Senin, 22 September 2014

TATARAN LINGUISTIK
“SINTAKSIS”


Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Linguistik Umum





Disusun oleh :
1.        Fitri Yulianti                   A310130155
2.        Sindi Ayu Mufiko           A310130142
3.        Adetiya                            A310130160
4.        Nyu Pendi Susilo            A310130159
                  Kelas     : 1 D



PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
TAHUN 2013



KATA PENGANTAR

    Alhamdulillah segala puji syukur hanya kita panjatkan kehadirat Allah Swt atas kekuatan, kesempatan, kesehatan dan limpahan nikmat lainnya yang telah diberikan kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan  Makalah ini dengan judul Tataran Linguistik “Sintaksis”. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Linguistik Umum di tahun pembelajaran 2013-2014 Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan harapan dapat bermanfaat dan dapat menambah ilmu pengetahuan bagi kita semua.
    Kami menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis ini masih banyak terdapat kekurangan, seperti pepatah mengatakan “Tiada Gading Yang Tak Retak”, oleh karena itu kami sangat  mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak pembaca.
    Akhirnya kami berharap, semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca atau pihak yang membutuhkan.


Surakarta, 11 Nopember 2013


                                                                                                                   Penulis









i



DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar..........................................................................................................i
Daftar Isi………......................................................................................................ii

BAB I      PENDAHULUAN……............…………....…………..…....................1
A.   Latar Belakang....………………………………..…........................1
B.   Rumusan Masalah……….……...………….……............................1
C.   Tujuan...............................................................................................1

BAB II     PEMBAHASAN……........…………………………….………...........2
A.   Batasan Sintaksis...........………………………………..……….....2
B.   Struktur Sintaksis…………………………………..….……….......3
C.   Satuan-satuan Sintaksis.......………………………..….….........….4

BAB III   PENUTUP...........…………………………….………….........…......16
A.    Simpulan.........................................................................................16
B.     Saran...............................................................................................16

Daftar Pustaka.........................................................................................................17








ii

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk sosial dalam kegiatan kesehariannya tentu  banyak melakukan aktivitas interaksi dan komunikasi dengan orang lain, baik itu secara perorangan, antar kelompok maupun antar golongan. Dalam penyampaian informasi tentunya dibutuhkan suatu media yang dapat dipahami oleh mitra interaksi. Tata bahasa yang baik dan benar menjadi kunci penyampaian informasi ataupun gagasan yang akan dikemukakan agar lebih mudah dipahami. Sintaksis merupakan bagian dari linguistik atau ilmu bahasa yang mempelajari struktur frasa, klausa, dan kalimat. Pemahaman tentang ilmu sintaksis menjadi sangat penting bagi kita dalam penataan kata-kata menjadi kalimat sehingga kalimat yang kita produksi menjadi tepat makna baik dalam bahasa lisan maupun dalam bahasa tulis. Dengan memahami sintaksis, dapat dihindari penggunaan kalimat yang ambigu atau mempunyai makna lebih dari satu dalam berkomunikasi.

B.       Rumusan Masalah
1.      Apakah batasan sintaksis itu?
2.      Bagaimanakah struktur sintasis itu?
3.      Apa sajakah satuan-satuan dari sintaksis?

C.      Tujuan
1.      Dapat mengetahui batasan sintaksis.
2.      Dapat mengetahui struktur sintaksis.
3.      Dapat mengetahui satuan-satuan dari sintaksis.




BAB II
PEMBAHASAN

A.      Batasan Sintaksis
Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani, suntattein, yang dibentuk dari sun artinya ’dengan’, dan tattein yang berarti ‘menempatkan’. Istilah suntattein secara etimologis berarti ‘menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat dan kelompok-kelompok kata menjadi kalimat’ (Verhaar, 1992:70,Suhardi,2008:31-32). Kata sintaksis dalam bahasa Indonesia merupakan serapan dari bahasa Belanda, syntaxis, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah syntax (Ramlan, 1987:27 dan Pateda, 1994:85).
Sintaksis menurut Kridalaksana (1983:154) adalah pengaturan dan hubungan antara kata dengan kata, atau dengan satuan-satuan yang lebih besar, atau antara satuan-satuan yang lebih besar itu dalam bahasa. Stryker (melalui Tarigan, 1985:3) menyatakan bahwa sintaksis adalah ilmu yang membahas pola-pola penggabungan kata-kata menjadi kalimat. Sementara itu, Block dan Trager mengatakan bahwa sintaksis adalah analisis konstruksi yang hanya melibatkan bentuk-bentuk bebas. Arifin dan Junaiyah (2008:1) menyatakan bahwa sintaksis adalah cabang linguistik yang membicarakan hubungan antarkata dalam tuturan (speech), dan unsur frase, klausa, dan kalimat. Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sintaksis atau syntax (Ing.) adalah cabang ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk frase, klausa, dan kalimat dengan satuan terkecilnya berupa bentuk bebas, yaitu kata.
Dalam linguistik atau ilmu bahasa terdapat dua tataran, yaitu tataran fonologi dan tataran tata bahasa/gramatika. Sintaksis dan morfologi bersama-sama merupakan tataran tata bahasa, Fonologi merupakan tataran linguistik yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa, morfologi merupakan tataran linguistik yang mempelajari satuan-satuan gramatikal di dalam kata yaitu morfem dan kata, sedangkan sintaksis mempelajari satuan-satuan gramatikal di atas tataran kata, meliputi frase, klausa, dan kalimat (Sukini, 2010:3).

B.       Struktur Sintaksis
Secara umum struktur sintaksis itu terdiri dari susunan subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (K). Menurut Verhaar (1978) fungsi-fungsi sintaksis itu yang terdiri dari unsur-unsur S, P, O, dan K itu merupakan “kotak-kotak kosong” atau “tempat-tempat kosong” yang tidak mempunyai arti apa-apa karena kekosongannya. Tempat-tempat kosong itu akan diisi oleh sesuatu yang berupa kategori dan memiliki peranan tertentu.
Contoh kalimat:
(1)   Nenek melirik kakek tadi pagi.
Subjek, yang berkategori nomina.
Predikat, yang berkategori verba.
Objek, yang berkategori nomina.
Keterangan, yang berkategori nomina.

Pengisi fungsi-fungsi itu yang berupa kategori sintaksis mempunyai peran-peran sintaksis.
Nenek melirik kakek tadi pagi.
                                                         Memiliki peran ‘pelaku’
                                                                     Memiliki peran ‘aktif’
                                                                     Memiliki peran ‘sasaran’
                                                                     Memiliki peran ‘waktu’

Jika kalimat Nenek melirik kakek tadi pagi dipasifkan, maka menjadi Kakek dilirik nenek tadi pagi. Dalam kalimat pasif itu kata kakek yang tadinya mengisi fungsi objek, sekarang mengisi fungsi subjek dan peran tetap ‘sasaran’; verba pasif dilirik sebagai ubahan dari verba aktif melirik sekarang berperan ‘pasif’; nenek yang semula mengisi fungsi subjek dengan peran tetap ‘pelaku’; dan frase tadi pagi tetap mengisi fungsi keterangan dengan peran yang tetap juga, yaitu peran ‘waktu’. Jika dibagankan hubungan antara fungsi, kategori, dan peran sintaksis itu adalah menjadi sebagai berikut: (Verhaar, 1978)
Subjek
Predikat
Objek
Keterangan
Fungsi
Sintaksis

Kategori
Sintaksis

Peran
Sintaksis

C.      Satuan-satuan Sintaksis
1.      Kata
      Menurut tata bahasawan tradisional, kata merupakan satuan bahasa yang memiliki satu pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi, dan mempunyai satu arti.
      Dalam tataran morfologi kata merupakan satuan terbesar (satuan terkecilnya adalah morfem); tetapi dalam tataran sintaksis kata merupakan satuan terkecil, yang secara hierarkial menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frase.
      Dalam pembicaraan kata sebagai pengisi satuan sintaksis, pertama-tama harus dibedakan dulu adanya dua macam kata, yaitu meliputi: a) kata penuh (fullword), dan b) kata tugas (functionword). Kata penuh merupakan kata yang secara leksikal memiliki makna, mempunyai kemungkinan untuk mengalami proses morfologi, merupakan kelas terbuka, dan dapat bersendiri sebagai sebuah satuan tuturan yang meliputi kategori nomina, verba, ajektifa, adverbia, dan numeralia. Sedangkan yang disebut kata tugas adalah kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup, dan di dalam pertuturan dia tidak dapat bersendiri yang meliputi kata-kata yang berkategori preposisi dan konjungsi.
      Kata-kata yang termasuk kata penuh memang mempunyai kebebasan mutlak, atau hampir mutlak sehingga dapat menjadi pengisi fungsi-fungsi sintaksis. Sedangkan yang termasuk kata tugas mempunyai kebebasan yang terbatas. Sesuai dengan namanya, yaitu kata tugas, dia selalu terikat dengan kata yang ada di belakangnya (untuk praposisi), atau yang berada di depannya (untuk posposisi), dan dengan kata-kata yang dirangkaikannya (untuk konjungsi). Kecuali, kalau preposisi atau konjungsi itu menjadi topik pembicaraan, tentu akan tampak bebas.
Contoh kalimat:
-          Pak Ahmad sedang menerangkan cara penulisan awalan di dan kata depan di
(di sini yang dijelaskan Pak Ahmad bukan di itu, melainkan kata depan di dan awalan di)

2.      Frase
a.       Batasan Frase
     Menurut Kridalaksana (1983:46), Cook (melalui Tarigan, 1985:50), dan Samsuri (melalui Arifin, 2008:18), menyatakan bahwa frase adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat.
     Ramlan (1987:151) memberi batasan bahwa frase adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa. Maksudnya, gabungan dua kata atau lebih itu tidak melampaui batas fungsi S (subjek), atau fungsi P (predikat).
Contoh kalimat:
-       Teman adik saya baru tiba dari Jakarta
(terdiri atas tiga frase, yaitu frase teman adik saya, baru tiba, dan frase dari Jakarta)
                 Dari batasan-batasan di atas dapat diketahui bahwa frase mempunyai dua sifat, (Sukini, 2010:21) yaitu:
(a)      merupakan satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih,
(b)     satuan gramatik itu tidak melebihi batas fungsi unsur klausa, maksudnya frase itu selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa.

 Jadi, tidak semua kelompok kata bisa dikatakan sebagai frase karena kelompok kata yang membentuk konstruksi frasa harus mengandung dua sifat tersebut.

b.         Jenis Frase
Dalam pembahasan mengenai frase biasanya dibedakan adanya frase (1) frase eksosentrik, (2) frase endosentrik (disebut juga frase subordinatif atau frase modifikatif), (3) frase koordianatif, dan (4) frase apositif (Chaer, 2012:225).
1)        Frase Eksosentrik
       Frase eksosentrik adalah frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Misalnya dalam kalimat berikut:
-            Dia berdagang di pasar
(frase di pasar, yang terdiri dari komponen di dan komponen pasar. Secara keseluruhan frase ini dapat mengisi fungsi keterangan.  Namun, baik komponen di maupun komponen pasar tidak dapat menduduki fungsi keterangan, sebab konstruksi tersebut tidak bisa diterima.
*Dia berdagang di
*Dia berdagang pasar
       Frase eksosentrik  biasanya dibedakan atas frase eksosentrik direktif dan frase eksosentrik nondirektif. Frase eksosentrik direktif atau frase preposisional komponen utamanya berupa preposisi, seperti di, ke, dan dari, dan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata, yang biasanya berkategori nomina. Misalnya: di pasar, dari kayu jati.
       Frase eksosentrik nondirektif komponen pertamanya berupa artikulus, seperti sei dan sang atau kata lain seperti yang, para, dan kaum; sedangkan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina, ajektifa, atu verba. Misalnya: si miskin, sang mantan.

2)        Frase Endosentrik/ Frase Modifikatif/ Frase Subordinatif
       Frase endosentrik adalah frase yang salah satu unsurnya memiliki perilaku sintaksias yang sama dengan keseluruhannya. Artinya, salah satu komponennya itu dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya. Misalnya:
-            Nenek sedang membaca komik di kamar
(sedang membaca dalam kalimat tersebut komponen keduanya yaitu membaca dapat menggantikan kedudukan frase tersebut, sehingga menjadi kalimat: Nenek membaca komik di kamar)

3)        Frase Koordinatif
       Frase koordinatif merupakan frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat, dan secara potensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif, baik yang tunggal seperti dan, atau, tetapi, maupun konjungsi terbagi seperti baik... baik, makin... makin, dan baik... maupun.... Frase koordinatif ini mempunyai kategori sesuai dengan kategori komponen pembentuknya. Contoh: sehat dan kuat, buruh atau majikan, makin terang makin baik, dan dari, oleh, dan untuk rakyat.
       Frase koordinatif yang tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit, biasanya disebut frase parataksis. Contoh: hilir mudik, tua muda, pulang pergi, sawah ladang, dan dua tiga hari.

4)        Frase Apositif
       Frase apositif adalah frase koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya; dan oleh karena itu, urutan komponennya dapat dipertukarkan. Umpamanya, frase apositif Pak Ahmad, guru saya dalam kalimat (a) dapat diubah susunannya atau urutannya seperti pada kalimat (b).
(a)      Pak Ahmad, guru saya, rajin sekali
(b)     Guru saya, Pak Ahmad, rajin sekali
c.         Perluasan Frase
     Sudah dijelaskan bahwa salah satu jenis frase adalah bahwa frase itu dapat diperluas. Maksudnya, frase itu dapat diberi tambahan komponen baru sesuai dengan konsep atau pengertian yang akan ditampilkan. Misalnya:
-            di kamar tidur
diperluas menjadi, di kamar tidur saya, di kamar tidur ayah, di kamar tidur belakang.
-            seorang mahasiswa
diperluas menjadi, bukan seorang mahasiswa, hanya seorang mahasiswa, bukan seorang mahasiswa kedokteran.

3.      Klausa
a.       Pengertian Klausa
     Menurut Abdul Chaer (2012:231), klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif. Artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen, berupa kata atu frase, yang berfungsi sebagai predikat; dan yang lain berfungsi sebagai subjek, sebagai objek, dan sebagai keterangan. Kridalaksana (1982:85) mengungkapkan bahwa “klausa adalah satuan gramatikal  berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya tediri dari subjek  dan predikat dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat.”

b.      Jenis Klausa
     Dalam bahasa indonesia terdapat bermacam-macam klausa. Berikut dipaparkan jenis-jenis klausa berdasarkan kriteria-kriteria tertentu.
1)   Berdasarkan strukturnya
(a)      Klausa Bebas
Klausa bebas ialah klausa yang memiliki subjek dan predikat, sehingga berpotensi untuk menjadi kalimat mayor. Jadi, klausa bebas memiliki unsur yang berfungsi sebagai subyek dan yang berfungsi sebagai predikat dalam klausa tersebut.
Contoh :
-          Anak itu badannya panas, tetapi kakinya sangat dingin.
-          Dosen kita itu rumahnya di jalan Ambarawa.
-          Semua orang mengatakan bahwa dialah yang bersalah.
(b)     Klausa Terikat
Klausa terikat ialah klausa yang tidak memiliki potensi untuk menjadi kalimat mayor, hanya berpotensi untuk menjadi kalimat minor karena strukturnya tidak lengkap. Kalimat minor adalah konsep yang merangkum: panggilan, salam, judul, motto, pepatah, dan kalimat telegram.
Contoh :
-          Semua murid sudah pulang kecuali yang dihukum.
-          Semua tersangkan diinterograsi, kecuali dia.

2)    Berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya
(a)    Klausa verbal, adalah klausa yang predikatnya terdiri dari kata atau frasa kategori verbal. Misalnya, nenek mandi, kakek menari, dan matahari terbit. Klausa verbal terbagi atas empat jenis, yakni :
o   Klausa transitif, yaitu klausa yang predikatnya berupa verba transitif, seperti nenek menulis surat, dan kakek membaca buku silat.
o   Klausa intransitif, yaitu klausa yang predikatnya berupa verba intransitif, seperti nenek menangis dan paman berangkat ke Medan.
o   Klausa refleksif, yaitu klausa yang predikatnya berupa verba refleksif, seperti nenek sedang berdandan dan dia sudah mandi.
o   Klausa resiprokal, klausa yang predikatnya berupa verba resiprokal, seperti mereka bertengkar sejak kemarin dan keduanya bersalaman.
(b)   Klausa nominal, adalah klausa yang predikatnya berupa frase yang termasuk kategori frase nominal. Misalnya, petani, dosen linguistik, dan satpam Bank swasta.
(c)    Klausa ajektifal, adalah klausa yang predikatnya berkategori ajektifa, baik berupa kata maupun frase. Misalnya, Ibu dosen itu cantik sekali dan Bumi ini sangat luas.
(d)   Klausa adverbial, adalah klausa yang predikatnya berupa adverbia. Misalnya, klausa bandelnya teramat sangat.
(e)    Klausa preposisional, adalah klausa yang predikatnya berupa frase yang berkategori preposisi. Misalnya, nenek di kamar, dan dia ke pasar.
(f)    Klausa numeral, adalah klausa yang predikatnya berupa kata atau frase numeralia. Misalnya, gajinya lima juta sebulan dan anaknya dua belas orang.

4.      Kalimat
a)      Pengertian Kalimat
Keraf (1984:156) mendefinisikan kalimat sebagai salah satu bagian dari ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan, sedang intonasinya menunjukkan bagian ujaran itu sudah lengkap. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) menyatakan bahwa kalimat merupakan bagian terkecil ujaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran utuh secara ketatabahasaan.
     Jadi dapat disimpulkan bahwa kalimat adalah satuan gramatik yang ditandai adanya kesenyapan awal dan kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat itu sudah selesai (lengkap).
b)      Jenis Kalimat
Jenis kalimat dapat dibedakan berdasarkan berbagai kriteria atau sudut pandang, yaitu meliputi:
1)      Kalimat Inti dan Kalimat Non-Inti
Kalimat inti, atau bisa disebut kalimat dasar, adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif atau netral dan afirmatif. Pola atau struktur dalam bahasa Indonesia:
(a)    FN + FV                          :  Nenek datang
(b)   FN + FV + FN                 :  Nenek membaca komik
(c)    FN + FV + FN + FN       :  Nenek membacakan kakek komik
(d)   FN + FN                          :  Nenek dokter
(e)    FN + FA                          :  Nenek cantik
(f)    FN + FNum                     :  Uangnya dua juta
(g)   FN + FP                           :  Uangnya di dompet
Keterangan:

(a)    FN = Frase Nominal
FV = Frase Verbal
FA = Frase Ajektifal
FNum = Frase Numeral
FP = Frase Preposisi


(b)   FN dapat diisi oleh sebuah kata nominal, FV dapat diisi oleh sebuah kata verbal, FA dapat diisi oleh sebuah kata ajektifal, dan FNum dapat diisi oleh sebuah kata numeralia.
Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat noninti dengan berbagai proses transformasi, seperti transformasi pemasifan pengingkaran, penanyaan, pemerintahan, penginversian, pelesapan dan transformasi penambahan.

 KALIMAT      
  INTI

 PROSES
 TRANSFORMASI


 KALIMAT
 NON INTI
 

                             +                                             = 

2)      Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk
Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas satu pola (SP, SPO, SPOK) atau kalimat yang hanya terdiri atas satu klausa. Contoh :
Koko pergi ke pasar
         S        P        Ket
 Toni menanam biji jarak di kebun
         S          P             O           Ket
Berdasarkan predikatnya, kalimat tunggal terbagi atas:
(a)     Kalimat nominal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata benda. Contoh: Ayahnya seorang pelukis.
(b)  Kalimat verbal adalah kalimat yang  predikatnya berupa kata kerja. Contoh : Ani suka makan bakso.
(c)   Kalimat adjektifal adalah kalimat yang predikatnya berupa adjektiva atau kata sifat. Contoh : Soal ini sulit sekali.
(d)   Kalimat preposisional adalah kalimat tunggal yang predikat- nya dari kata depan atau preposisi. Contoh: Tempat tinggal-nya di Makassar
Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk tersusun dari beberapa kalimat tunggal.  Kalimat majemuk dapat dibedakan atas:
(a)    Kalimat majemuk setara/koordinatif.
Kalimat majemuk setara adalah kalimat yang pola-pola kalimatnya memiliki kedudukan yang sederajat. Klausa-klausa dalam kalimat majemuk koordinatif dihubungkan secara eksplisit dengan konjungsi koordinatif, seperti dan, atau, tetapi, dan lalu; namun, tak jarang hubungan itu hanya secara implisit, artinya tanpa menggunakan konjungsi. Berikut beberapa contohnya:
-          Dia datang dan duduk di sebelah saya.
-          Saya ingin turut serta, sayang, ibu tidak mengizinkan.
-          Dia membuka pintu, lalu menyilakan kami masuk.
(b)   Kalimat majemuk bertingkat/ subordinatif.
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang hubungan antara klausa-klausanya tidak sederajat. Klausa yang satu merupakan klausa atasan, dan klausa yang lain merupakan klausa bawahan. Kedua klausa itu biasanya dihubungkan dengan konjungsi subordinatif, seperti kalau, ketika, meskipun, dan karena; namun tak jarang hubungan itu dilakukan secara implisit. Beberapa contoh kalimat majemuk:
-          Kalau nenek pergi, kakek pun akan pergi.
-          Nenek membaca komik ketika kakek tidak ada dirumah.
(c)    Kalimat majemuk kompleks
Kalimat majemuk campuran adalah gabungan antara kalimat majemuk setara dengan kalimat majemuk bertingkat. Misalnya:
-          Nenek membaca komik karena kakek tidak ada di rumah dan tidak ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan.
3)      Kalimat Mayor dan Kalimat Minor
Kalimat mayor adalah kalimat yang memiliki klausa lengkap, sekurang-kurangnya memiliki unsur subjek dan predikat. Contoh :
-            Saya mengantuk.
-            Presiden berkunjung ke Australia.
Kalimat minor adalah kalimat yang klausanya tidak lengkap. Contoh :
-            Sedang makan!
-            Sialan!

4)      Kalimat Verbal dan Kalimat non-Verbal
Kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal, atau kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase yang berkategori verba. Berkenaan dengan banyaknya jenis atau tipe verba, maka biasanya dibedakan pula adanya beberapa jenis kalimat yaitu, meliputi:
(a)    Kalimat transitif, adalah kalimat yang predikatnya berupa verba transitif, yaitu verba yang biasanya diikuti oleh sebuah objek verba tersebut bersifat monotransitif dan diikuti oleh dua buah objek kalau verbanya berupa verba bitransitif. Misalnya: Dika menendang bola.
(b)   Kalimat intransitif, adalah kalimat yang predikatnya berupa verba intransitif, yaitu verba yang tidak memiliki objek. Misalnya: Nenek berlari, Ayah belum datang.
(c)    Kalimat aktif, adalah kalimat yang pradikatnya kata kerja aktif. Misalnya: Kakek menulis surat, Intan menari ballet.
(d)   Kalimat pasif, adalah kalimat yang predikatnya kata kerja pasif. Misalnya: Surat ditulis kakek, Sepeda diperbaiki ayah.
(e)    Kalimat dinamis, adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis menyatakan tindakan atau gerakan. Misalnya: Mahasiswa itu pulang, Dia pergi begitu saja.
(f)    Kalimat statis, adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis tidak menyatakan tindakan atau kegiatan. Misalnya: Anaknya sakit keras, Dia tidur di kursi.
Kalimat nonverbal adalah kalimat yang predikatnya bukan kata atau frase verbal; bisa nominal, ajektifal, adverbial atau juga numeralia. Contohnya:
-       Mereka bukan penduduk desa sini
-       Mereka rajin sekali
-       Penduduk Indonesia 185 juta jiwa
-       Mereka ke pengadilan
5)      Kalimat Bebas dan Kalimat Terikat
Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap, atau dapat memulai sebuah paragraf atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konteks lain yang menjelaskannya. Sedangkan kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap, atau menjadi pembuka paragraf atau wacana tanpa bantuan konteks lain.
















BAB III
PENUTUP

A.      Simpulan
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Sintaksis merupakan bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk kalimat, klausa, dan frase.
Frasa merupakan gabungan dua kata atau lebih yang menempati satu fungsi dan tidak melebihinya. Sedangkan klausa merupakan unsur kalimat yang mewajibkan adanya dua fungsi sintaksis, yakni subjek dan predikat sedang yang lainnya tidak wajib. Untuk kalimat yaitu satuan gramatik yang ditandai adanya kesenyapan awal dan kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat itu sudah selesai (lengkap).

B.       Saran
Dengan disusunnya makalah Tataran Linguistik “Sintaksis” ini, kami mengharapkan pembaca dapat mengetahui kajian sintaksis dan pembaca dapat mengetahui sebenarnya sintaksis itu erat hubungannya dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari.
Makalah ini kami susun hanya berdasarkan sumber-sumber yang kami dapatkan dan makalah ini mungkin masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, jika pembaca mendapatkan sumber-sumber lain yang dapat mendukung perbaikan makalah ini, kami selaku penulis mengucapkan terima kasih.





DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Sukini. 2010. “Sintaksis” Sebuah Panduan Praktis. Surakarta: Yuma Pustaka


Tidak ada komentar:

Posting Komentar