Sutan Iskandar, Tulis Sutan Sati, Abdul Muis, Aman Datuk Madjoindo, dan lain-lain.
Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan, yaitu seperti Angkatan Pujangga Lama, Angkatan Sastra Melayu Lama, Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 1945, Angkatan 1950 - 1960-an, Angkatan 1966 - 1970-an, Angkatan 1980 - 1990-an, Angkatan Reformasi, dan Angkatan 2000-an.





DAFTAR PUSTAKA
Afrimawili. 2013. “Karakteristik Sastra Angkatan Balai Pustaka”. http://afrimawili.blogspot.com/2013/01/karakteristik-sastra-angkatan-balai.html. Diakses pada 27 Maret 2014 pukul 13:44 WIB.
Dukuhsastro. 2011. “Sastra Indonesia di Era 1900-1933”. http://dukuhsastro.blogspot.com/2011/02/sastra-indonesia-di-era-1900-1933-m.html. Diakses pada 27 Maret 2014 pukul 13:50 WIB.
Hastasa, Teater. 2013. “Sastrawan Angkatan Balai Pustaka”. http://teater-hastasa.blogspot.com/2013/04/sastrawan-angkatan-balai-pustaka.html. Diakses pada 27 Maret 2014 pukul 13:50 WIB.
Rampan, Korrie Layun. 1982. Cerita Pendek Indonesia Mutakhir; Sebuah Pembicaraan. Yogyakarta: CV Nur Cahaya.
Sampit, Remaja. 2012. “Sejarah Balai Pustaka”. http://remajasampit.blogspot.com/2012/12/sejarah-balai-pustaka.html. Diakses pada 27 Maret 2014 pukul 14.00 WIB.
Wikipedia. 2011. “Sastra Indonesia”. http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Indonesia. Diakses pada 27 Maret 2014 pukul 14:10 WIB.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar