TATARAN LINGUISTIK
“SINTAKSIS”
Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Linguistik Umum
Disusun
oleh :
1.
Fitri Yulianti A310130155
2.
Sindi Ayu Mufiko A310130142
3.
Adetiya A310130160
4.
Nyu Pendi Susilo A310130159
Kelas : 1 D
PENDIDIKAN
BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
TAHUN
2013
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah
segala puji syukur hanya kita panjatkan kehadirat Allah Swt atas kekuatan,
kesempatan, kesehatan dan limpahan nikmat lainnya yang telah diberikan kepada
kami, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Makalah ini dengan
judul Tataran Linguistik “Sintaksis”. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Linguistik
Umum di tahun pembelajaran 2013-2014 Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan
harapan dapat bermanfaat dan dapat menambah ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Kami menyadari
bahwa dalam penulisan karya tulis ini masih banyak terdapat kekurangan, seperti
pepatah mengatakan “Tiada Gading Yang Tak Retak”, oleh karena itu kami
sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak
pembaca.
Akhirnya kami
berharap, semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca atau pihak yang
membutuhkan.
Surakarta, 11 Nopember 2013
Penulis
i
DAFTAR ISI
Halaman
Judul
Kata Pengantar..........................................................................................................i
Daftar
Isi………......................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN……............…………....…………..…....................1
A. Latar
Belakang....………………………………..…........................1
B. Rumusan Masalah……….……...………….……............................1
C.
Tujuan...............................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN……........…………………………….………...........2
A. Batasan Sintaksis...........………………………………..……….....2
B. Struktur
Sintaksis…………………………………..….……….......3
C. Satuan-satuan
Sintaksis.......………………………..….….........….4
BAB III PENUTUP...........…………………………….………….........…......16
A.
Simpulan.........................................................................................16
B.
Saran...............................................................................................16
Daftar Pustaka.........................................................................................................17
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk sosial dalam
kegiatan kesehariannya tentu banyak
melakukan aktivitas interaksi dan komunikasi dengan orang lain, baik itu secara
perorangan, antar kelompok maupun antar golongan. Dalam penyampaian informasi
tentunya dibutuhkan suatu media yang dapat dipahami oleh mitra interaksi. Tata
bahasa yang baik dan benar menjadi kunci penyampaian informasi ataupun gagasan
yang akan dikemukakan agar lebih mudah dipahami. Sintaksis merupakan bagian dari
linguistik atau ilmu bahasa yang mempelajari struktur frasa, klausa, dan
kalimat. Pemahaman tentang ilmu sintaksis menjadi sangat penting bagi kita
dalam penataan kata-kata menjadi kalimat sehingga kalimat yang kita produksi
menjadi tepat makna baik dalam bahasa lisan maupun dalam bahasa tulis. Dengan
memahami sintaksis, dapat dihindari penggunaan kalimat yang ambigu atau
mempunyai makna lebih dari satu dalam berkomunikasi.
B. Rumusan Masalah
1.
Apakah batasan sintaksis itu?
2.
Bagaimanakah struktur sintasis itu?
3.
Apa sajakah satuan-satuan dari sintaksis?
C. Tujuan
1.
Dapat mengetahui batasan sintaksis.
2.
Dapat mengetahui struktur sintaksis.
3.
Dapat mengetahui satuan-satuan dari sintaksis.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Batasan Sintaksis
Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani, suntattein, yang dibentuk
dari sun
artinya ’dengan’, dan tattein yang berarti ‘menempatkan’.
Istilah suntattein secara etimologis berarti ‘menempatkan bersama-sama
kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat dan kelompok-kelompok kata menjadi
kalimat’ (Verhaar, 1992:70,Suhardi,2008:31-32). Kata sintaksis dalam bahasa
Indonesia merupakan serapan dari bahasa Belanda, syntaxis, yang dalam
bahasa Inggris disebut dengan istilah syntax (Ramlan, 1987:27 dan Pateda,
1994:85).
Sintaksis menurut Kridalaksana
(1983:154) adalah pengaturan dan hubungan antara kata dengan kata, atau dengan
satuan-satuan yang lebih besar, atau antara satuan-satuan yang lebih besar itu
dalam bahasa. Stryker (melalui Tarigan, 1985:3) menyatakan bahwa sintaksis adalah
ilmu yang membahas pola-pola penggabungan kata-kata menjadi kalimat. Sementara
itu, Block dan Trager mengatakan bahwa sintaksis adalah analisis konstruksi
yang hanya melibatkan bentuk-bentuk bebas. Arifin dan Junaiyah (2008:1)
menyatakan bahwa sintaksis adalah cabang linguistik yang membicarakan hubungan
antarkata dalam tuturan (speech), dan unsur frase, klausa, dan kalimat. Dari
pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sintaksis atau syntax (Ing.)
adalah cabang ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk frase, klausa, dan
kalimat dengan satuan terkecilnya berupa bentuk bebas, yaitu kata.
Dalam linguistik atau ilmu bahasa
terdapat dua tataran, yaitu tataran fonologi dan tataran tata bahasa/gramatika.
Sintaksis dan morfologi bersama-sama merupakan tataran tata bahasa, Fonologi
merupakan tataran linguistik yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa, morfologi
merupakan tataran linguistik yang mempelajari satuan-satuan gramatikal di dalam
kata yaitu morfem dan kata, sedangkan sintaksis mempelajari satuan-satuan
gramatikal di atas tataran kata, meliputi frase, klausa, dan kalimat (Sukini,
2010:3).
B. Struktur Sintaksis
Secara umum struktur sintaksis itu
terdiri dari susunan subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (K).
Menurut Verhaar (1978) fungsi-fungsi sintaksis itu yang terdiri dari
unsur-unsur S, P, O, dan K itu merupakan “kotak-kotak kosong” atau
“tempat-tempat kosong” yang tidak mempunyai arti apa-apa karena kekosongannya.
Tempat-tempat kosong itu akan diisi oleh sesuatu yang berupa kategori dan
memiliki peranan tertentu.
Contoh kalimat:
(1)



Nenek melirik
kakek tadi pagi.
Pengisi fungsi-fungsi itu yang berupa kategori sintaksis mempunyai
peran-peran sintaksis.
Jika kalimat Nenek
melirik kakek tadi pagi dipasifkan, maka menjadi Kakek dilirik nenek tadi pagi. Dalam kalimat pasif itu kata kakek yang tadinya mengisi fungsi objek,
sekarang mengisi fungsi subjek dan peran tetap ‘sasaran’; verba pasif dilirik sebagai ubahan dari verba aktif melirik sekarang berperan ‘pasif’; nenek yang semula mengisi fungsi subjek
dengan peran tetap ‘pelaku’; dan frase tadi
pagi tetap mengisi fungsi keterangan dengan peran yang tetap juga, yaitu
peran ‘waktu’. Jika dibagankan hubungan antara fungsi, kategori, dan peran
sintaksis itu adalah menjadi sebagai berikut: (Verhaar, 1978)
|
Subjek
|
Predikat
|
Objek
|
Keterangan
|
Fungsi
Kategori
Peran
C.
Satuan-satuan
Sintaksis
1. Kata
Menurut
tata bahasawan tradisional, kata merupakan satuan bahasa yang memiliki satu
pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi, dan
mempunyai satu arti.
Dalam
tataran morfologi kata merupakan satuan terbesar (satuan terkecilnya adalah
morfem); tetapi dalam tataran sintaksis kata merupakan satuan terkecil, yang
secara hierarkial menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar,
yaitu frase.
Dalam
pembicaraan kata sebagai pengisi satuan sintaksis, pertama-tama harus dibedakan
dulu adanya dua macam kata, yaitu meliputi: a) kata penuh (fullword), dan b) kata tugas (functionword).
Kata penuh merupakan kata yang secara leksikal memiliki makna, mempunyai
kemungkinan untuk mengalami proses morfologi, merupakan kelas terbuka, dan
dapat bersendiri sebagai sebuah satuan tuturan yang meliputi kategori nomina,
verba, ajektifa, adverbia, dan numeralia. Sedangkan yang disebut kata tugas
adalah kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses
morfologi, merupakan kelas tertutup, dan di dalam pertuturan dia tidak dapat
bersendiri yang meliputi kata-kata yang berkategori preposisi dan konjungsi.
Kata-kata
yang termasuk kata penuh memang mempunyai kebebasan mutlak, atau hampir mutlak
sehingga dapat menjadi pengisi fungsi-fungsi sintaksis. Sedangkan yang termasuk
kata tugas mempunyai kebebasan yang terbatas. Sesuai dengan namanya, yaitu kata
tugas, dia selalu terikat dengan kata yang ada di belakangnya (untuk
praposisi), atau yang berada di depannya (untuk posposisi), dan dengan
kata-kata yang dirangkaikannya (untuk konjungsi). Kecuali, kalau preposisi atau
konjungsi itu menjadi topik pembicaraan, tentu akan tampak bebas.
Contoh kalimat:
-
Pak Ahmad sedang menerangkan cara penulisan awalan di
dan kata depan di
(di sini yang dijelaskan Pak Ahmad
bukan di itu, melainkan kata depan di dan awalan di)
2. Frase
a. Batasan
Frase
Menurut
Kridalaksana (1983:46), Cook (melalui Tarigan, 1985:50), dan Samsuri (melalui
Arifin, 2008:18), menyatakan bahwa frase adalah satuan gramatikal yang berupa
gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabungan
kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat.
Ramlan
(1987:151) memberi batasan bahwa frase adalah satuan gramatik yang terdiri atas
dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa. Maksudnya,
gabungan dua kata atau lebih itu tidak melampaui batas fungsi S (subjek), atau
fungsi P (predikat).
Contoh kalimat:
- Teman adik
saya baru tiba dari Jakarta
(terdiri atas tiga frase, yaitu frase teman
adik saya, baru tiba, dan frase dari Jakarta)
Dari batasan-batasan di atas dapat
diketahui bahwa frase mempunyai dua sifat, (Sukini, 2010:21) yaitu:
(a) merupakan
satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih,
(b) satuan
gramatik itu tidak melebihi batas fungsi unsur klausa, maksudnya frase itu selalu
terdapat dalam satu fungsi unsur klausa.
Jadi, tidak semua kelompok kata bisa dikatakan
sebagai frase karena kelompok kata yang membentuk konstruksi frasa harus
mengandung dua sifat tersebut.
b.
Jenis Frase
Dalam
pembahasan mengenai frase biasanya dibedakan adanya frase (1) frase
eksosentrik, (2) frase endosentrik (disebut juga frase subordinatif atau frase
modifikatif), (3) frase koordianatif, dan (4) frase apositif (Chaer, 2012:225).
1)
Frase Eksosentrik
Frase eksosentrik adalah frase yang komponen-komponennya
tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Misalnya
dalam kalimat berikut:
-
Dia berdagang di pasar
(frase di pasar, yang terdiri dari komponen di dan komponen pasar.
Secara keseluruhan frase ini dapat mengisi fungsi keterangan. Namun, baik komponen di maupun komponen pasar
tidak dapat menduduki fungsi keterangan, sebab konstruksi tersebut tidak bisa
diterima.
*Dia berdagang di
*Dia berdagang pasar
Frase
eksosentrik biasanya dibedakan atas
frase eksosentrik direktif dan frase eksosentrik nondirektif. Frase eksosentrik
direktif atau frase preposisional komponen utamanya berupa preposisi, seperti di,
ke, dan dari, dan komponen
keduanya berupa kata atau kelompok kata, yang biasanya berkategori nomina. Misalnya:
di pasar, dari kayu jati.
Frase
eksosentrik nondirektif komponen pertamanya berupa artikulus, seperti sei dan
sang atau kata lain seperti yang, para, dan kaum; sedangkan komponen keduanya
berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina, ajektifa, atu verba.
Misalnya: si miskin, sang mantan.
2)
Frase Endosentrik/ Frase Modifikatif/ Frase
Subordinatif
Frase endosentrik adalah frase yang salah
satu unsurnya memiliki perilaku sintaksias yang sama dengan keseluruhannya.
Artinya, salah satu komponennya itu dapat menggantikan kedudukan
keseluruhannya. Misalnya:
-
Nenek sedang membaca komik di kamar
(sedang
membaca dalam kalimat tersebut komponen keduanya yaitu membaca dapat menggantikan kedudukan frase tersebut, sehingga
menjadi kalimat: Nenek membaca komik di
kamar)
3)
Frase Koordinatif
Frase koordinatif merupakan frase yang
komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan
sederajat, dan secara potensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif,
baik yang tunggal seperti dan, atau,
tetapi, maupun konjungsi terbagi seperti baik... baik, makin... makin, dan baik... maupun.... Frase koordinatif ini mempunyai kategori sesuai
dengan kategori komponen pembentuknya. Contoh: sehat dan kuat, buruh atau majikan, makin terang makin
baik, dan dari, oleh, dan untuk
rakyat.
Frase koordinatif yang tidak menggunakan
konjungsi secara eksplisit, biasanya disebut frase parataksis. Contoh: hilir mudik, tua muda, pulang pergi, sawah
ladang, dan dua tiga hari.
4)
Frase Apositif
Frase apositif adalah frase koordinatif
yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya; dan oleh karena itu, urutan
komponennya dapat dipertukarkan. Umpamanya, frase apositif Pak Ahmad, guru saya dalam kalimat (a) dapat diubah susunannya atau
urutannya seperti pada kalimat (b).
(a) Pak Ahmad, guru saya, rajin
sekali
(b) Guru saya, Pak Ahmad, rajin
sekali
c.
Perluasan Frase
Sudah
dijelaskan bahwa salah satu jenis frase adalah bahwa frase itu dapat diperluas.
Maksudnya, frase itu dapat diberi tambahan komponen baru sesuai dengan konsep
atau pengertian yang akan ditampilkan. Misalnya:
-
di kamar tidur
diperluas menjadi, di kamar tidur saya, di kamar tidur ayah, di
kamar tidur belakang.
-
seorang mahasiswa
diperluas menjadi, bukan seorang mahasiswa, hanya seorang
mahasiswa, bukan seorang mahasiswa kedokteran.
3. Klausa
a. Pengertian
Klausa
Menurut
Abdul Chaer (2012:231), klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan
kata-kata berkonstruksi predikatif. Artinya, di dalam konstruksi itu ada
komponen, berupa kata atu frase, yang berfungsi sebagai predikat; dan yang lain
berfungsi sebagai subjek, sebagai objek, dan sebagai keterangan. Kridalaksana (1982:85) mengungkapkan bahwa “klausa adalah
satuan gramatikal berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya tediri
dari subjek dan predikat dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat.”
b. Jenis Klausa
Dalam bahasa indonesia terdapat bermacam-macam klausa. Berikut
dipaparkan jenis-jenis klausa berdasarkan kriteria-kriteria tertentu.
1) Berdasarkan strukturnya
(a) Klausa Bebas
Klausa bebas ialah klausa yang memiliki subjek dan
predikat, sehingga berpotensi untuk menjadi kalimat mayor. Jadi, klausa bebas
memiliki unsur yang berfungsi sebagai subyek dan yang berfungsi sebagai
predikat dalam klausa tersebut.
Contoh :
-
Anak itu badannya panas, tetapi kakinya
sangat dingin.
-
Dosen kita itu rumahnya di jalan Ambarawa.
-
Semua orang mengatakan bahwa dialah yang
bersalah.
(b) Klausa Terikat
Klausa terikat ialah klausa yang tidak memiliki
potensi untuk menjadi kalimat mayor, hanya berpotensi untuk menjadi kalimat
minor karena strukturnya tidak lengkap. Kalimat minor adalah konsep yang
merangkum: panggilan, salam, judul, motto, pepatah, dan kalimat telegram.
Contoh :
-
Semua murid sudah pulang kecuali yang dihukum.
-
Semua tersangkan diinterograsi, kecuali dia.
2) Berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya
(a) Klausa
verbal, adalah klausa yang predikatnya terdiri dari kata atau frasa kategori
verbal. Misalnya, nenek mandi, kakek
menari, dan matahari terbit.
Klausa verbal terbagi atas empat jenis, yakni :
o
Klausa transitif, yaitu klausa yang predikatnya berupa
verba transitif, seperti nenek menulis
surat, dan kakek membaca buku silat.
o
Klausa intransitif, yaitu klausa yang predikatnya
berupa verba intransitif, seperti nenek
menangis dan paman berangkat ke
Medan.
o
Klausa refleksif, yaitu klausa yang predikatnya berupa
verba refleksif, seperti nenek sedang
berdandan dan dia sudah mandi.
o
Klausa resiprokal, klausa yang predikatnya berupa
verba resiprokal, seperti mereka
bertengkar sejak kemarin dan keduanya
bersalaman.
(b) Klausa
nominal, adalah klausa yang predikatnya berupa frase yang termasuk kategori
frase nominal. Misalnya, petani, dosen
linguistik, dan satpam Bank swasta.
(c) Klausa
ajektifal, adalah klausa yang predikatnya berkategori ajektifa, baik berupa
kata maupun frase. Misalnya, Ibu dosen
itu cantik sekali dan Bumi ini sangat
luas.
(d) Klausa
adverbial, adalah klausa yang predikatnya berupa adverbia. Misalnya, klausa bandelnya teramat sangat.
(e) Klausa
preposisional, adalah klausa yang predikatnya berupa frase yang berkategori
preposisi. Misalnya, nenek di kamar, dan dia ke pasar.
(f) Klausa numeral,
adalah klausa yang predikatnya berupa kata atau frase numeralia. Misalnya, gajinya lima juta sebulan dan anaknya dua belas orang.
4. Kalimat
a)
Pengertian Kalimat
Keraf (1984:156) mendefinisikan
kalimat sebagai salah satu bagian dari ujaran yang didahului dan diikuti oleh
kesenyapan, sedang intonasinya menunjukkan bagian ujaran itu sudah lengkap. Tata
Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) menyatakan bahwa kalimat merupakan bagian
terkecil ujaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran utuh secara ketatabahasaan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa
kalimat adalah satuan gramatik yang ditandai adanya kesenyapan awal dan
kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat itu sudah selesai (lengkap).
b)
Jenis Kalimat
Jenis kalimat dapat dibedakan berdasarkan berbagai kriteria atau sudut
pandang, yaitu meliputi:
1)
Kalimat Inti dan Kalimat Non-Inti
Kalimat inti, atau bisa disebut kalimat dasar, adalah
kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif
atau netral dan afirmatif. Pola atau struktur dalam bahasa Indonesia:
(a)
FN + FV : Nenek datang
(b)
FN + FV + FN : Nenek membaca komik
(c)
FN + FV + FN + FN : Nenek membacakan kakek komik
(d)
FN + FN : Nenek dokter
(e)
FN + FA : Nenek cantik
(f)
FN + FNum : Uangnya dua juta
(g)
FN + FP : Uangnya di dompet
Keterangan:
(a)
FN = Frase Nominal
FV = Frase Verbal
FA = Frase Ajektifal
FNum = Frase Numeral
FP = Frase Preposisi
(b)
FN dapat diisi oleh sebuah kata nominal, FV dapat
diisi oleh sebuah kata verbal, FA dapat diisi oleh sebuah kata ajektifal, dan
FNum dapat diisi oleh sebuah kata numeralia.
Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat noninti dengan berbagai proses
transformasi, seperti transformasi pemasifan pengingkaran, penanyaan,
pemerintahan, penginversian, pelesapan dan transformasi penambahan.
KALIMAT INTI |
PROSES TRANSFORMASI |
NON INTI |
+ =
2)
Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk
Kalimat tunggal adalah kalimat
yang hanya terdiri atas satu pola (SP, SPO, SPOK) atau kalimat yang hanya
terdiri atas satu klausa. Contoh :
Koko pergi ke pasar
S P
Ket
Toni
menanam biji jarak di kebun
S
P O Ket
Berdasarkan predikatnya, kalimat tunggal terbagi atas:
(a) Kalimat nominal adalah kalimat yang
predikatnya berupa kata benda. Contoh: Ayahnya seorang pelukis.
(b) Kalimat verbal adalah kalimat
yang predikatnya berupa kata kerja. Contoh : Ani suka makan bakso.
(c) Kalimat adjektifal adalah kalimat yang predikatnya berupa
adjektiva atau kata sifat. Contoh : Soal ini sulit sekali.
(d) Kalimat preposisional adalah kalimat
tunggal yang predikat- nya dari kata depan atau preposisi. Contoh: Tempat tinggal-nya di Makassar
Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas dua pola kalimat atau
lebih. Kalimat majemuk tersusun dari beberapa kalimat tunggal. Kalimat majemuk dapat dibedakan atas:
(a)
Kalimat majemuk setara/koordinatif.
Kalimat
majemuk setara adalah kalimat yang pola-pola kalimatnya memiliki kedudukan yang
sederajat. Klausa-klausa dalam kalimat majemuk koordinatif dihubungkan secara
eksplisit dengan konjungsi koordinatif, seperti dan, atau, tetapi, dan lalu;
namun, tak jarang hubungan itu hanya secara implisit, artinya tanpa menggunakan
konjungsi. Berikut beberapa contohnya:
-
Dia datang dan duduk di sebelah saya.
-
Saya ingin turut serta, sayang, ibu tidak mengizinkan.
-
Dia membuka pintu, lalu menyilakan kami masuk.
(b)
Kalimat majemuk bertingkat/ subordinatif.
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang
hubungan antara klausa-klausanya tidak sederajat. Klausa yang satu merupakan
klausa atasan, dan klausa yang lain merupakan klausa bawahan. Kedua klausa itu
biasanya dihubungkan dengan konjungsi subordinatif, seperti kalau, ketika, meskipun, dan karena; namun tak jarang hubungan itu
dilakukan secara implisit. Beberapa contoh kalimat majemuk:
-
Kalau nenek pergi, kakek pun akan pergi.
-
Nenek membaca komik ketika kakek tidak ada dirumah.
(c)
Kalimat majemuk kompleks
Kalimat majemuk campuran adalah gabungan antara
kalimat majemuk setara dengan kalimat majemuk bertingkat. Misalnya:
-
Nenek membaca komik karena kakek tidak ada di rumah
dan tidak ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan.
3)
Kalimat Mayor dan Kalimat Minor
Kalimat mayor adalah kalimat yang memiliki klausa
lengkap, sekurang-kurangnya memiliki unsur subjek dan predikat. Contoh :
-
Saya mengantuk.
-
Presiden berkunjung ke Australia.
Kalimat minor adalah kalimat yang klausanya tidak
lengkap. Contoh :
-
Sedang makan!
-
Sialan!
4)
Kalimat Verbal dan Kalimat non-Verbal
Kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari
klausa verbal, atau kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase yang
berkategori verba. Berkenaan dengan banyaknya jenis atau tipe verba, maka
biasanya dibedakan pula adanya beberapa jenis kalimat yaitu, meliputi:
(a)
Kalimat transitif, adalah kalimat yang predikatnya
berupa verba transitif, yaitu verba yang biasanya diikuti oleh sebuah objek verba
tersebut bersifat monotransitif dan diikuti oleh dua buah objek kalau verbanya
berupa verba bitransitif. Misalnya: Dika menendang bola.
(b)
Kalimat intransitif, adalah kalimat yang predikatnya
berupa verba intransitif, yaitu verba yang tidak memiliki objek. Misalnya:
Nenek berlari, Ayah belum datang.
(c)
Kalimat aktif, adalah kalimat yang pradikatnya kata
kerja aktif. Misalnya: Kakek menulis
surat, Intan menari ballet.
(d)
Kalimat pasif, adalah kalimat yang predikatnya kata
kerja pasif. Misalnya: Surat ditulis
kakek, Sepeda diperbaiki ayah.
(e)
Kalimat dinamis, adalah kalimat yang predikatnya
berupa verba yang secara semantis menyatakan tindakan atau gerakan. Misalnya:
Mahasiswa itu pulang, Dia pergi begitu saja.
(f)
Kalimat statis, adalah kalimat yang predikatnya berupa
verba yang secara semantis tidak menyatakan tindakan atau kegiatan. Misalnya:
Anaknya sakit keras, Dia tidur di kursi.
Kalimat nonverbal adalah kalimat yang predikatnya
bukan kata atau frase verbal; bisa nominal, ajektifal, adverbial atau juga
numeralia. Contohnya:
-
Mereka bukan penduduk desa sini
-
Mereka rajin sekali
-
Penduduk Indonesia 185 juta jiwa
-
Mereka ke pengadilan
5)
Kalimat Bebas dan Kalimat Terikat
Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi
untuk menjadi ujaran lengkap, atau dapat memulai sebuah paragraf atau wacana
tanpa bantuan kalimat atau konteks lain yang menjelaskannya. Sedangkan kalimat
terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap,
atau menjadi pembuka paragraf atau wacana tanpa bantuan konteks lain.
BAB
III
PENUTUP
A. Simpulan
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Sintaksis merupakan bagian atau cabang dari ilmu bahasa
yang membicarakan seluk beluk kalimat, klausa, dan frase.
Frasa merupakan gabungan dua kata
atau lebih yang menempati satu fungsi dan tidak melebihinya. Sedangkan klausa
merupakan unsur kalimat yang mewajibkan adanya dua fungsi sintaksis, yakni
subjek dan predikat sedang yang lainnya tidak wajib. Untuk kalimat yaitu satuan
gramatik yang ditandai adanya kesenyapan awal dan kesenyapan akhir yang
menunjukkan bahwa kalimat itu sudah selesai (lengkap).
B. Saran
Dengan disusunnya makalah Tataran Linguistik “Sintaksis” ini, kami
mengharapkan pembaca dapat mengetahui kajian sintaksis dan pembaca dapat
mengetahui sebenarnya sintaksis itu erat hubungannya dengan bahasa yang kita
gunakan sehari-hari.
Makalah ini kami susun hanya berdasarkan sumber-sumber yang kami dapatkan
dan makalah ini mungkin masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, jika
pembaca mendapatkan sumber-sumber lain yang dapat mendukung perbaikan makalah
ini, kami selaku penulis mengucapkan terima kasih.
DAFTAR
PUSTAKA
Chaer, Abdul.
2012. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka
Cipta
Sukini. 2010. “Sintaksis” Sebuah Panduan Praktis. Surakarta:
Yuma Pustaka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar