Senin, 22 Desember 2014

Apresiasi Sastra [3]

Naskah Drama
“Seharusnya Berjudul Celana Dalam”
Sebuah Cerita Pendek Karya Etik Juwita

Di pagi yang tenang, tatkala seorang pembantu rumah tangga bernama Sundari sedang mengerjakan pekerjaannya seperti sediakala, ia terkesiap mendengar teriakan lantang dari majikannya.
Mam                :  “Cundaliii!!...” “Cundaliii!!...” (meneriakkan dengan lantang)
Sundari           : (terkesiap, gugup, diam mencoba mengingat-ingat apa saja yang telah diperbuatnya pagi ini atau kemarin malam. Sundari yakin tidak ada yang tidak wajar!)
Mam                :  “Cundaliii!!...” (jeritnya terdengar lagi)
            Sundari kemudian buru-buru memindahkan semua baju dari dalam keranjang ke mesin cuci. Tapi, belum sempat ia menuangkan deterjen, suara majikannya terdengar dekat.
Mam                :  “Cundaliii!!...” (menyembul dari pintu dapur)
Sundari           :  (menoleh, dan tanpa diperintah mengikuti majikannya. Langkahnya seirama dengan dag dig dug degub jantungnya yang bingar)
Mam                :  “Look!!”
Sundari           :  (mengamati, tertegun dan tidak mengerti)
Mam                :  “It’s your panty, isn’t it?” (mengangkat sesuatu (celana dalam) dengan sebuah sisir)
Sundari tersenyum, mengingat-ingat perilaku tuannya, ia salah tingkah menghadapi sikap nyonyanya.
Sundari           :   “Nnn.. no, no Mam. My panty is big-big one.
Mam mengerutkan dahi, wajahnya semakin kelihatan judes mendengar jawaban Sundari. Mam mulai menangis. Ia bergegas menuju kamar Sundari. Setibanya di kamar pembantunya, Mam membuka laci pakaian Sundari. Foto usang Parjo meringis di depan sepeda motor tetangga, terlihat.
Tangis Mam semakin menjadi ketika menenteng celana dalam murahan berukuran XL milik Sundari. Mam menangis meraung-raung.
Sundari           :  “Mam, the lunch is already prepared/ food is ready![versi patah-patah inggrisnya]..” (sundari mengetuk pintu Mam berulang kali, tetapi Nyonya tetap mengurung diri di kamar)
Sundari tetap berusaha santai dengan mengerjakan semua rutinitas pekerjaannya. Saat itu, nyonya memanggil Sundari.
Mam                :  “Cundalii..!! Come here..!”
Sundari           :  “Ohh, yes Mam..” (Sundari mendekat, sopan, menunduk kepada majikannya)
Mam                :  “Please, put all of my clothes into my bag!” (menunjuk baju-baju di lemari pakaiannya)
Sundari           :  “Yes, yes, Mam..” (Sundari mengangguk-angguk, tidak merasakan keganjilan apa pun)
Pagi hari, seperti biasanya Sundari mengerjakan semua rutinitas pekerjaan rumah tangga. Tiba-tiba Mam memanggil Sundari. Saat itu, nampaknya Mam telah bersiap-siap untuk pergi.
Mam                :  “Cundali, you must stay in here. Don’t go anywhere! (mimik Mam menunjukkan dengan jelas pesan apa yang disampaikannya untuk Sundari)
Sundari           :  ...(mengangguk-angguk)
Sundari mulai mampu meraba apa yang tengah terjadi.
^^^
Sepekan setelah kepergian Nyonya, ketika persediaan makan mendekati habis.
Tok..tok..tok.. Tok.. tok.. tok..
Terdengar suara nyaring dari ketukan pintu. Ketika itu, Sundari sedang merapikan ruang tamu. Sundari kemudian menghampiri pintu dan membukakannya. Ternyata Mamlah yang berada di balik pintu itu. Nyonya pulang bersama seseorang dari agen penyalur tenaga kerja yang memasokkan Sundari ke majikannya di Hong Kong.
Miss Lam        :  “Cundali, kamu punya majikan mau celai. Kamu punya kelja tidak ada. Kamu dipulangkan.”
Sundari           :  (diam, menunduk)
Miss Lam berusaha memberi pengertian pada Sundari. Saat itu Sundari hanya ingat Kang Parjo, suaminya di dekat sepeda motor tetangga, meringis. Padahal Sundari ingin menangis.
^^^
Ruang tunggu Bandara Chek Lap Kok.
Marni              :  “Indonesia, hamaiya?”
Sundari           :  “Ya.”
Marni              :  “Dipulangkan meh?”
Sundari           :  (merasa agak gerah dengan pertanyaan yang dilontarkan wanita itu. Tapi, mencoba tetap tenang)
“Kok tahu?”
Marni              :  “Rambutnya pendek dan bawaannya sedikit ma!”
Sundari tersenyum getir. Lalu perempuan yang menyapanya itu pun duduk di sampingnya. Berbincang-bincang dengan bahasa negeri sendiri meski Sundari merasa bahasa perempuan itu agak dibuat-buat. Sundari merasa akan kembali ke dunianya. Sundari mengingat-ingat semua hal yang dilewatinya ketika ia mengabdi kepada majikannya.
Sundari merasa lelah. Kelelahan yang jelas menggurat di wajah Sundari yang bulat.
Ternyata, Marni, gadis di sebelahnya itu bekerja di flat yang sama dengannya! Satu tingkat di atasnya. Marni juga dipulangkan.
Marni              : “Namanya majikan ya Mbak, salah bener ya maunya bener. Hamai sin? Ngapain Mbak dipulangkan?”
Sundari           :  “Majikanku cerai. Kamu?”
Marni              :  “Karena celana dalam! Jisin! Dasar majikan nggak tahu diuntung! Seenaknya bilang aku cerob...”
Sundari           :  “Celana dalam? Jangan-jangan warnanya merah muda?” (Sundari kaget, terkejut, memotong pembicaraan Marni)
Marni              :  “Haiya, haiya!”
Sundari           :  “Ada renda-renda di samping kanan dan kirinya ya?”
Marni              : “Haiya!!”
Sundari           :  “Kecil, mereknya Sexygirl?”
Marni              :  “Haiwo!! TIM CHI CEK? Kok tahu?”
Sundari bengong, teringat ia akan celana dalam merah muda yang telah berubah menjadi guntingan kain kecil-kecil tak beraturan di kamar majikannya.
Berjalan menuju pintu masuk.
Mengingat nasibnya, nasib Marni, juga nasib majikannya, Sundari tersenyum tanpa sadar.
Pria                  :  (berdiri di sebelah kiri pintu masuk, menyambut senyum Sundari)
Sundari mengalihkan pandang cepat-cepat kepada Marni.
Sundari           :  “Ceritanya singkat, Nanti aku ceritakan di dalam pesawat.”
Pengeras suara sudah meneriakkan pengumuman bahwa pesawat menuju Surabaya akan segera lepas landas.
Marni              :  (mengangguk-angguk sambil melongo)








Tidak ada komentar:

Posting Komentar